@azamuddin91 AI emg bikin kita jadi banyak ide, tapi yg susah yaitu translate ide nya ke business model. Jadi ya mungkin utk hobby fine2 aja. Kalau mau komersil ya itu td, apakah bisa d translate jadi business model apa ngga, dan apakah marketnya ada dan apakah bakal ada yg pake apps nya
INI LUCU BANGET DEMIALLAHHHHHHHHHHHHHHH WKWKWK
kemarin nemu 2 pokemon tekbros:
โข tekbros yang kasih SP ke intern karena gagal nyelesain task nonton film & encourage pembajakan film/minjem akun Netflix temen;
โข tekbros yang nyamain kultur kerja abusif sama kayak film The Devil Wears Prada.
hari ini ADA LAGI:
โข tekbros yang nyamain perintah sholat Allah = perintah owner & kasih saran karyawan buat nego ke atasan selayaknya Nabi Muhammad nego jumlah waktu sholat ke Allah.
NGAKAK. ๐ญ
kata gue lu tekbros tekbros yang kayak begini nih stop deh merasa keren kerja begadang sampe mampus.
istirahat yang cukup, kurang-kurangin junk food, hit the gym, read classics & jalan pagi/sore di ruang terbuka.
udah pada ngablu gini soalnya, kasian. ๐
@lucaxyzz Bisa double job ga nih? Exp 5 years pernah megang azure, aws, jenkins, ada exp jg build CICD from scratch buat multiple apps container based๐
Dari kasus ini kita belajar, jangan mau ber project dengan pemerintah, sayang sekali negara ini negara kaya, tp banyak org2 yg ingin memperkaya diri sendiri dengan mengorbankan org lain. Semoga allah turunkan keadilan buat kasus ini
Mengapa Negara Menzalimi Suami Saya, yang Tulus Berkorban Banyak Untuk Negara?
Sebagai istri, sakit hati rasanya. Enam belas tahun aku kenal Ibam, dia ngga money oriented. Niatnya tulus. Kalau sudah mau bantu, dia akan benar-benar bantu.
Ibam dituntut penjara 15 tahun dan harus bayar Rp16,9 miliar, kalau tidak maka pidananya ditambah 7,5 tahun.
Berarti, Ibam dituntut 22,5 tahun penjara.
Ibam, yang pernah menolak tawaran puluhan miliar karena merasa misi bantu negara lewat bangun teknologi masih belum selesai.
Sekarang ironisnya dituduh korupsi. Padahal sampai 57 saksi diperiksa, tidak ada satu pun bukti Ibam memperkaya diri. Tidak ada konflik kepentingan untuk memperkaya orang lain.
Dia hanya konsultan teknis, rela tolak tawaran asing, turun gaji demi negara, ngga punya jabatan dan kewenangan, selalu profesional dan netral dalam kasih masukan, tapi terjebak dalam pusaran para elite birokrasi.
Masukan teknis Ibam yang sudah terdokumentasi baik, transparan akan kelebihan dan kekurangan, diceritakan sepotong-sepotong saja oleh pejabat pengadaan. Sehingga seakan-akan Ibam memaksa hanya Chromebook.
Untungnya, Ibam punya banyak dokumentasi yang sudah jadi bukti di persidangan. Sudah terungkap di sidang bahwa:
1. Ibam bukan pejabat, tapi konsultan yayasan. Gaji Ibam sama sekali bukan dari APBN.
2. Ibam baru kenal Nadiem setelah dia jadi menteri. Ngga ada persekongkolan, dan ngga pernah ketemu personal.
3. Di banyak bukti chat & notulen rapat: Ibam tidak mengarahkan pengadaan, tidak buat kajian, bahkan Ibam minta kementerian untuk uji Chromebook dulu.
4. Pejabat Eselon I akhirnya mengakui: dia yang menolak masukan pengujian Ibam, dia yang memutuskan Chromebook lewat SK yang dia keluarkan.
5. Ahli IT telah menyatakan masukan Ibam sudah netral dan profesional, sesuai best practice keahlian, serta benar dalam menyerahkan keputusan ke kementerian.
Puncaknya, nama Ibam dicatut ke dalam SK pengadaan yang tidak pernah dia ketahui sebelumnya. Dalam pengesahan kajian Chromebook yang ditugaskan SK, tidak ada tanda tangan Ibam.
