Kalo cmn demo, ujungnya adalah "oh se-represifnya negara masih ngasi tempat buat opini"
Kalo mmg mau forcing their hands, ada dengan cara mogok kerja (general strike), lumpuhnya aktivitas ekonomi bakalan bikin mereka mikir ulang.
But we're not someone that have nothing to lose.
Awalnya, saya mikir begini:
"Elu pikir kita semua goblok dan tolol, gak bisa protes?"
Tapi ternyata lebih dalam, mereka udah di level ini:
"Gue tau kalian semua bakal protes. Tapi peduli amat. Emang kalian semua bisa apa?"
sbg org yg borderline anti-fiksi (but still read it from time to time): mending lu baca fiksi dibanding self-help, bnrn.
kinda bookshaming, but most self-help are trash and regurgitating same point over and over, buat apaan? Klo emang baca non-fiksi at least pick a good one.
Gw akui, sempet kepikiran utk nyari duit via joki, tpi gw langsung call nyokap utk minta pendapat. Nyokap langsung ga restu, mending gausah kuliah kalo emg ga sanggup.
Gw bkn orkay, pinter jg kagak, tpi ngeliat diskursus joki gw jadi sadar.
Lu pada gamau usaha bangsat!
Utk lu semua yg ngebela, apalagi pake joki, gw doain tangan lu tiap mau megang sesuatu langsung tremor kek org parkinson!
Punya beban moral tpi ga seberat beban keluarga ga makan? Keluarga lu makan uang haram! Moral tinggi? Iya! Gw diajarin nyokap utk cari uang halal!
lbh ke US culture ini, krn sudah mengakar kalau hidup itu "sakarepmu" alias individualis. Itupun tergantung, selatan US itu lbh family-oriented dibanding utara.
Kembali menegaskan kulit putih itu alien. Seluruh budaya di dunia ga ada yang begini. Tinggal serumah dengan orang tua bahkan sampai beranak cucu jauh lebih umum di berbagai belahan dunia tapi they have the audacity to mock it.
1. I literally don’t even know who the @nytimes is for. Canceling my subscription, finally
If you want accurate coverage of Israel / Palestine + the Middle East at large, I recommend the following outlets:
Dulu gw diajarin klo misalnya masalah syariat ini, kalau sdh baligh, ckp diingatkan. Misalnya ttp kekeuh gamau ikut syariat, itu urusan dia dgn Allah.
Ortu misalnya, sdh mendorong anak utk berhijab atau sholat, tapi sang anak gamau. Yasudah, kewajibannya hangus, dan dosa-free.
Ini salah satu alasan kenapa hijab seharusnya ga dipaksakan
Supaya orang2 yg memakainya adalah mereka yg benar2 niat untuk menjalankan ajaran agamanya, bukannya dipake oleh orang2 macam ini
Kyk begini bukannya org respect justru makin benci seolah-olah yg terjadi itu semua tuduhan tanpa berdasar.
Padahal kang sendiri yg bilang sdh mulai case itu dari 2013. Jaman aing SD tuh brarti, bawa-bawa negara lagi aduh posisi Leninis (Tankie) inimah.
Again, i can offer nothing but heartful prayers utk para korban, semoga kasus ini bisa tuntas secara menyeluruh dan korban dapet keadilan seadil-adilnya. Buat pelaku semoga bisa bertanggung jawab.
Walaupun gw sendiri ttp geleng kepala knp harus jatuh ke kubangan model beginian.
Malu-maluin asli. Padahal sering bicara ttg kesetaraan gender. Familiar juga dgn literatur kiri-progresif yg tdk hanya anti prostitusi dan seksis dari aspek moral, tapi juga aspek eksploitasinya.
Thought u were better than this, Kang.
Mau bagaimanapun, kekerasan seksual itu hal serius. Anak2 yg diajar doi dan temen2 satu komunitasnya malu. Kelasnya dulu pernah bahas feminisme. Tapi ngapain dibahas kalo ujungnya jadi tameng.
Freud jadi gila ya pikiran, Reich gila ya dipikiran. Jangan kyk Foucault yg gila bnrn.
@irwndfrry 3. Penggunaan term sains-pop saya akui emg kesannya ngejudge, untuk itu saya minta maaf. Tapi kalo saya pribadi yang melihat konten Malaka Project ini sepertinya masih berlari ke arah populer. Sampai tahap mana kira-kira popularisasi knowledge ini?
@angewwie@kelasisolasi boleh sih, tpi ya pembahasan jadi simplified juga. Apalagi buat kebanyakan kita-kita yg kurang referensi dan kurang skeptis.
Aku sendiri agak bimbang urusan popularisasi begini, but well... we still have a long way to go.