My Term Paper Saved in @ManUtd's Museum - a thread
Bissmillahirrohmanirrohim, in the name of ALLAH the most gracious and the most merciful.
Sdkt berbagi kisah ttg skripsi yg kebetulan softcopynya bisa tersimpan di museum tim bola kesayangan.
#MUFC
Repost utk anak2 muda yg tanya apa maksud saya dgn "wisdom without fear". Intinya: menyuarakan kebenaran lebih nikmat dari mengejar kekuasaan. You should try it too. Boleh disebar.
Baru Cincha Laura Kiehl artis yg brani nyenggol kebijakan pemerintah yg morat-marit ky ranjang Teddy.
Dia tegas menyuarakan kesejahteraan & keadilan rakyat yg TIDAK merata sejak kepemimpinan badut gemoy
Artis lainnya masih aman dan tenang berlindung dibalik lagu ok gas.. ok gas...
@demeter_mr Betul kak nanti, cukup bawa e-money/tapcash yaa nanti tinggal tap dan itu gratis kak, mulai jalan jam 10 tapi dari jam 9 udah ada yang antri
Ga kak, dulu pas awal aku pindah ke Jakarta buat kuliah juga ngerasa asing kak, kaya film Alice in Wonderland 🥹 being amazed sama kelap kelip lampu gedung, ehh sekarang I'm just one inside the building, enjoy your trip ya. Btw ada versi gratisnya bus wisata di pagi jam 10 kak
Doakan ekonomi indo membaik, karena minta localization bahasa itu juga ada harapan timbal balik revenue yg sepadan.
Kedua, semoga politik sama birokrasi di negeri ini sembuh supaya kerjasama kreatif macem gini ngga terbentur preman2 daerah.
Sejak berabad-abad lalu, masyarakat kita sudah menikmati sambal yang terbuat dari berbagai macam bahan. Di buku resep 2 abad lalu ini pun, sambal juga sangat dominan ditulis. Kita coba 3 hari ini. #sejarahkuliner#sambal#makananindonesia
Kare Seku dari tahun 1866, yang pengentalnya tidak pakai santan atau susu. Tapi pakai beras yang disangrai. Lucunya, rasanya malah jadi mirip Mie Sedap Soto 😹 #sejarahkuliner#makananindonesia#kare#ayam#resep
Suatu hari di Negeri AlengkaJenaka.
Bapak Patih Fafafufu mengadakan kunjungan kerja ke daerah terpencil di ujung Timur negeri.
Daerah yang harus dia majukan, sesuai titah Raja Wawawowo kepada beliau.
Dalam acara itu beliau langsung menemui warga di sana untuk menanyakan kondisi di lapangan. Namanya juga meninjau kan.
"Bu, selama ini apa yang masih jadi masalah di daerah sini? Saya akan bantu selesaikan"
"Ada DUA masalah besar buat kami, Pak Fafa"
"Apa itu, Bu?"
"Yang pertama, Puskesmas di sini sudah lama sekali tidak ada dokter dan perawatnya, kami jadi kesulitan untuk berobat. Terpaksa harus jalan kaki 4 jam untuk ke puskesmas yang ada dokternya"
Sigap pak Fafafufu meraih HP di kantongnya dan menelpon seseorang. Tampak beliau meminta dokter dan perawat ke salah satu menteri. Nadanya sangat tegas dan mendesak.
Tak lama dia berkata ke Ibu tadi,
"Beres, Bu. Masalah ini sudah saya atasi langsung. BESOK saya pastikan dokter dan perawat akan datang bertugas di sini."
(Ibu itu cuma terperangah dan takjub)
"Lalu masalah kedua apa, Bu", pak Patih Fafafufu semakin PD.
"Ini, Pak. Masalah besar kami yang satunya. Di sini tidak ada sinyal HP sama sekali untuk semua operator"
Guys, ini salah satu berita yang menurut gue paling mengerikan yang keluar hari ini dan bukan karena dramatis, tapi karena implikasinya sangat nyata terhadap keselamatan jutaan anak Indonesia.
BPOM secara resmi mengakui di depan DPR:
mereka belum pernah melakukan
sampling makanan MBG.
Sama sekali.
Karena tidak ada anggaran.
Mari kita letakkan ini dalam konteks yang benar:
Program MBG sudah berjalan berbulan-bulan.
Sudah menjangkau 27.000 SPPG di seluruh Indonesia.
Sudah menyerap Rp60 triliun anggaran.
Dan selama itu semua tidak ada satu pun sampel makanan yang diuji oleh BPOM.
