Enam bulan pasca-bencana, anak-anak di Pante Ceureumen, Aceh Barat, masih harus menyeberangi sungai demi pergi ke sekolah. Satu-satunya jembatan yang ada di dekat sekolah mereka masih rusak.
Kami lelah dengan dialog palsu yang dipenuhi kekerasan, intimidasi dan penangkapan setiap harinya! Wujudkan partisipasi bermakna sekarang juga!
Gue juga mendapat kabar dari @.bintang_msa16 Ketua @.semaugm.official yang baru melanjutkan @.tiyoardianto_ bahwa pasca demonstrasi kemarin di UGM mereka sedang mencari safehouse karena dalam situasi tidak aman dan terancam.
Kita doakan selalu keselamatan!
🚨🚨🚨
pernah denger sidikalang?
ya, salah satu daerah penghasil kopi robusta terbaik di indonesia, kini tanah penghasil kopi ini terancam keberadaan tambang PT Dairi Prima Mineral (PT DPM).
sebagai yang terlahir di Sidikalang, tumbuh besar dari hasil kopi dan dan sekarang setiap butir nasi yang masuk ke perut ini adalah hasil dari kopi sidikalang, jelas menolak keberadaan PT. DPM.
warga dairi jelas menolak keberadan tambang PT. DPM yang berpotensi merusak hasil tani dan merusak alam dairi dapat menimbulkan bencana.
warga Dairi dan organisasi masyarakat sipil telah dan akan akan melaporkan lagi menteri lingkungan hidup ke Ombudsman Republik Indonesia dan ke Komnas Perempuan.
Mohon dukungan kawan kawan sekalian bagi kami warga dairi...
kalau kawan kawan disana berjuang agar pemerintah mengevaluasi perekonomian dan kebijakan indonesia, kami disini berjuang menyelamatkan tanah kelahiran kami.
kita sama sama berjuang, sampai menang.
sc video: Yasasan Diakonia Pelangi Kasih
🚨Update : BEM UGM, 13 Juni 2026
bahkan disaat hujan saja kawan2 Mahasiswa UGM tetap berusaha berjalan menyampaikan aspirasi tuntutan buat kalian yang dukung & yang bilang mereka MAHASEWA & AKSI BAYARAN.
cc:presiden.netizen.indonesia
"Kami memaksa masuk karena ini adalah hak kami untuk bersuara, hak kami untuk berpendapat, itu diatur dalam Undang-Undang Dasar," kata Koordinator lapangan aksi demo mahasiswa di Bundaran HI, Albani Ilmi pada Jumat (12/06).
Perwakilan BEM UI menyampaikan sikap :
"Ekonomi tumbuh di atas kertas, tapi di lapangan rakyat dihantam harga beras, pajak mencekik, dan susahnya cari kerja. Sementara elite sibuk memoles citra dan bagi-bagi proyek ke kroni. Narasi kemajuan palsu ini sudah terbongkar."
"Kalian boleh saja abai dan menganggap remeh aksi hari ini. Tapi ingat, gerakan mahasiswa akan berlipat ganda dan tidak akan membiarkan kekuasaan yang abai tidur nyenyak. Ini suara dari rakyat, oleh rakyat, untuk penguasa yang bebal."
.
Ketua BEM UI Yatalathof Ma'shum Imawan mengungkapkan Bundaran HI dipilih karena mahasiswa tak lagi percaya dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) maupun pemerintah.
untuk kakak-kakak mahasiswa yang sedang turun ke jalan, maaf karna tidak bisa ikut berdiri bersama kalian.
tapi percayalah, jarak tidak membuat kita berhenti terhubung dan peduli.
tugas kalian adalah menyuarakan aspirasi. tugas kami adalah terus mengawal, menyebarkan, dan memastikan suara itu tidak hilang di tengah jalan.
jika tidak mendapat ruang yang cukup di media nasional, kami akan mencari cara agar dunia tetap mendengar dan melihat kalian👊
sc threads|owooppa
Kepada para pemimpin republik, kami orang muda bukan musuh bangsa ini. Jangan kerahkan tentara dan polisi untuk membatasi suara kami.
Ajak kami berdialog dan penuhi tuntutan kami. Kami bukan penyebab krisis, para pejabat brengsek itu adalah penyebab kekacauan ini.
Jika MBG dihentikan, bagaimana dengan nasib 1,5 juta penggerak SPPG & supplier bahan makanan?
Saya tidak tahu, dan tidak mau tahu juga. Karena sejak awal realisasi program ini, kan, ngotot "demi" gizi anak-lansia-bumil. Maka, perhatian saya ada di sana, bukan yang lain.
Kalau program ini benar-benar murni demi gizi anak-lansia-bumil, kenapa harus bikin rantai pasok sebesar itu yang ujung-ujungnya cuma bikin ketergantungan massal pada APBN?
Mereka yang ngotot dari awal apakah tahu persis bahwa ini bukan solusi gizi tapi mesin politik untuk bagi-bagi proyek?
Sekarang, tiba-tiba 1,5 juta orang jadi korban ketika programnya dihentikan (setelah mantan Kepala BGN-nya ketahuan korup), apakah mereka dari awal tidak tahu bahwa mereka cuma jadi alat untuk narasi “peduli rakyat” yang murahan?
Siapa yang salah kalau akhirnya nasib mereka terkatung-katung? Warga Indonesia selain 1,5 juta itu? Lho, bukan mereka yang memaksa "program gagal" ini jalan.
Lagian, kalau gizi anak-lansia-bumil memang prioritas utama, kenapa tidak langsung kasih dana tunai ke keluarga daripada lewat supplier dan penggerak yang entah berapa persennya cuma jadi perantara rente?
Seharusnya 1,5 juta penggeral SPPG harus menagih tanggung jawab ke mereka saja, bukannya ngasih tahu warga tentang kondisi mereka yang terkatung-katung itu.
Jadi, ya, jangan salahkan yang kritis dan protes sejak awal. Yang salah justru mereka yang ngotot program ini “harus” jalan, tanpa hitung-hitungan matang soal keberlanjutan, dan dampak jangka panjangnya.
Nasib 1,5 juta orang pengegrak itu, kan, konsekuensi logis dari kebijakan yang dibangun di atas "sandiwara gizi", bukan atas dasar akal sehat, to? Sementara kalian, kan, mengambil itu atas dasar ekonomi, to?
Kenapa harus mengadu ke rakyat non-1,5 juta itu?
NB: 1,5 juta itu bukan "relawan", ya. Mereka digaji pakai APBN. Tidak bisa disebut relawan karena mereka dibayar untuk melakukan pekerjaan itu.
Dan ternyata tidak begitu pecus.
Berikut video analisa saya berjudul "Rakyat gaduh : Presiden Prabowo 1 dari 6 hari berada di luar negeri ? 5 saran saya". Semoga didengar Pemerintah. Silahkan dikomentari, dibahas, disebarkan, dikutip & boleh juga diliput media. Salam, Dr. Dino Patti Djalal