Suatu pagi di IGD, Saya kedatangan suami istri usia 40an yg pernah saya temui tahun lalu, "Hallo Dok, masih ingat kami?" Sapa suaminya, sambil memapah istrinya yg trlihat sgt lemah. "Oiya pak, ingat." Saya ingat karena wajah suaminya, karismatik, dengan tulang pipinya yg menonjol.
Sekilas mirip Thom Shelby tapi versi Jaksel, yang sejujurnya saya sedikit lupa adalah istrinya, saya pangling karena dulu tidak sekurus ini, perkiraan saya selisih 30 kilo dengan sosok yang sama di memori kepala saya. "Ibu kenapa pak?" Saya tanya ke suaminya, "sesak nafas dok."
Jawab pak Thom dengan suara khasnya yg nge-bass, Saya lalu mengernyitkan dahi, memperhatikan ibu dari ujung kepala sampai kaki, lingkar matanya, kulit keringnya, berat tarikan nafasnya, this is not good, "Ella, bantuin ibu ke bed resus. Cek ttv, Pasang monitor, pasang oksigen."
Ella mengangguk cepat, mendampingi Ibu dengan lembut dan hati-hati. Begitu ibu berbaring, saya melihat suaminya mengeluarkan setumpuk berkas dari dalam tasnya
"Ini, Dok. Resume medis istri. Sempet di ICU, 2 minggu lalu sempet membaik dan boleh pulang, sekarang ngedrop lagi." ucapnya pelan.
Saya membuka dokumen itu satu persatu, kop surat RS Kanker. Saya menelusuri setiap lembar dan baris. Diagnosis, kanker payudara, dengan metastasis ke paru-paru dan kolon. Saya menarik napas dalam โ operasi radikal mastektomi, kemoterapi, radioterapi. Semua sudah dilalui ibu.
Saya menoleh ke arah suami, tampak garis-garis keras terukir di dahi dan sudut mata oleh beban kepedihan, tapi di matanya tampak cinta yang bergelora untuk sosok yang terbaring lemah dan kesakitan di bed resus."baik pak, dimengerti." Saya mengembalikan lagi dokumen2 tersebut.
"Dok, tensi 90/60, nadi 100, rr 30, saturasi 85%" teriak Ella, "la, pasang NRM 15 liter." Ella mengangguk, Saya memeriksa fisik ibu, Stetoskop saya ke paru2, jantung, dan usus. Ibu tampak kesakitan berat, meringis menahan sakit, "Gus, pasang infus, Bowo ambilin Tramadol." Mereka berdua berkelebat pergi.
Kami mengelilingi ibu, melakukan tugas kita masing-masing, sambil saya terus memantau monitor. Tapi dalam beberapa menit kemudian kondisi tidak membaik, kondisinya memberat, saturasi cenderung terus turun. "Gus, bagging." Saya mencopot NRM ibu. Agus dengan 2 jari di sungkup dan 3 jari di rahangnya memompakan balon oksigen dengan tangan kanannya tiap 3 detik.
Tapi saturasi terus turun. Di saat itu, saya memutuskan langkah terakhir yang bisa kami lakukan. Saya pakai handscoen, "Bowo, ambilin laringoskop." alat berbentuk cangkul logam dengan ujung bercahaya yang biasa saya gunakan untuk membuka jalan napas saat melakukan intubasi. Bowo datang lengkap dengan ETT no.7.
Saya memasang blade laringoskop ke handlenya seperti memasang magasine ke pistol, Tapi saat saya mendekati ibu, suaminya tiba-tiba maju, tangannya menahan pergerakan saya.
โDok... mau ngapain, dok?โ tanyanya dengan suara berat yang terdengar bergetar. Wajahnya penuh rasa sakit, seolah-olah pertanyaan itu lebih sekadar kata-kata dari seorang suami yang sudah lelah menyaksikan penderitaan wanita yang dicintainya. "Pak, ibu perlu alat bantu nafas."
โJangan, Dok. Cukupโฆ cukup sudah." Tangannya gemetaran memohon. "Istri saya sudah cukup menderita selama ini,โ katanya, suaranya hampir pecah. โSemua alat sudah pernah masuk ke tubuhnya, Dok. Tubuhnyaโฆ sudah penuh bekas suntikan.โ
Saya berdiri terpaku. Saya tau ventilator ini bisa memperpanjang hidupnya, tapi saya sadar penuh bahwa alat ini tidak akan menyembuhkan, Kanker ini tidak akan pergi hanya dengan ventilator. Dia mengeluarkan gelang ungu (DNR) bertuliskan nama istrinya, โDia permata hatiku, Dok. Jangan disakiti lagi.โ,
Saya menurunkan laringoskop, lalu mengangguk ke suaminya.
Suaminya berbalik lagi ke istrinya, merunduk di sebelah ranjang,Dia menatap istrinya, memeluk tubuh lemah istrinya dengan lembut. Dengan suara rendah dan penuh kasih, ia berkata, โAku sayang kamuโฆ sayang sekali, kamulah hidupku,โ
bibirnya bergetar, matanya berkaca-kaca.
Suka bingung cari tempat nginep di Kota Malang kl pergi rame-rame? Nginep di Sleep Inn ajaa @infomalang ๐ Ada pilihan inap 24jam sesuai jam check-in, berkapasitas 4-6pax & free snack! โบ๐ซถ
๐Sulfat-Kota Malang
๐ฐ435.000
Chat for more info :
๐ฌ08977449054
#pasarmingguinfomalang
Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI menerima laporan seorang WNI inisial DI tewas akibat banjir bandang yang terjadi di Hong Kong. Korban ditemukan dalam kondisi tak bernyawa. Jenazah DI saat ini telah dievakuasi dan berada di RS Hong Kong.