Kalian yg minta kalo kritik itu harus baik, beretika dan memberikan solusi. Apa yang disampaikan Pak Dino itu sudah sangat baik, halus, sopan, beretika, dan terstruktur serta memberikan saran dan solusi sesuai yg kalian mau. Sekarang masih tetep dianggap ga beretika. Intinya memang kalian itu enggan menerima kritik.
Saya udh ga tau harus komen apa lagi sama pejabat2 di negara ini. Dikritik keras salah, dikritik baik salah. Maunya semua orang dukung.
Media udh pendapatannya jeblos karena homeless media, influencer dan google/meta ads, PHK jurnalis secara masif, jurnalistik diserang oleh otoritas, self censorship merajalela
Masih kredibilitasnya diganggu akun mencoba lucu
Gue sih ga nyaman liatnye,
mendengarkan seluruh wawancara, khususnya cuplikan ini, saya berpikir dan merenung panjang.
dan saya kira saya mesti mengoreksi catatan saya.
saya berpikir ini bukan lagi hanya tentang para pembisik atau orang-orang di sekitar pak prabowo. ini memang pak prabowo sendiri -dengan pendirian dan pandangannya sendiri. para pembisik dan orang dekat yg ABS hanya memperparah situasi ini. mungkin saya salah, tapi itu tercermin jelas dari wawancara sekian jam tersebut, dan cuplikan singkat ini.
and to all of you who have the responsibility of ensuring the president gets accurate information and acts accordingly, i bid you the best of luck and all the strength you need.
tetaplah sayang dan cinta pada negeri ini. tetaplah berisik. tetaplah kritik, bahkan protes, pada kebijakan pemerintah yang keliru -sembari terus berharap pemerintah mau memperbaiki diri dan memberi kesempatan orang-orang yang benar-benar mampu dan baik membantunya untuk itu.
kritik dan protes itu bukan makar. justru itu bentuk cinta terdalam kita pada republik ini.
Beberapa kali terjadi, pengeeeen banget merespon suatu postingan atau reply seseorang di medsos.
Aku pikir responku pasti keren/savage, sangat edukatif dan dibutuhkan banyak orang. Akulah si orang penting itu.
Tapi beberapa tahun terakhir aku coba menahan.
Nggak mau buru-buru klik *post*, mikir berulang-ulang. Rasanya?
Nggak enak banget. Ngganjel di hati. Kepikiran, posting nggak ya???
Tapi ternyata rasa nggak enak itu cuma sementara. Sekarang kalau diingat2, aku nggak bisa ingat postingan mana aja yg tadinya ingin aku respon.
Sebenarnya nggak penting.
Kadang kita cuma mencari kemenangan2 kecil di medsos padahal dampaknya nggak signifikan di kehidupan nyata 🥲
Awal Februari yang teramat panjang. Padahal bulan ini nggak nyampe 30 hari. Tapi lelahnya berasa ditempa tiga bulan. capek sekali... pengen tenggelem yang dalam dan nggak muncul2 lagi...
Percaya sama sama Allah dan selalu berbaik sangka sama Dia bener-bener ibadah tersulit dan terpanjang. Saat lagi berharap-berharapnya, dijatuhin sejatuh-jatuhnya, buat nguji apa bener-bener kita beriman :((
Tiap hari kerjaannya saling nyalahin. Padahal semua itu permainan politikus supaya ada polarisasi dan pecah kongsi. Alih2 saling merangkul, malah itu2 aja isi kepalanya.
Pahami mekanisme politikus berpikir deh, cara main dll.
Tak ada kawan, tak ada lawan, hanya kepentingan
People on Twitter don’t respectfully disagree anymore. There’s always an insult attached to it. Everybody wants to feel more intelligent than someone else and the likes they get are validating
Orang Indonesia ini kalo ga bandingin hal susah sehari kayaknya kejang. Setiap bentuk kedukaan itu valid dan gabisa di kontrol. Berduka untuk lula bukan berarti gabisa empati untuk korban bencana. Pun, selebgram2 ini pada galang dana kemarin. Pick me, nirempati.
Saya lulus kuliah 2020, bahkan baru bisa bener-bener menikmati uang jerih payah sendiri sejak 2025 loh.
Uangnya kemana? Buat bayarin hutang keluarga saya yang jumlahnya ratusan juta itu, bukan saya habiskan foya-foya.
Bahkan saya tetep harus cover biaya asuransi dan spp kuliah adik saya karena ayah saya ngga sanggup. Mau nolak? Tentu tapi saya malas ribut.
Come on, ngga semua orang yang ngga punya duit itu manajemen uangnya jelek. Ya emang uangnya dialihkan supaya dapur tetap menyala.