1. SEJAK bentrok antara tentara Israel & warga Palestina Jumat (7/5) pekan lalu, saya banyak terbantu berita di laman @BBCIndonesia krn menyajikan konteks yg lebih lengkap ttg apa yg terjadi di sana. Berikut beberapa tautan berita tgl 8-13 Mei 2021. Siapa tahu berguna.
Skrg baru tahu kalau kena pajak. Selama ini tak ada pajak jika belanja produk @GramediaDigital
Belum tahu, apa pajak 11% ini berlaku utk belanja produk lain juga bila lakukan pembayaran via Google Play, atau tdk.
pengkategorian kelompok usia ini, tergolong baru. cuma tidak semua orang sdh tahu. bahkan dalam satu sesi dgn teman dari PBS, ini dianggap spt mengada-ada. pdhl sdh ada :)
bahannya berwarna biru tapi gunanya untuk mencuci. termasuk mencuci baju berwarna putih. yg seumuran saya, mungkin tahu bahan ini. diberi nama “blau” yg bisa jadi diadopsi dari bahasa Belanda “blauw” yg berarti biru.
Saya semeja dgn bbrp elit politik di kabupaten M. Kami terlibat diskusi ringan. Sbg 'nobody', saya hanya sesekali menimpali. Dari bnyk insight di obrolan setelah makan siang itu, ada satu yg saya suka: "(dalam hidup) Jangan nambah beban, tapi nambah daya".
Aksi membuat konten atau media pembelajaran oleh mahasiswa atau dosen —berbasis internet, selain memiliki implikasi sosial, pada akhirnya akan berguna pada pembentukan portofolio yang mendukung reputasi dan kredibilitas keilmuan kaum terpelajar dalam sebuah masyarakat :)
08
Siapa pun yang berpengetahuan (mahasiswa terlebih dosen) memiliki kewajiban moral untuk membuat konten yang kadar validitasnya dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Dibutuhkan sebuah aksi yang mampu mencerahkan atau membangun wacana intelektual di ruang digital.
07
Di buku tadi, Tom Nichols (2017) secara tidak langsung menuntut peran ilmuwan di ruang digital untuk menjaga nilai dan prinsip dasar ilmu pengetahuan, agar tidak tergerus oleh pendapat para pendengung (buzzer) atau mereka yang hanya bermodalkan popularitas. Bagaimana caranya?
06
Ketiga, ketika setiap orang bisa berpendapat, sukar menakar kebenaran ilmiah dari setiap pernyataan tersebut. Algoritma internet akan menggiring publik ke konten yang paling sering dikunjungi. Bukan ke sesuatu yang sumbernya terverifikasi dan kredibel. Kepakaran pun mati.
04
Kedua, dengan keterbatasan tersebut maka konten yang disajikan akan bersifat dangkal. Kurang lengkap. Di satu sisi, ini baik karena langsung membawa publik ke titik penjelasan. Namun di sisi lain, akan cenderung menyederhanakan topik yang bisa jadi sebenarnya kompleks.
03
Tidak semua yang kita temukan di internet 100% benar. Pertama, keterbatasan perangkat lunak. Tidak seperti buku yang dapat beratus-ratus halaman, ruang di media sosial membatasi kita untuk hanya bisa mengakses informasi sesuai dengan kapasitas mediumnya.
02
Jika ingin mengetahui beberapa hal, kita langsung mencarinya di internet. Bahkan saat sedang tidak mencari pun, dengan iseng menelusuri kontek media sosial saja, kita seperti jadi tahu banyak hal. Pertanyaannya: Apakah pengetahuan tersebut valid?
01
Awalnya bensin jenis Premium harganya tidak dinaikkan, tapi stoknya dikurangi dan menjadi langka. Perlahan publik —tak ada pilihan selain— mengkonsumsi Pertalite. Sekarang untuk menaikkan harga Pertalite tentu tak mudah. Apa skenario Premium mungkin diulangterapkan ke Pertalite?