Tidak ada verifikasi independen bahwa makanan yang masuk ke mulut anak-anak kita itu aman.
Tidak ada pengujian laboratorium resmi.
Tidak ada audit kualitas dari lembaga yang berwenang.
Dan angkanya membuat gue tidak habis pikir:
MBG: Rp60 triliun sudah terserap.
Hampir Rp1 triliun per hari.
Anggaran BPOM untuk mengawasi program ini yang tersedia saat ini: Rp2,9 miliar.
Bukan Rp2,9 triliun.
Bukan Rp2,9 miliar per bulan.
Total Rp2,9 miliar.
Perbandingannya:
anggaran pengawasan keamanan pangan untuk program yang menelan Rp60 triliun hanya 0,005% dari total anggaran program itu sendiri.
Dan kondisinya lebih buruk dari sekadar kekurangan anggaran:
BPOM sebelumnya sudah mengajukan anggaran Rp196 miliar untuk pengawasan MBG.
Sudah disetujui.
Tapi kemudian ada kewajiban pengembalian dana ke bendahara umum negara artinya dana itu dipotong dan tidak bisa digunakan.
Ada juga dana swakelola Rp675 miliar yang sudah disetujui Komisi IX DPR tapi sampai hari ini belum bisa dieksekusi karena masih menunggu tahapan administrasi yang entah kapan selesainya.
Jadi BPOM punya anggaran di atas kertas tapi tidak bisa digunakan.
Sementara makanan untuk jutaan anak terus dikirim setiap hari tanpa pengujian.
Dan ini yang paling ironis:
Kepala BPOM Taruna Ikrar bilang mereka sudah melatih 32.000 lebih tenaga ahli untuk mengawasi SPPG.
Tapi tidak ada anggaran untuk mengambil dan menguji satu pun sampel makanan.
Jadi kita punya 32.000 orang terlatih tapi tidak ada alat ukur yang bisa membuktikan bahwa makanan yang mereka awasi itu aman.
Itu seperti punya 32.000 dokter tapi tidak ada satu pun alat diagnosa.
Mereka bisa melihat.
Tapi tidak bisa membuktikan.
Konteks yang membuat ini semakin mengerikan:
Kita sudah tahu bahwa 6.457 orang dilaporkan terdampak keracunan MBG angka yang BGN sendiri laporkan ke DPR.
Belatung ditemukan dalam makanan MBG dan diakui sendiri oleh Hashim Djojohadikusumo.
Kasus keracunan terjadi di Duren Sawit, Bantul, dan berbagai daerah lain.
Dan selama semua itu terjadi lembaga yang seharusnya bertugas memverifikasi keamanan pangan itu tidak pernah melakukan satu pun uji sampel karena tidak ada anggaran.
Yang tidak masuk akal dari seluruh situasi ini:
BGN punya anggaran untuk:
Motor listrik Rp1,2 triliun
Digitalisasi Rp3,1 triliun
Semir sepatu Rp1,25 miliar
Sikat semir Rp272 juta
Tapi BPOM lembaga yang bertugas memastikan makanan itu tidak meracuni anak-anak hanya tersisa Rp2,9 miliar yang bisa digunakan.
Prioritas anggaran ini mengatakan sesuatu yang sangat jelas tentang apa yang dianggap penting dalam program ini dan apa yang tidak.
Pertanyaan yang harus dijawab:
Satu — Selama berbulan-bulan program MBG berjalan tanpa pengawasan sampling BPOM, siapa yang bertanggung jawab memastikan keamanan pangan dari 27.000 SPPG itu?
Dua — Apakah BGN tahu bahwa BPOM tidak bisa melakukan sampling karena tidak ada anggaran? Kalau tahu — kenapa tidak ada tindakan untuk mengalokasikan anggaran yang memadai?
Tiga — Apakah 6.457 korban keracunan itu bisa dicegah kalau sampling BPOM berjalan sejak awal? Tidak ada yang bisa menjawab dengan pasti.
Tapi pertanyaannya sangat valid dan harus ditanyakan.
Empat — Dana swakelola Rp675 miliar yang sudah disetujui tapi belum bisa dieksekusi apa yang menghalanginya dan siapa yang bertanggung jawab atas kemacetan administrasi itu?
Bottom line:
Indonesia menjalankan program makan gratis terbesar dalam sejarahnya dengan anggaran hampir Rp1 triliun per hari tanpa pengujian keamanan pangan yang independen.
Bukan karena teknologinya tidak ada.
Bukan karena BPOM tidak mau.
