Anak tetanggaku nggak ikut les apapun.
Nggak les matematika. Nggak les Inggris.
Nggak les coding. Umur 10 tahun.
Sepulang sekolah main.
Ibu-ibu komplek sudah lama geleng-geleng.
Di grup WhatsApp komplek, topiknya selalu sama. Anakku baru mulai les piano. Anakku ranking 1 lagi, Alhamdulillah. Anakku ikut olimpiade sains minggu depan. Ibunya si anak itu diam saja. Nggak pernah posting apapun.
Arisan komplek bulan lalu.
Seorang ibu nyeletuk langsung ke dia:
Nggak khawatir?
Anak sekarang kalau nggak diasah dari kecil,
nanti ketinggalan.
Ibunya senyum. Di asah kok. Tapi caranya beda. Di asah gimana? Les apa? Bukan les. Aku ajak dia ngobrol setiap malam. Beberapa ibu saling pandang.
Ngobrol doang? Iya. Tentang apapun yang dia mau ceritain hari itu. Aku nggak boleh pegang HP waktu dia ngobrol. Aturannya cuma itu. Ruangan mulai senyap.
Terus anaknya nggak ketinggalan pelajaran? Kemarin gurunya nelpon. Semua menunggu. Pasti ada masalah, pikir mereka.
Gurunya bilang, anakku satu-satunya murid yang kalau ada teman kesulitan dia yang pertama nawarin bantuan. Bukan karena disuruh. Tapi karena dia mau. Gurunya bilang itu langka sekarang. Satu meja. Senyap.
Ibu yang tadi nanya anaknya ikut 4 les sekaligus. Senin matematika. Rabu Inggris. Jumat coding. Sabtu piano. Minggu lalu anaknya nangis di mobil sepulang les. Bilang capek. Bilang nggak mau sekolah lagi. Dia nggak cerita itu di grup.
Yang paling membekas adalah ini. Aku tanya ke ibunya setelah arisan bubar: Bu, nggak takut anak ibu nggak bisa bersaing nanti?
Dia jawab pelan: Aku lebih takut anakku bisa bersaing — tapi nggak tahu caranya berteman. Bisa juara — tapi nggak tahu caranya mendengarkan orang lain. Pintar — tapi kesepian. Itu yang aku takuti. Bukan nilai rapornya.
Aku pulang arisan. Anakku lagi hafalan perkalian untuk persiapan les besok. Aku tanya: Hari ini gimana, Nak? Dia jawab nggak sambil liat aku. Fokus ke buku. Aku nggak ingat kapan terakhir kali dia cerita sesuatu ke aku dengan mata berbinar.
Ibu itu nggak anti les. Nggak anti prestasi. Dia cuma nggak mau anaknya tumbuh jadi orang yang bisa segalanya - tapi nggak punya siapapun untuk diajak berbagi. Dan malam itu aku sadar - aku sibuk membentuk anakku jadi juara. Tapi lupa nanya: juara di mata siapa?
cc:threadlilydes2026
10 Ribu Di Tangan Istri yg Tepat
Menu Hari Ini Simple Aja
Udang
Sayur SOP
Tahu
Simple Tapi Nikmat
Beruntung donk Suami Ku Dapetin Istri Kek Aku 😁😁😆
sc:threadschocopeistii
@kresbung Percaya? Tidak
Buat senang2 supaya ada motivasi, masih okelah.
Misal bacaan tarot bilang, bakal naik gaji, bisa jd motif buat tetap perform saat kerja. Tapi ya percaya buta yah kagaklah.
perbedaan culture yang aku alamin saat hidup di jawa dan di sumatera
di jawa :
👩🦳 : enak banget masakan kamu, cocok di lidahku ( di depan )
👩🦳👩 : eh masakan dia asin banget loh tadi aku cicip ( di belakang )
di sumatera :
👩🦳 : kurang asin nih masakannya (di depan)
👩🦳👩 : no ghibah ghibah club
jadi orang jawa tu emang gak enakan kalo di depan,
tapi hobi banget ngomongin di belakang.
orang sumatera blak blakan di depan kadang bikin sakit hati tapi ga ngomongin di belakang.
cc:threadutamisetyawatii
Jadi ada cowok yang baru aja dapat bonus besar dari kantornya. Karena lagi hepi, dia ngajak cewek makan di restoran fancy buat ngerayain.
Awalnya si cewek bilang mau pesan pasta seharga $35 (sekitar Rp570 ribu). Aman lah.
Tapi pas pelayan datang, mendadak si cewek pesan Surf and Turf (steak premium + lobster) seharga $220 (sekitar Rp3,6 juta) ditambah kaviar $85 (sekitar Rp1,4 juta).
Si cowok sebenarnya kaget, tapi masih mikir, "Ya udahlah, sekali-kali. Toh lagi ada duit juga."
Masalahnya, pas makanan datang, si cewek cuma makan tiga suap steak lobster dan satu sendok kecil kaviar, terus dia bilang, "Aduh, aku udah kenyang banget."
