Padahal kalo semuanya pada taat aturan perlintasan kereta, hanya bakal keluar Rp.0 aja.
Bukti kalo ketaatan itu mahal banget harganya. Pendidikan emang harus jadi prioritas nomor 1!
Di suatu negara yang aneh
Negara tropis = buah mahal
Negara maritim = ikan mahal
Negara CPO = migor mahal
Negara SDA = listrik dan BBM mahal
Negara hukum = tunggu viral
Swasembada pangan = beras mahal
Bebas aktif = ikut BOP
Negara religius = korupsi nya banyak, sampai kitab Tuhannya dikorupsi
Semuanya karena sistem yang buruk dan political will yang tidak berpihak rakyat tapi berpihak cepat balik modal dan nambah kekayaan pribadi hehe
aku tertampar dengan kata-kata offensive ini :
"kalau udah merasa paling bener, besok-besok kalau sholat gak usah baca Al-Fatihah...
enggak masuk akal soalnya orang baca "Tunjukilah kami jalan yang lurus" belasan kali sehari tapi sudah merasa paling bener".
naudzubillah min dzalik 😭
Semua itu dilakukan karena "di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung"
Tapi giliran ada 1 bule di kantor, semuanya nginggris. Si bule nggak harus "ngejunjung langit" pake bahasa kita dengan alasan inklusifitas.
Di sini mah, bule dianggap difabel
Imagine if Iran bombed Washington and killed students in schools, what would you call it? Terrorists
The U.S. and Israel bombed Tehran and killed students in schools. Why do you call it a "pre-emptive strike"?
Bombing a school is a war crime under international humanitarian law
Bagus banget jawaban masnya. Dan semuanya tepat.
Small habit (discipline) itu pilar keberhasilan.
Respon atas kegagalan adalah kunci. Sebab dlm hidup kita akan menemui kegagalan berulang kali.
✍️✍️✍️🔥🔥🔥
Allah mengujimu dengan tiga cara.
Kamu pikir semua doa yang terkabul itu hadiah, dan yang nggak terkabul itu penolakan? Belum tentu. Bisa jadi semuanya adalah ujian.
1.Diberi apa yang kamu mau : untuk melihat seberapa besar rasa syukurmu.
2.Ditunda dari yang kamu minta : untuk menguji seberapa sabar kamu menunggu.
3.Tidak diberi sama sekali : untuk melihat seberapa kuat kamu tetap percaya.
Sekarang coba jujur, kamu lagi diuji di bagian yang mana?
Jujur, aku kagum betul sama ini negara.
Ada rakyat mengkritisi program pemerintah dengan cara-cara baik dan memberikan saran baik, enggak didengar. Malah dicibir habis-habisan dalam setiap pidato presiden.
Giliran ada Ketua BEM salah satu Universitas di Indonesia mengkritisi dengan menyurati PBB dan menggalakkan istilah "Maling Berkedok Gizi" dalam panggung-panggung organisasi, eh malah mendapat teror sana sini sampai orang tuanya ketakutan.
Dan, yang bikin makin takjub, Istana malah merespon: makanya kalau kritik pakai etika.
Woi, itu rakyat lu kena terror karena kritis menyuarakan aspirasinya.
Malah ditanggepin begitu.
Jadi ya enggak heran kenapa orang kritis di negeri ini selalu diterror kepala babi, bangkai ayam, di lempar telur busuk, dan di lempar bom molotov, orang negaranya saja tidak bereaksi apa-apa terhadap pelaku terror pada mereka yang keras bersuara.
Katanya kritik sebagai vitamin, tapi nyatanya?
Ada 3 level orang yang biasa dianggap menghina (agama/yang lain):
1. Tidak sengaja
2. Berupa karya (seni/jurnalistik)
3. Sengaja menghina
Yang di level 3 saja, saya selalu berpendapat bahwa itu tak perlu diributkan ataupun dilaporkan ke jalur hukum.
- Ahok itu di level 1.
- Pandji itu di level 2.
- Arswendo (Tabloid Monitor) itu di level 2.
- Film True Lies (1994) yang dilarang di bioskop di Indonesia itu di level 2.
Yang level 3, itu lebih banyak di media sosial dilakukan oleh anonim. Di X Anda tahu, banyak banget yang memang suka menghina agama.
Apakah kita harus meributkan para penghina itu? Ngapain?
Kalau di Level 3 saja tak perlu dipedulikan, apalagi yang level 1 dan level 2. Sangat tidak perlu.
Agama Kristiani sering banget disinggung, dihina, atau dijadikan bahan tertawaan di banyak film ataupun tulisan. Tapi semua karya seni itu tetap boleh ditayangkan.
Namun jika yang disinggung itu agama Islam, tampaknya umatnya tidak bisa menerima. Makanya saya sebagai muslim nggak ingin melanjutkan budaya marah itu.
Mau menghina bagaimanapun, tak perlu kita marah. Apalagi kepada yang level 1 dan 2.
Sometimes i feel…
ada yang off sama cara hidup zaman sekarang.
Everything moves so fast,
but somehow kita makin lost ttg mau ke mana.
Some people belajar bertahun tahun,
some people viral in one night.
Yang satu dihargai krn process,
yang lain krn exposure.
And we’re stuck in between.