Terungkap juga di sidang, belasan pejabat, termasuk yang berupaya โmenyalahkanโ Ibam, mengakui telah menerima ratusan juta rupiah suap dari vendor. Namun mereka semua bebas, tidak ada yang jadi tersangka.
Disaat mereka bebas, Ibam ditahan dan dituntut penjara. Bagiku perkara ini jelas. Suamiku bukan pelaku, tapi korban permainan elite birokrasi yang seenaknya melempar semua keputusan mereka pada Ibam.
Sekarang, kami hampir sampai di ujung jalan.
Ibam dituntut 22,5 tahun penjara.
Dua terdakwa lain, pejabat Eselon II di Kemendikbud, yang mengatur pengadaan dan sudah mengakui ada aliran dana sampai miliaran rupiah, dituntut 6 tahun saja.
Semakin kontras ketika surat tuntutan sendiri mengakui: tidak ada aliran dana ke Ibam.
Tuntutan bilang di laporan SPT 2021, kekayaan Ibam naik Rp16,9 miliar. Ibam sudah tunjukkan bukti di persidangan kalau itu dari saham Bukalapak yang didapat jauh sebelum Ibam menjadi konsultan Kemendikbud, tidak ada kaitannya sama sekali dengan Chromebook atau Gojek.
Bukti itu ditolak JPU dalam tuntutannya. Mereka bilang karena Ibam sudah resign, sahamnya hangus. Mereka tidak paham kata-kata dalam surat pemberian saham, bahwa yang hangus hanya โsaham yang belum diberikanโ. Padahal, sebelum resign juga ada sebagian saham yang sudah diberikan.
JPU menyatakan, karena mereka tolak bukti itu, Rp16,9 miliar Ibam diduga hasil korupsi, jadi mereka tuntut 15 tahun ditambah 7,5 tahun.
Bagi kami, ini puncak dari kezaliman. Ibam yang tidak pernah, sekali lagi, TIDAK PERNAH ADA ALIRAN DANA SAMA SEKALI, dikriminalisasi atas prestasinya bantu negara, yang tidak ada hubungannya dengan perkara.
Dua minggu lagi putusan Ibam akan dibacakan oleh Majelis Hakim, kami tetap berharap keadilan putusan bisa sesuai dengan fakta persidangan.
Karena, ini bukan sekedar perkara hukum, ini menyangkut nasib seseorang, masa depan keluarga kami, anak-anak kami, serta kemerdekaan kami sekeluarga.
Setahun terakhir ini adalah masa yang sangat berat bagi kami. Keluarga kami kehilangan penghasilan, kesehatan jantung Ibam kian memburuk, bahkan tabungan hidup kami terkuras habis untuk biaya medis dan biaya hukum.
Namun, aku bersaksi bahwa Ibam adalah seorang perintis. Hidupnya penuh perjuangan dari kecil, insya Allah kami siap bangun dari nol lagi.
Hanya saja, jika pengabdian untuk Indonesia harus dibayar semahal ini. Jika bukti persidangan sudah seterang ini, dan jika upaya mengkambinghitamkan Ibam sudah sekentara ini, dia tetap dipenjara puluhan tahun...
Ini adalah ketidakadilan yang teramat pahit.
Bukan hanya bagi Ibam, tapi bagi siapa pun yang pernah atau akan bantu bangsa ini dengan niat tulus.
Apa memang berbakti bagi merah putih seberbahaya ini?
Apa memang tidak ada keadilan bagi orang jujur yang sudah berkorban banyak bagi negara?
Tolong bantu kami mencari keadilan untuk Ibam selagi masih ada waktu. Mohon bantu bagikan tulisan ini, pada rekan atau kerabat, konsultan atau pejabat, siapapun yang bisa bantu menyuarakan keadilan dan memberi perhatian.
Agar tidak ada lagi profesional seperti Ibam yang jadi korban kriminalisasi.
Jakarta, 16 April 2026
Ririe - Istri dari Ibrahim Arief (Ibam)
@ainunnajib@ustadzkhalid Allahu yahdik, ini org kemaren udh kena rujak netizen krna tweet2 nya skrg nyenggol ust khalid, bener2 ga belajar dari pelajaran ente @ainunnajib
Spying, Espionage and Industrial Theft: The Definition Needs to Be Rewritten
What just happened in the AI industry is bigger than a simple terms of service violation. It is an arms race moment.
Not a lone hacker working alone. Not a spy meeting in secret.
