SELAMAT UNTUK MUKMIN MENJADI JUARA PERTAMA SUCI 12😭😭😭
disusul Ejja juara 2
dan Ratanca juara 3
🥳🥳🥳🥳
gimana menurut kalian kompetisi SUCI 12 ini guys???
#Suci12KompasTv
Gabo hampir jatuh dari tempat tidur saat baca kalimat pertama metamorfosis kafka, “ketika gregor samsa bangun dari mimpi buruknya, ia temukan dirinya sudah berubah menjadi serangga yang menjijikan.” katanya, “kalo aku tahu, orang bisa menulis macam itu, aku sudah menulis sejak lama.” lalu dia bikin cerita pendek. kemudian, dia pun menciptakan kalimat pertama yang sama—kalau tidak lebih—kuat: bertahun-tahun kemudian, ketika menghadap regu tembak, kolonel aureliano buendia mengingat suatu sore yang jauh saat pertama kali ayahnya membawa ia untuk melihat es!
buku, gak seperti makanan, tidak perlu dikonsumsi lebih dari satu kali. buatku, buku yang baik adalah buku yang mengantarku ke buku lain. membaca, kadang-kadang, jadinya seperti menelusuri trowongan ide yang panjang dan bercabang-cabang.
baca norwegian wood murakami, misalnya, mengantarku pada catcher in the rye. cara midori bicara, sama seperti holden. dan ini bukan menurutku, tapi menurut murakami sendiri. ada di dalam bukunya. kalau holden remaja awal, midori ini remaja akhir. lalu, suara ini juga dipakai oleh villallobos waktu nulis karakter totchli di pesta di lubang kelinci. katanya, butuh berbulan-bulan buat nyari suara pas untuk totchli, dan suara yang paling cocok adalah suara holden, kalau dia masih kecil.
makanya, aku selalu senang baca buku-buku yang penulisnya ngasih tahu inspirasinya dari mana. sehingga, ada konteks dan kedalaman yang bisa kita rasakan, lebih dari sedari sekedar yang ditulis dalam buku.
Sebab seringnya kita sarapan pakai nasi goreng bukan karena ingin, tapi karena ada nasi sisa semalam yang diangetin pun sudah kurang menarik, dibuang sayang, maka jadilah nasi goreng.
Pertanyaan penting.
Masyarakat kita salah satu comfort foodnya sarapannya itu NASI GORENG.
Kok kalau pagi ga ada/jarangggg abang2an jualan nasi goreng?
Hoy 4 de junio de 2026, nos dejó Marjane Satrapi. Tenía 56 años. Su familia dijo que murió de tristeza, catorce meses después de que muriera el amor de su vida.
Hay muertes que tienen una lógica brutal que no necesita diagnóstico médico.
Nació en Rasht, Irán, el 22 de noviembre de 1969. Creció en Teherán en una familia de intelectuales de izquierdas. Su madre le dijo algo que aparece en Persépolis y que ella nunca olvidó:
"En tu vida conocerás muchos tontos. Si te hacen daño, recuerda que es porque son estúpidos. No respondas a su crueldad. No hay nada peor que la amargura y la venganza. Muestra tu dignidad y tu integridad."
Su madre tenía razón. Y Satrapi pasó toda su vida demostrándolo.
Sus padres la mandaron a Viena a los catorce años. Sola. Para que sobreviviera. Años después, instalada en París, tomó un lápiz y dibujó en blanco y negro lo que había vivido. Sin colores. Sin adornos. Con una línea directa que contaba la infancia de una niña iraní mientras el mundo que conocía desaparecía a su alrededor.
Lo llamó Persépolis. Se publicó en el año 2000. Se tradujo a más de cuarenta idiomas. La película de animación que codirigió con Vincent Paronnaud ganó el Premio del Jurado en Cannes en 2007. En algunos estados de Estados Unidos intentaron prohibirlo en las escuelas, lo que garantizó que miles de adolescentes lo leyeran con más atención de lo habitual.
Lo que Satrapi entendió que la mayoría de los artistas políticos no entienden: que la intimidad es más subversiva que el manifiesto. Que una niña mirando al lector con el velo puesto y cara de no estar de acuerdo llega más lejos que cualquier discurso.
En 2022, cuando el régimen iraní asesinó a Mahsa Amini, coordinó Femme, Vie, Liberté, un libro colectivo de diecisiete historietistas de todo el mundo. Publicó la versión en persa de forma gratuita en internet para que llegara a Irán.
En 2024 recibió el Premio Princesa de Asturias. Ese mismo año fue elegida miembro de la Academia de Bellas Artes de Francia.
En abril de 2025 murió su marido. En junio de 2026 murió ella.
Persépolis sigue en las librerías. El régimen que dibujó sigue en pie. Y las mujeres iraníes siguen en la calle.
Ella les dio un lenguaje.
