Penampilan Purbaya
Sebelum jadi menteri tubuhnya BERISI,
setelan menjabat menteri jadi KURUS
Beda sekali dgn pejabat yg di bawah
Sebelum jadi pejabat, tubuhnya KURUS,
setelah jadi pejabat, kelihatan lebih BERGIZI..!
Ada rumor yang bilang kalo edisi/cetakan pertama Kambing Jantan ini diboring sendiri oleh Raditya Dika dan keluarganya agar bukunya masuk kategori best seller dan bikin orang tertarik beli.
Dulu pertama kali mengenal Raditya Dika sebagai “anak blog” yang tulisannya absurd, jujur, dan terasa sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Cerita tentang cinta yang gagal, teman yang nyebelin, sampai kejadian receh yang justru jadi lucu karena ditulis dengan gaya Deadpan yang jadi ciri khasnya.
Buku-bukunya seperti Kambing Jantan, Cinta Brontosaurus, sampai Marmut Merah Jambu bukan cuma laris tapi jadi identitas generasi. Raditya Dika saat itu seperti teman yang duduk di sebelah kita, bercerita tanpa berusaha terlihat pintar, tapi justru terasa cerdas karena kejujurannya.
Raditya Dika sekarang berbeda.
Bukan lagi sekadar penulis cerita konyol, tapi kreator yang lebih matang. Podcast tentang hubungan, konten observasi kehidupan, bahkan pembahasan yang lebih reflektif dan filosofis. Humor masih ada, tapi lebih halus dan smart banget. Tidak lagi meledak-ledak, tapi lebih dalam dan improvisasi.
Yang menarik, Raditya Dika sekarang juga banyak dilihat sebagai role model. Bukan karena hidupnya glamor, tapi justru karena terlihat sederhana. Hidup tenang, keluarga kecil, pilihan hidup yang realistis dan cara dia bicara tentang uang, karier, serta kehidupan terasa semakin relevan.
Ia tidak lagi sekadar membuat orang tertawa, tapi juga memberi perspektif. Tentang pentingnya mengatur keuangan, membangun karier jangka panjang, dan menjalani hidup tanpa harus terlihat sibuk mengejar validasi.
Dulu Raditya Dika membuat kita tertawa karena “hidupnya berantakan”. Sekarang Raditya Dika membuat kita tersenyum karena “hidupnya mulai tertata”.
Mungkin itu bukan cuma perubahan Raditya Dika. Tapi juga perubahan kita yang tumbuh bersamanya. Dulu kita tertawa karena patah hati pertama. Sekarang kita tertawa karena tahu hidup memang seperti itu.
Raditya Dika dulu terasa seperti teman sebangku. Raditya Dika sekarang terasa seperti teman lama yang sudah banyak belajar.
Letak menariknya kita tidak kehilangan Raditya Dika yang lama. Kita hanya melihat versi yang lebih dewasa.
Menurut kalian dalam posisi sekarang ini, lebih relate Raditya Dika dulu atau sekarang? Atau justru kamu tumbuh bersama perubahan itu?
Reply di bawah 👇
Mungkin ada yang penasaran, kok bisa sih Amerika jadi negara terkuat di dunia?
Gimana awal mulanya? Kok bisa bisanya jadi negara paling berpengaruh di dunia sampe banyak pemimpin negara negara nurut aja apa kata Amerika?
Kok bisa pada takut sama USA?
Gini rangkumannya..
Ada fakta lebih ngeri lagi sih sebetulnya, klaim kemenhut mungkin benar ini bukan illegal logging yg artinya pemerenta segampang itu ngasih ijin konsensi hutan dan malah akan melindungi konglo2 ini
Saya udh menahan tidak upload soal rahasia umum ini ! Akhirnya pecah ! Video ini baru kejadian sore ini.
Yang saya heran dan kagetkan kenapa untuk MINTA MAKAN musti dipersulit . Ada oknum2 di posko bantuan yang minta KK , KTP.
Astaghfirullah . Mereka selamat dari bencana tapi tidak selamat dari kelaparan. Donasi makanan ditumpuk2 dan baru dibagikan malam. Dan kebanyakan sudah basi.
Itupun tidak merata. Padahal alasan awalnya “biar kami yang bagikan biar merata”. Tapi rata2 yg terjadi dilapangkan malah sebaliknya. Jujur saya bingung dengan SOP di posko bencana ini.
Bukannya posko bencana memudahkan utk segera sampai ke masyarakat? Keadaan sudah susah malah ditambah susah! Jd yg gak punya ktp / kk ga bisa dpt bantuan ? Semua terdampak disini. mau kaya mau miskin semua butuh bantuan. Boro2 mikirin dokumen saat bencana Pak,Buk. Mereka selamat aja udh syukur.
Sumber :ayuwisya
Saya yg bodoh tidak berpendidikan jadi dong dan mengerti setelah dapat share dr kawan : hitungan Alumni ITB jur matematik menganalisa kenapa terjadi banjir di Sumatra..👇