Tapi karena anggarannya tidak tersedia sementara di sisi lain uang mengalir untuk motor listrik dan semir sepatu.
Ini bukan kelalaian kecil.
Ini adalah kegagalan sistemik dalam memprioritaskan keselamatan anak-anak di atas kepentingan pengadaan dan administrasi.
Dan yang paling mengejutkan dari semua ini bukan fakta bahwa BPOM tidak punya anggaran.
Yang paling mengejutkan adalah bahwa program senilai Rp60 triliun ini diizinkan untuk terus berjalan hari demi hari tanpa mekanisme pengawasan keamanan pangan yang paling dasar sekalipun.
atau ini bukan program makan bergizi
atau cara menghabiskan anggaran dengan gaya??
bukti nyata 1 langkah kecil bisa berarti besar..
meet Arief Kamaruddin
pemuda 34 tahun dari Ciliwung yang bikin gubernur Jakarta gelar rapat khusus soal ikan sapu-sapu
kenapa dia mulai gerak
> dari kecil hobi jala ikan
> dulu dapetnya udang atau lele liar
> sekarang isinya sapu-sapu semua
> spesies asli ciliwung hancur sisa 20 spesies
> sapu-sapu ini invasif dan nggak ada predator
cara kerjanya hardcore
> turun ke sungai 1-3 jam tiap hari
> kadang nyari sampe jam 2 pagi
> nyemplung ke air keruh beracun
> ngeraba akar pohon pake tangan kosong
> resiko: beling, paku, ulerdapet ikan, patahin lehernya, lalu kubur
impactnya nggak main-main
> viral sampe masuk podcast close the door
> gubernur dki langsung instruksi walikota
> dinas gelar operasi massal tiap jumat
> di jaksel kemaren tembus hampir 7 ton
> rilis warning bahaya makan sapu-sapu ciliwung
strateginya pinter
dia pake sapu-sapu cuma buat pintu masuk
tujuan utamanya nyentil isu sampah dan limbah
karena kalo bahas sampah doang publik gampang abai
dari jaring seadanya, dia sukses maksa birokrasi buat turun tangan.
di tempat kalian ada sosok
seniat ini nggak?
Jadi ceritanya bbrp hari lalu tiba2 ibu gw nelpon. Dalam kondisi agak panik, katanya ga sengaja ngeklik undangan digital yg formatnya APK.
Langsung lah gw minta forward APKnya ke gw. Lalu gw coba bongkar untuk caritau apa yg dilakukan sama app tersebut.
Rule of thumb politik adalah, "uangnya di mana?"
Dari sini jelas bahwa "Soeharto jatuh berkat didemo mahasiswa" adalah narasi sesat. Narasi itu tidak menjawab pertanyaan, "uangnya di mana?"
"Indonesia merdeka karena kita bergerilya" juga adalah narasi yang tidak lengkap.
Uangnya di mana?
Setelah 1945, Belanda ingin masuk lagi ke Indonesia karena satu tujuan yaitu uang.
Uangnya ada dalam bentuk kayu bulat, karet, migas, kopra, tembakau, dan kopi.
"NICA masuk membonceng Sekutu." Apa tujuan NICA masuk? Uang.
Pada saat itu Belanda sangat butuh uang karena luluh lantak pasca Perang Dunia II.
Agresi Militer I fokusnya adalah merebut dan mengamankan sumber uang, terutama perkebunan cash crop Jawa Barat.
Perang gerilya yang dilancarkan TNI dan dikomandoi Jenderal Sudirman membuat Belanda tidak bisa mendapatkan uang dari perkebunan kita.
Gerilyawan kemerdekaan menculik dan membunuh mandor kebun, membom rel, dan merampok truk. Rakyat dan para petani perkebunan memusuhi Belanda dan mendukung gerilyawan Republik.
Tentara Republik menyerang sumber uang Belanda. Produksi perkebunan luluh lantak selama perang kemerdekaan. Tujuan perang penjajahan Belanda, yaitu memulihkan suplai uang, gagal total.
Perjuangan kemerdekaan Indonesia di jalur diplomasi juga berhasil membuat Amerika mengancam memotong suplai uang Marshall Plan yang sangat dibutuhkan Belanda.
Konferensi Meja Bundar 1949 berjalan mulus karena Belanda masih mendapatkan apa yang dia cari, yaitu uang, lewat kontrol kepemilikan atas perkebunan cash crop dan pemindahan utang Hindia Belanda ke Indonesia.
