Istrinya Bapak itu tipe yang gak pernah sakit.
16 tahun nikah. Dia ke dokter cuma dua kali: waktu hamil anak pertama, dan hamil anak kedua.
Pernah demam? "Gak papa, besok juga sembuh."
Pernah pusing? "Biasa, kurang tidur aja."
Aku pikir dia memang KUAT, itu pengamatanku, karena sangat dekat dengan beliau, saudara.
Sampai suatu malam, HP-nya ketinggalan di meja makan. Layarnya nyala. Dan Bapak itu lihat riwayat Google-nya.
Harvard jalanin satu studi selama 85 tahun. Dimulai tahun 1938. Tracking 724 orang dari remaja sampai tua.
Pertanyaan-nya cuma satu: apa yang bikin hidup seseorang bahagia dan sehat?
Jawabannya bukan duit. Bukan fame. Bukan kerja keras.
Jawabannya bikin banyak orang kaget.
Studi ini namanya Harvard Study of Adult Development. Salah satu studi terpanjang dalam sejarah ilmu pengetahuan umat manusia.
Jangan pernah punya niat membuktikan sesuatu pada manusia, karena percuma saja. Sebab jelek dihina, bagus dicurigai dan salah dicaci. Bahkan benar sekalipun masih bisa dijadikan bahan ghibahan. Maka tetap jadilah orang baik, namun jangan buang waktumu untuk membuktikannya.
Jika kekecewaan terlalu besar,
bisa jadi dunia kita terlalu kecil.
Be productive.
Lakukan hobi.
Ikut kelas.
Duniamu bukan hanya tentang dia yang bikin patah hati, atau hasil usaha yang tak sesuai ekspektasi.
Luaskan dunia kita.
Supaya sedih hanya setitik.
lelah berjuang sendirian itu adalah titik paling lelahnya seseorang.
sampai ia kemudian terduduk atau terbaring tak berdaya, putus asa, dan tersadar dia tidak pernah sendirian.
ada Allah yg sedang mengajarkannya kuat. ada Allah yg sedang menuntunnya ikhlas.
Dua minggu lalu aku ketemu guruku dari SD, Pak Ridwan, di sebuah acara online. Beliau ngasih nasihat ke kami, murid-muridnya yang menurutku ngena banget.
“Murid-murid Bapak gak usah ya cari jabatan. Fokus sama memperbesar tabungan jiwa.”
Kenapa nasihat ini ngena banget? Karena hari ini banyak anak muda seusiaku yang fokusnya pada personal branding semata tapi wadah rezeki atau tabungan jiwanya gak ditambah. Pak Ridwan menggambarkan ini ke dalam bagan 3 dimensi.
Dewasa ini kita banyak melihat orang “meminta jabatan” atau “menampilkan dirinya” lebih besar dari tabungan jiwanya sendiri. Artinya sebenernya kapasitas dia belum di situ, tapi brandingnya seakan-akan udah jauh lebih keren (sampe CV-nya yang inflated itu diiklanin di instagram, misalnya). Atau sampai mati-matian mengubah aturan agar tabungan jiwa yang minim itu dipaksakan untuk “membayar” jabatan yang malah mencelakakan banyak orang.
Padahal ya sebuah posisi pilihannya cuma dua: memuliakan atau menghinakan. Kalau tabungan jiwa kita lebih kecil dari posisi kita hari ini, biasanya utang itu harus dibayar di kemudian hari. Entah dengan kerugian di bisnis, ditipu partner, ketahuan gak bayar pegawai dengan layak, korupsi, gak mampu ngerjain kerjaan di jabatan kita hari ini, atau ngeluarin kebijakan yang mencelakakan banyak orang. Tentu lebih banyak lagi possibility-nya.
It’s an important note for all of us. Being confident is important. But lying to others and to yourself, deceiving many people through manipulating regulation (ehm) and manipulating your CV and personal branding is a no :)
Semoga setiap harinya kita bisa selalu jadi pribadi yang jujur, dan semoga Allah nempatin kita di posisi yang memang kita layak mendapatkannya, karena tabungan jiwa kita sudah cukup untuk menghidupi posisi itu.
Btw, iya, ini Pak Ridwan yang itu, pelatih olimpiade matematika, yang juga pendiri Klinik Pendidikan MIPA di Bogor.
#agustusbagus Day 6, tentang sebuah nasihat
Kalian pernah ga sih penasaran gimana di balik layar anak yg langganan dpt medali emas olimpiade matematika?
Pas nemenin anak ikut lomba, gue ngobrol dgn ortu yang anaknya sering menang. Dan ternyata, ada hal-hal mengejutkan di balik prestasi itu! 😱✨
A thread buat parents 👉🏻
Kenapa satelit-satelit yang mengitari Bumi nggak pernah nampak pada hasil foto Bumi, sedangkan galaksi-galaksi jauh yang berjarak ribuan tahun cahaya bisa diamati? Apakah cuma omon-omon?
Pertanyaan menarik, tapi... oalah pantes.
-Sebuah Utas-