Ketika pada suatu hari Lutfi Mardiansyah melabeli novel ini sebagai buku “sangat layak baca”, saya tak langsung percaya. Pertama, karena buku terakhir yang dia rekomendasikan membuat saya menyerah di bab pertama. Kedua, karena dua tahun terakhir minat baca saya memang sedang terjun bebas ke titik nadir.
Tetapi, pada akhirnya The 100-Year-Old Man Who Climbed Out of the Window and Disappeared berhasil masuk ke rak buku dan … well, Lutfi benar. Novel ini memang sangat layak baca.
Novel Ini Lucu Karena …
Petualangan Allan Karlsson dimulai pada hari Senin, 2 Mei 2005, tepat ketika ia berusia 100 tahun. Lansia berusia 100 tahun yang memanjat jendela dan melarikan diri? Ya ampun, belum apa-apa saya sudah kesal karena “kenakalannya”. Tapi tidak apa-apa, karena toh saya mulai tertawa di halaman kelima.
Allan dengan spontan mencuri sebuah koper yang dititipkan kepadanya oleh seorang pemuda. Saya tak akan mengatakan kepada Anda apa isi koper itu karena saya patuh terhadap pasal-pasal spoiler.
Koper inilah yang membuatnya menjadi pelarian, mempertemukannya dengan orang-orang lain, beberapa kawan, beberapa lawan, beberapa lawan yang menjadi kawan.
Hal yang paling menarik dari The 100-Year-Old Man Who Climbed Out of the Window and Disappeared (untuk efektivitas, selanjutnya hanya akan disebut sebagai “novel ini”) adalah bagaimana cerita di dalamnya dibangun.
Jonas Jonasson, sang penulis, tak repot-repot menceritakan latar belakang kota atau letak geografis Kota MalmkÖping (dan kota lainnya) atau hal-hal remeh yang membosankan. Jonasson hanya fokus kepada peristiwa dan aksi yang menggaet pembaca. Lagi pula, kalau pembaca benar-benar ingin, mereka bisa mencari sendiri di peta.
Hal menarik lainnya adalah dekonstruksi atas peristiwa-peristiwa penting di abad kedua puluh. Ya, seperti yang Anda baca di blurb, Allan Karlsson diceritakan sebagai salah satu penemu, atau lebih tepatnya yang memecahkan masalah formula, bom atom di Los Alamos. Lucunya, dia pulalah yang membocorkan formula rahasia itu kepada Uni Soviet. Di bagian ini saya hanya berdoa agar novel ini tidak beredar di Jepang, kalaupun iya, semoga mereka mengerti bahwa ini fiksi belaka.
Bisa dibilang, Allan Karlsson terlibat dan menjadi bagian dari Perang Dunia I dan II karena dia ahli membuat bahan peledak dari mulai dinamit yang dipakai untuk meledakkan rumahnya sendiri sampai bom atom yang kemudian dipergunakan Amerika untuk meluluh-lantakkan Hiroshima dan Nagasaki.
Selain petualangan mendebarkan di masa tuanya, kita juga akan dibawa menelusuri hidup Allan di masa mudanya dan bagaimana ia mengelilingi nyaris separuh bumi.
Lalu, di mana letak kelucuannya? Kelucuan terletak pada bagaimana pengarang menggambarkan sosok Allan. Allan digambarkan sama sekali tidak tertarik kepada politik. Pada masa itu, setiap orang berlomba-lomba ingin menjadi komunis, sosialis, kapitalis, fasis, dan paham lainnya. Sementara kepentingan Allan hanya bertahan hidup dan minum vodka.
Ia tidak digambarkan sebagai orang yang baik hati, tidak juga jahat. Ia hanya … Allan Karlsson, lelaki yang membumi-hanguskan kamp Gulag, gudang senjata Uni Soviet tempat ia kerja paksa. Alasannya sederhana: hanya karena di sana tidak ada vodka dan ia sudah tidak tahan ingin minum.
Humor-humornya memang cerdas menurut saya, humor yang takarannya tepat dan tidak berlebihan. Seperti ketika ayah Allan menulis surat tentang orang-orang Bolshevik di Rusia yang (pada masa itu, tahun 1929) banyak yang buta huruf.
Dalam surat-suratnya, ayah Allan tetap membela orang Bolshevik, karena menurutnya, “Kau tak bisa membayangkan seperti apa abjad Rusia. Tidak heran banyak orang buta huruf.”
Cara Jonasson menggambarkan para pemimpin dunia juga patut diapresiasi. Stalin digambarkan sebagai pemarah dan agak gila. Presiden Truman menjadi teman baik Allan setelah “upacara” minum tequila. Atas dasar kepantasan, saya tidak bisa menyebutkan semuanya, yang jelas tawa saya pecah berantakan saat nama Suharto disebut-disebut.