Hindia Belanda lepas? Siapa peduli. Yang penting uang. Indonesia pun merdeka sepenuhnya pada 27 Desember 1949.
Uang, uang, uang. Bom uang, hancurkan uang, negosiasikan uang, ciptakan uang, distribusikan uang. Inilah politik. Indonesia merdeka karena berhasil berstrategi uang.
Kejatuhan Soeharto juga sama.
Pada 15 Mei 1998, siapapun bisa melihat bahwa Soeharto, Tutut, Bob Hasan, Pangkostrad, dan anggota-anggota inti dinasti Cendana telah gagal total dan sudah mustahil untuk bisa memulihkan ekonomi Indonesia.
Krisis ekonomi sejak 1997 telah membuat orang kehilangan uang. Konglomerat kehilangan uang. Jenderal kehilangan uang. Orang partai kehilangan uang. Bahkan preman kehilangan uang. Semua orang kehilangan uang bahkan bangkrut.
Semua orang itu ngamuk-ngamuk terhadap Soeharto yang tua, pikun, sakit, kolot, panik, bingung, dan kehabisan ide akan bagaimana menyetop api krisis ekonomi dan kerusuhan yang semakin membakar uang yang ada di Indonesia hingga tidak bersisa.
Tidak mungkin mengembalikan "stabilitas politik" dengan membantai mahasiswa yang berdemo, karena demo massal hanya bakal makin ekstrem. Ekonomi pun akan semakin hancur dan uang semakin musnah.
Apabila pembantaian pendemo terjadi, IMF dan asing juga akan cabut dan Indonesia akan jadi negara pariah seperti Korea Utara. Uang asing akan hilang. Padahal, Indonesia sangat butuh uang asing IMF untuk memulihkan ekonomi dan menyelamatkan uang.
Untuk menyelamatkan uang, tidak ada cara lain kecuali menelan pil pahit, membubarkan Orde Baru, dan melakukan Reformasi.
Kalkulasi elite politik menjadi jelas. Reformasi = Uang. Tidak Reformasi = Tidak ada uang.
Siapapun arsitek-arsitek yang menginginkan Reformasi, mereka jelas sangat berhasil melakukan cipta kondisi sampai kalkulasi ini bisa-bisanya tercipta.
Inilah contoh berpolitik yang sukses: cipta kondisi. Elite politik akan bergerak sendiri sesuai keinginan hati kita, seperti boneka wayang.
Golkar terang-terangan mencabut dukungannya lewat pernyataan terbuka yang dibacakan Ketua DPR/MPR, Harmoko.
Menteri-menteri mencabut dukungannya dan mundur massal serentak. Aktivitas pemerintahan lumpuh total.
ABRI mencabut dukungannya. Panglima ABRI, Wiranto, datang ke rumah Soeharto dan menyatakan bahwa ia "tidak lagi dapat menjamin keamanan pribadi Soeharto".
Kalau ada gerombolan orang marah yang datang ke rumah Soeharto dan membantai habis Soeharto dan keluarganya dengan golok, ups, sori tapi ABRI sudah tidak bisa apa-apa lagi. Mati aja lu.
Soeharto pun langsung mundur.
---
Kalau kamu mau bikin demo besar-besaran, targetnya jelas: sumber uang rezim.
Ciptakan kondisi di mana menerima tuntutanmu adalah opsi terbaik untuk menyelamatkan uang.
17+8 pasti gagal karena tidak ada konsekuensi apabila diabaikan. Tidak ada ancaman terhadap uang. Jadinya ya diabaikan lol.
Reformasi berhasil karena konsekuensi penolakan Reformasi adalah krisis berlarut --> uang hilang.
Hari ini, apa sumber uang rezim yang bisa ditarget?
Ya mana gw tau. Tapi banyak opsi.
Misal: mogok massal.
Kalau karyawan sumber-sumber uang rezim mogok massal, aparat mau apa? Menembak karyawannya? Mogok massalnya pun berubah dari sementara jadi selamanya, karena karyawannya mati dibantai. Perusahaan bangkrut dan uangnya hilang.
Mogok massal kemungkinan sangat tidak cukup tho, karena sumber uang rezim yang sesungguhnya adalah sawit dan tambang.
Somehow, aliran sumber uang ini harus dipotong. Baik dengan menduduki suatu tempat secara fisik, atau lewat suatu konspirasi politik.
Kejatuhan rezim Shah Reza Pahlavi di Iran pada 1979 adalah contoh paling jelas dan dramatis. Karyawan perusahaan migas Iran melakukan mogok massal. Produksi dan ekspor migas seluruh negara distop oleh karyawan yang berdemo.
