Di salah satu PTN terkemuka Indonesia, ada Wakil Rektor yang S1-nya dari kampus itu, S2-nya dari kampus itu, S3-nya dari kampus itu.
Guru Besar sejak 2024.
Fenomena ini ada namanya: academic inbreeding ,ketika seseorang mendapat seluruh pendidikan akademiknya dari satu institusi, lalu memimpin institusi itu.
Riset internasional konsisten menemukan: academic inbreeding melemahkan produktivitas riset, mempersempit perspektif keilmuan, dan memperkuat status quo yang seharusnya dikritisi.
Bayangkan seorang penguji soal yang tidak pernah belajar dari kampus mana pun selain kampus yang soalnya ia buat sendiri.
Kita mau cetak SDM unggul global.
Tapi bagaimana caranya, kalau orang yang memimpin proses itu belum pernah keluar dari satu jendela yang sama?
Gue mau nampol kalian pakai kenyataan.
Dan gue jamin, kalian belum siap dihantam realita ini.
Apa yang Fatimah Azzahra lakuin baru-baru ini di TV nasional, dan wakil BEM yg dulu.
Gue cap sebagai:
Entertainment Politik.
Kritik yang seharusnya tajam, malah berakhir cuma jadi HIBURAN.
Jadi bahan trending semalam, panen impression dan engagement di Twitter, lalu besoknya orang lupa dan lanjut hidup seperti nggak ada apa-apa.
Kenapa bisa gitu? Gue bahas di sini.
Pantesan di platform sebelah rame banget 😱
Namanya Fatiman Az Zahra, Mahasiswa FK UI, Waka BEM UI, cerdas, dewasa dan bernas.
Tapi entah ini dari kaum 58% atau buzzer 400rp, menulis komen nir-adab begini.
Dan yang paling bikin geramnya adalah, penulis komen itu akhirnya minta maaf dan ada bagian potongan kalimat, “karena saya miskin, gak punya apa-apa… dst”
Udah miskin, apa otak gak punya juga?
Buat mikir waras gitu, jika ada anak bangsa generasi penerus sehebat ini tampil di Aksi dan di Media Elektronik, lalu dikomentari dengan pikiran waras juga meski itu berbeda pandangan?
Kenapa udah miskin, gak punya apa-apa (termasuk isi kepala?) gak punya cara juga tuh jari untuk nulis yang waras?
Begini ini kah pendukung rezim sekarang?
mengenal Kepala BPIP,
eks. rektor yang pernah larang penggunaan cadar di lingkungan UIN JOGJA.
• Prof. Drs. K.H. Yudian Wahyudi, M.A., Ph.D.
- S1: IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta,
- S1 Filsafat UGM,
- S2: McGill University, Kanada
Islamic Studies, gelar M.A.
- S3: McGill University, Kanada
Islamic Studies,
- Post-doc di Harvard Law School, Amerika Serikat tahun 2002–2004
Hal yang paling diperbincangkan, saat jadi rektor.
1. Larangan cadar di kampus (2018), Saat menjabat Rektor UIN Sunan Kalijaga, ia menerbitkan kebijakan yang melarang mahasiswi menggunakan cadar (niqab) di lingkungan kampus.
2. Pernyataan “Agama adalah musuh besar Pancasila” (Februari 2020), Pernyataan ini paling viral dan menuai kritik keras dari banyak kalangan karena dianggap mempertentangkan agama dengan Pancasila.
3. Dugaan Larangan hijab bagi petugas Paskibraka (Agustus 2024), BPIP di bawah kepemimpinannya menerapkan aturan seragam nasional untuk Paskibraka yang menyebabkan puluhan anggota putri harus melepas hijab saat pengukuhan di Istana Negara/IKN. Ia menyebut ini untuk menjaga keseragaman.
TUBUH LO SEBENARNYA UDAH KASIH TANDA
1. SERING NGANTUK — kualitas tidur berantakan
2. SAKIT KEPALA TERUS — bisa karena kurang minum
3. NGIDAM MANIS TERUS — pola makan gak stabil
4. MUDAH CAPEK — tubuh kurang recovery
5. KRAM MALAM HARI — tubuh kurang mineral
6. BAU MULUT — pencernaan atau kebersihan mulut terganggu
7. TANGAN & KAKI DINGIN — sirkulasi darah kurang bagus
8. RAMBUT RONTOK BERLEBIHAN — tubuh lagi stres atau kurang nutrisi
9. GUSI GAMPANG BERDARAH — vitamin tubuh bisa kurang
10. MATA SERING KERING — terlalu lama lihat layar
11. PERUT GAMPANG BEGAH — pola makan berantakan
12. BANGUN TIDUR MASIH LEMES — tubuh belum recovery penuh
DELAPAN dosen UPN Veteran Yogyakarta melakukan kekerasan seksual kepada banyak mahasiswi:
3 dosen Fakultas Pertanian
1 dosen Fakultas TME
2 dosen FISIP
1 dosen Fakultas Ekonomi & Bisnis
1 dosen belum diketahui fakultasnya
Dosen yang sudah dinonaktifkan:
Begini kronologinya !!
Seorang pemuda yatim piatu bernama Agus (25) nekat menggali makam ibu kandungnya sendiri dalam kondisi emosi yang meledak-ledak.
Insiden memilukan ini nyatanya dipicu oleh permasalahan rumah tangga yang sangat sepele.
- Awalnya, Agus mendapat teguran dari istri pamannya karena urusan kebersihan kamar.
Teguran ini rupanya tidak diterima dengan baik hingga memicu cekcok mulut.
Mendengar keributan tersebut, paman Agus (yang sudah merawatnya sejak kecil) ikut tersulut emosi.
- Dalam keadaan marah besar, sang paman melontarkan kalimat sarkas yang sangat tajam: "Pergi saja dari rumah, sekalian bawa makam orang tuamu!"
Alih-alih menganggap kalimat tersebut sebagai gertakan kemarahan, Agus yang kadung sakit hati malah menelan mentah-mentah ucapan pamannya itu.
- Di bawah kendali emosi, Agus bergegas menuju makam ibunya di TPBU Sengkol dan nekat mulai menggali pusara tersebut di malam hari.
Aksi tak lazim ini langsung mengundang perhatian petugas lingkungan, pengurus makam, hingga tokoh masyarakat.
Mereka berusaha keras membujuk dan menghentikan Agus.
- Bahkan, warga sampai nekat memutus aliran listrik di area makam agar suasana menjadi gelap gulita dan Agus berhenti menggali.