Guys, ini keren banget.
Akhirnya kita bisa menyaksikan langsung di medsos, kemarahan rakyat kecil terhadap MBG.
Selama ini kita hanya mengetahuinya dari intelektual dan kelas menengah..
Jarang sekali rakyat kecil bersuara terang-lantang di depan media. Mana pakai bahasa aktivis pergerakan lagi. Menentang keras MBG dan bahkan menghujat SPPG.
Ini mematahkan argumen bahwa rakyat kecil sepenuhnya diuntungkan oleh MBG.
Sebagaimana yang disebut-sebut oleh buzzer.
Yang dukung palingan pekerja SPPG doang.
Dolar 18.000
Pertamax naik 4rb
Katanya orang desa ngga pakai dolar
ISHG NAIK
MBG dan KDMP ngga bisa disetop
Habis ini barang-barang naik
Siap-siap Pragib turun???
Fun Fact
Anggaran MBG tahun 2026 mencapai Rp335 triliun
Jika dana sebesar itu dialokasikan untuk bayar UKT Rp10 juta per semester, maka: 4,18 juta mahasiswa bisa kuliah gratis sampai lulus S1
Setiap tahun, lulusan sarjana di Indonesia cuman 1,2 juta
Jadi, Anggaran 1 Tahun MBG bisa membiayai seluruh mahasiswa angkatan 2021, 2022, dan 2023 💀
buset sekelas pertamina, bumn, bergerak di sektor energi yg saingannya bisa dibilang minim, memonopoli pasar dalam negeri, mendapat dukungan dari negara tapi menggaji manusia 1.8 juta????????????
Anggota DPR yang punya ijazah
SMA — 63 orang
D3 — 3 orang
S1 — 115 orang
S2 — 119 orang
S3 — 29 orang
NO IJAZAH — 211 orang
kenapa yang nggak ada ijazahnya bisa duduk di DPR, ikut bikin undang undang lagi
cc data: BPS/KPU 2024
Guys, boleh bantu aku viralin mamaku?Mamaku sekarang gabung jadi driver perempuan di aplikasi Sida Safe, aplikasi khusus perempuan, ibu & anak.
Jujur aku happy lihat mamaku punya kesibukan baru ini, karena mamaku tuh emang tipe org gabisa diem di rumah
She’s literally 50+ tapi energinya kaya anak muda hobinya jalan, motoran, ngobrol sama orang, dan selalu cari aktivitas baru. Tipe orang yang kalau disuruh diem di rumah malah bete sendiri.
CC:threadsellaptr
Mikel Arteta menanggapi unggahan Instagram Rayan Cherki setelah Arsenal kalah di final Liga Champions:
🗣️ “Dengar, saya sudah melihat unggahan yang berbunyi, ‘Tidak ada PGMOL yang membantu mereka memenangkan Liga Champions, haha.’
Sejujurnya, itu hanya ejekan murahan.
Ketika seseorang sedang emosional setelah sebuah final, saya mengerti orang bisa mengatakan berbagai hal.
Tapi mari bersikap serius — ini adalah Liga Champions, bukan Premier League. Tidak ada PGMOL di sini, tidak ada alasan, tidak ada narasi semacam itu.
Kami tidak kalah karena lelucon di media sosial. Kami kalah karena pada momen-momen penting kami tidak melakukan cukup banyak untuk memenangkan pertandingan.
Orang-orang boleh mencoba mengejek kami, membawa-bawa pembahasan Premier League ke dalamnya, dan memelintir cerita sesuka mereka...
Tetapi sepak bola ditentukan di atas lapangan, bukan di kolom komentar Instagram.
Arsenal akan menerima rasa sakit ini, belajar darinya, dan kembali lebih kuat.”