Ketika asap telah hilang, tidak seorang pun dari 200 juta penduduk Indonesia yang masih menganut ide-ide komunis (supaya aman, komunis dinyatakan sebagai kejahatan). Misi berhasil diselesaikan oleh Suharto, yang sekarang mengundang AS dan dunia Barat untuk turut menikmati kekayaan negeri itu. Ini membuat roda ekonomi berputar, orang hidup lebih baik, dan terutama Suharto sendiri menjadi sangat kaya raya. Lumayan juga untuk serdadu yang mengawali karier militernya dengan menyelundupkan gula. - (hal. 368)
Dari banyaknya tokoh dan teknik dekonstruksi, novel berjudul amat panjang ini mengingatkan saya pada serial The Nicholas Flamel-nya Michael Scott. Jika Scott mendekonstruksi mitologi, Johnasson melebur dan menulis ulang sejarah dunia abad kedua puluh.
Setelah membacanya, barangkali Anda akan tergoda untuk membuka kembali buku pelajaran sejarah waktu SMP dulu dan mencocokkannya dengan peristiwa di novel. Kecuali mungkin bagian peristiwa 1965 dan Suharto karena Anda tidak akan menemukan kebenaran semacam itu dituliskan di dalam buku sejarah mana pun di Indonesia.
Kesimpulannya, saya memberikan pujian atas novel yang dituturkan dengan amat jenaka, baik narasi maupun dialog-dialognya. Novel yang apolitis sekaligus politis. Yang membawa kita ke petualangan dan rekam jejak seorang lelaki berusia 100 tahun sekaligus membuat kita kembali belajar sejarah (yang difiksikan).
Saya tidak tahu apakah novel ini diterjemahkan dari bahasa Inggris ataukah langsung dari bahasa Swedia, tapi saya harus berterima kasih atas kelihaian Marcalais Fransisca, sang penerjemah. Tanpa kerja kerasnya, barangkali novel bagus ini hanya akan berakhir seperti novel Swedia lain, The Girl with Dragon Tattoo edisi Penerbit X.
Satu-satunya kekurangan (dua sebetulnya) hanyalah tata letak yang penuh satu kata menggantung di akhir paragraf dan jenis kertas yang teramat buram. Secara teknis, tidak ada typo atau salah eja. Kalaupun ada, saya akan dengan senang hati memaafkan.
-----
- Judul: The 100-Year-Old Man Who Climbed Out of the Window and Disappeared
- Penulis: Jonas Jonasson
- Penerbit: Bentang Pustaka
- Penerjemah: Marcalais Fransisca
- Tebal: 508 halaman
- Rating: 4/5
Sumatra dan Aceh kena bencana nggak sedih, anak-anak keracunan MBG nggak sedih, nilai rupiah hancur nggak sedih, ada gelombang PHK nggak sedih, Papua dieksploitasi nggak sedih, para petani banyak yang gagal panen nggak sedih, demonstran terbunuh nggak sedih, dan ketika ada tiga anak buah ditangkap karena melakukan kejahatan kamu baru bilang sedih? Kamu ini presiden atau apa sih?
Semakin diliat semakin cakep seri ini ih KNP YAAA (nggak sabar versi orang-orang sial). Ada ide merch nggak selain totebag buat versi orang-orang sial??
Salah satu penulis yang cerpen-cerpennya saya baca waktu awal belajar nulis cerpen beberapa tahun silam. Lucu-lucu & tangkas cerpennya. Ada blog yang sempat menerjemahkan & mempublikasikan beberapa cerpen itu. Cek twit-twit berikutnya...
Ternyata pengalaman kolektif, karena aku juga gitu. Tiba-tiba random banget pengen makan gacoan, tapi setelah makan kayak lamgsung mikir, kenapa tadi kayak orang ngidam ya, padahal mah biasa aja ini di lidah, apalagi di perut 😭
Jujur saja ya, mie gacoan itu rasanya biasa saja. Tapi aku (atau mungkin beberapa dari kalian?) seringnya masih ngasih space untuk mie dalam kehidupan. Entah itu mie ayam, mie instan, mie ramen, dan lain-lain, termasuk mie gacoan ini.
Nggak tau ya, di waktu-waktu yang tak ditentukan, yang itu amat sangat jarang, aku kadang pengen makan mie gacoan. Padahal aku tahu, setelah makan mie itu, besoknya langsung bilang, udah besok gak usah beli lagi. Selain males nunggu, nggak tahan sama lalu-lalang orang ramai, kadang setelah makan, mulut kayak ngerasa enek aja.
@karirfess Terus terang aja kak sama suaminya. Biasanya sih ga mempan kalo sekali, perlu berkali-kali. Tunjukin kalo kamu marah, kamu ga terima tabunganmu kepake terus. Bilang kamu pingin seneng2 ngumpulin duit. Ungkit kamu sudah sabar nememin suami berkembang, dan sekarang sudah capek.
@karirfess paksa kak. harus dipaksa biar ada jiwa kerja keras nya.
btw, keren loh kamu kak bisa punya kerjaan freelancer yg lumayan gitu uang nya.
apalagi sampe bisa bayar karyawan juga, ttp semangat dan pandai nabung kak. soal laki2 harus dipaksa pake uang nya.