Melihat makanan hampir Rp5 juta yang nyaris nggak disentuh, si cowok memutuskan untuk membungkus sisanya buat dibawa pulang.
Nah, di sinilah plot twist-nya.
Si cewek malah bilang kalau dia nggak mau makan leftovers dan menganggap bawa pulang makanan sisa itu memalukan. Bahkan dia ngasih ultimatum:
"Kalau kamu tetap bungkus makanan itu, aku pulang sekarang."
Dan si cowok lebih milih makanannya. 😂
Kencan selesai. Si cewek pesan Uber sendiri. Mereka nggak pernah kontak lagi setelah malam itu.
Menurut saya, pelajaran menarik dari cerita ini bukan soal siapa yang benar atau salah.
Tapi kencan pertama memang sering jadi fase skrining. Kita bukan cuma mencari kecocokan, tapi juga melihat nilai hidup, kebiasaan, dan karakter seseorang.
Cara orang memperlakukan makanan, uang, pelayan restoran, sampai cara mereka menghadapi perbedaan pendapat sering kali kasih gambaran yang lebih jujur daripada rayuan gombal saat PDKT.
Dan buat saya pribadi, membungkus makanan yang masih layak dimakan bukan sesuatu yang memalukan.
Yang lebih aneh justru pesan makanan hampir Rp5 juta lalu dibiarin terbuang percuma karena gengsi.
Kalau kalian ada di posisi si cowok, bakal bungkus makanannya atau milih ngalah demi si cewek? 🤔
Sebagai driver ojol Saya tidak melarang penumpang menggunakan layanan hemat, silahkan gunakan layanan hemat tapi sesuai dengan ketentuannya. Layanan hemat cocok untuk harian dari rumah ke stasiun, dari stasiun ke tempat kerja,
dari rumah ke sekolah, dari sekolah ke rumah. Tapi untuk kondisi tertentu tolong kalian gunakan layanan yang semestinya, contoh pengguna Hemat yg Dzolim menurut Saya.
Sebagai contoh gambar, saya rating b1 karena order hemat tapi membawa koper besar, kalau bawa barang berlebih sebaiknya order layanan Comfort/XL atau lebih nyaman pakai mobil. Masih banyak beberapa anomali penumpang Hemat.
Berat badan lebih dari 70kg harusnya pesan Comfort / XL (Bukan Body Shaming, tapi harus sadar diri demi keselamatan di jalan, jangan jadi orang yang merugikan orang lain, badan besar pesan hemat itu bisa ngerusak motor driver).
cc:threadmuhamadcosim93
Absurdnya warga X.
>Minta presiden harus lulusan kampus top luar negeri, kalo bisa harus Harvard, Stanford, Oxford.
>Kandidat lulusan kampus top itu ndakik ndakik gak napak tanah, akhirnya kagak terpilih.
>Nyalahin voter kenapa gak milih, minta harus tes IQ sebelum milih. Pasti ini voter IQ rendah semua.
>Alih alih merangkul masyarakat buat menang pemilu selanjutnya, malah sibuk ribut gw voter paling pintar, voter lain yg beda pilihan bodoh semua.
>Lama lama kayak bocah yang lomba siapa yang kencingnya paling jauh. Terus masih ngarep menang pemilu berikutnya. 🤣🤣🤣
💚 akhirnya sender merasakan ketemu cowok tinggi, tampan, berkacamata di Gramedia tersebut, tapi sayang date cancelled, sender ilfil dia bacaannya komik sama kartun fiksi doang, pas sender ajak bahas buku berbobot dia bilangnya ga ngikutin 😔, umurnya dah 30an dahal.
@karinyoo Pernah ke sana, harga hotel per malam kalau di kurs sini sejutaan, kamar sempit dan dekornya usang ala hotel budget atau bintang 2 kalau di Indo.
mending gausah punya temen deh daripada dijadiin bridesmaid tapi malah disuruh bayar iuran seragam sampe 2 juta. sumpah ya, bukannya kita tamu undangan ya?
kok malah kita yang nomok buat menunjang gengsi acara mewah dia. mending uangnya buat bayar kost atau makan sebulan daripada cuma buat baju yang dipake sekali doang.
padahal niatnya mau support sahabat dari jaman kuliah, eh tau-tau dikirimin list biaya yang harus ditransfer ke rekening dia. belum lagi biaya jahitnya yg mahal bgt gara-gara modelnya ribet bgt minta ampun.
pas gue coba jujur kalo lagi bokek, dia malah bilang 'pelit bgt sih buat momen sekali seumur hidup gue'. lah, kan itu nikahan lo, bukan nikahan gue? kenapa gue yang harus berkorban?
jujur gue langsung mutusin buat mundur jd bridesmaid, eh dia malah marah di grup sampe nyindir soal pertemanan kita selama ini.
emang skrg bridesmaid itu cuma buat ajang gaya-gayaan doang ya tanpa mikirin kondisi ekonomi temen? w salah ga sih kalo lebih milih narik diri drpd tabungan ludes cuma demi foto estetik dia? menurut kalian gue yang jahat atau dia yang egois?
cc:threadmedinalarasatiy