Instead, 24,000 fake accounts hit Claude with more than 16 million carefully targeted questions. They came in coordinated waves.
Three big Chinese AI labs (DeepSeek, Moonshot, and MiniMax) ran a large operation to pull advanced skills straight out of Anthropicโs model and put them into their own systems.
This was not normal prompting. This was taking capabilities at a very large scale.
The operation that should not have been possible
Anthropic shared the details yesterday and they are shocking.
MiniMax alone made over 13 million requests. They focused on coding that uses tools and full actions. Moonshot and DeepSeek added millions more. They went after step-by-step thinking, reward systems, and learning structures.
They created large networks of fake accounts. These accounts switched automatically when one got blocked. They mixed normal traffic with the real work and spread the load.
The questions were very specific. They asked Claude to show every step of its thinking. They repeated the same patterns thousands of times to create perfect training data.
This was not simple curiosity. This was planned collection of knowledge.
How they got caught
It was not one bad question. It was smart pattern checking.
They saw sudden spikes in traffic from thousands of accounts at the same time. They saw shared payment details. They saw the same question formats again and again. The setup looked very coordinated.
They used IP addresses, other data signs, and public timelines to connect the dots.
The most striking part? One lab changed their traffic within 24 hours after Anthropic released a new version of Claude. They quickly moved to pull the new skills.
This was not normal users. This was watching a competitor at machine speed.
Why this changes everything
The most advanced AI models have strong safety rules built in. These rules stop help with dangerous things like bioweapons or major cyberattacks. When someone copies the power without the safety rules, the risks become much higher.
On the world stage, the US has used chip export controls to slow things down. This method of copying goes around those controls. It turns the game from hardware limits to protecting knowledge itself.
Money wise, building one of these top models costs billions and takes years. This copying method cuts the time and cost a lot. The gap between leaders and followers can close very fast.
And trust? Every single API call now feels like possible spying. Companies will add stronger checks, watch behavior more closely, and keep systems more closed. The open access period is ending quickly.
This is the new reality: the extraction race
Here is the deeper point. AI is no longer just a technology race. It has become an extraction race.
Knowledge now moves not only by building from scratch but by copying at huge scale.
Once intelligence can be taken this easily, keeping control becomes much harder than creating it.
We just saw the first big public example of this shift.
The definition must change
Old spying meant dead drops and stolen hard drives. Old industrial theft meant stolen patents or factory secrets.
Now? It is large scale, automated pulling of an entire advanced AI mind through millions of normal looking questions.
We need new words. We need new rules. We need new ways to handle this.
The operation has already happened.
The only question left is this:
Who will write the new rulebook before the next 16 million questions start?
Made a cross-platform virtual workspace with a tiling window manager fully using C including the GUI that works with Windows and Linux. This can arrange the windows like the WMs (hyprland, i3, etc) also manage a virtual workspace like macOS does
Try it: https://t.co/E8MbzvK2XM
โ ๏ธ ALERT โ A critical RCE flaw (CVSS 9.9) was found in the n8n workflow automation platform.
CVE-2025-68613 lets authenticated users execute arbitrary code, enabling full instance takeover, data access, and system-level actions.
More than 103k exposed instances are observed globally.
๐ Details โ https://t.co/o1aOR1YqIv
@ariaghora#PamerAjaDulu
Not a fancy stuff, cmn bikin auto reload command aja, tp ini yg bkin produktif sehari2 karena gaperlu reload2 aplikasi lg klo lg debug krna udh auto reload ๐ dan bisa custom command nya
https://t.co/QDGtXP1j4j
Just built a lightweight hot reload tool that automatically restarts your applications when source files change. No more manual restarts during development!
github: https://t.co/nen6sIgVTx
#developers#SoftwareEngineering#cpp
How to be a Principal Engineer/Senior Principal Engineer/Senior Architect/fancy-sounding-title Engineer, a thread:
1. You're evaluated on how much more the company succeeds because you're there, not the lines of code you wrote. If you can unblock someone, do that. If you need to kill a two year project that's not going anywhere, do that. Do what is right, not what makes you look good.
Tinggal d perkampungan, setiap setengah jam sebelum subuh atau jam 4 pagi selalu berisik toa masjid kek gni! ada solusi ga ya? Orgnya udh pernah gw tegur lgsg seems bodo amat, dulu pernah anak gw bangun nangis grgr ini pas umurny 3 bln, nelpon polisi kek nya ragu bakal selesai