Dana harian operasional pemerintahan termasuk untuk gaji polisi dan tentara pun lenyap.
Rezim sang Shah langsung jatuh.
Uang. Politik adalah uang. Uang bisa diukur secara angka. Ketika mengancam, ancamlah uang. Ketika menyerang, seranglah uang. Ketika bernegosiasi, tawarkanlah uang.
Apabila demo tidak menyentuh sumber uang, tidak ada gunanya.
BREAKING: Seorang siswa SMK di Kudus bernama Muhammad Rafif Arsya Maulidi menulis surat terbuka kepada Presiden Prabowo, menolak jatah Program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk dirinya dan meminta anggaran tersebut (sekitar Rp6,75 juta untuk 1,5 tahun) dialihkan sebagai tambahan tunjangan bagi guru-guru yang kesejahteraannya masih memprihatinkan.
Ia berargumen bahwa guru jauh lebih berperan membentuk generasi muda daripada program makan gratis, dan suratnya yang diunggah di Instagram menjadi viral.
Satu kunci kesuksesan industri China adalah pemusnahan preman.
Pada 1983, Deng Xiaoping menurunkan tentara untuk membantai habis overpopulasi preman di kota-kota China.
1.7 juta preman ditangkap.
Tujuannya bukan konsolidasi preman seperti Petrus. Tapi pemusnahan.
Populasi preman terlalu banyak sehingga wajar dimusnahkan. Yang diburu dan ditumpas bukan segelintir preman saja seperti Petrus, melainkan semuanya. Semua preman adalah musuh negara, sehingga ditumpas secara militer.
Dalam skala raksasa, populasi preman se-China ditandai, diburu, ditangkap, dijejalkan ke dalam truk-truk tentara, dibawa pergi, dan mereka tidak pernah terlihat lagi. Preman yang melawan mati dibantai.
Posko dan markas-markas preman dan mafia triad dikepung dan dikosongkan pasukan tentara.
Ketua-ketua organisasi preman kabur diseret ke luar dan ditembak mati oleh tentara. Tubuh mayat mereka bergelimpangan berlubang-lubang di jalan seperti anjing.
Memang, sudah sepatutnya sampah masyarakat menjijikkan diperlakukan sebagai literal sampah dan benda mati, bukannya malah disanjung oleh pejabat tinggi negara.
Nama programnya adalah Strike Hard Campaign. Kebijakan perburuan manusia ini diterapkan Deng Xiaoping di negara China selama 3 tahun.
Kota-kota dan pemukiman China pun berangsur damai, bersih, dan kondusif untuk pertumbuhan perdagangan dan pabrik.
Misal Shanghai sekarang sudah sangat bersih dan beradab. Jauh sekali dari reputasinya dulu sebagai tempat kumuh sarang gerombolan triad dan mafia di film-film kung fu zaman dahulu.
Hari ini China adalah negara industri manufaktur no. 1 di dunia.
---
Kalau disesuaikan dengan rasio jumlah populasi, hari ini Indonesia seharusnya mulai menangkap dan memusnahkan sedikitnya 350.000 orang preman. Mulai dari bos-bos tingginya dulu, atau dari sektor low hanging fruit seperti Pelabuhan Tanjung Priok.
Pembasmian preman oleh Deng Xiaoping ini dilanjutkan oleh pembasmian preman berseragam oleh Xi Jinping. 4 juta pejabat pemerintah korup ditangkap. Puluhan perwira tinggi militer boomer korup ditangkap dan tentara PLA dirombak habis agar profesional.
Baru aja Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) bikin heboh lagi.
Di tengah ramai isu harga minyak dunia naik karena konflik Iran vs AS-Israel, pemerintah memutuskan tidak menaikkan harga BBM agar rakyat tidak terbebani.
Tapi JK justru bilang
Naikkan harga BBM itu perlu
Menurut JK, ada tiga alasan kuat:
- Kurangi Beban APBN
Subsidi BBM akan berkurang jika harganya disesuaikan dengan harga internasional.
Jadi pemerintah tidak pusing membayar subsidi yang membengkak.
- Orang Akan Hemat BBM
Kalau mahal, otomatis masyarakat bakal lebih selektif memakai kendaraan, sehingga konsumsi BBM turun.
- Yang Bisa Bayar, Bayar; Yang Harus Hemat, Hemat
Pemilik mobil tentu mampu beli BBM lebih mahal. Pemilik motor akan lebih bijak menggunakannya, misalnya mengurangi perjalanan yang kurang penting.