Nih koreng lagi..
Kebohongan publik skala raksasa di era Presiden ke-7 Joko Widodo akhirnya terbongkar setelah klaim investasi fantastis senilai 174 T rupiah di Pulau Rempang terbukti hanya hisapan jempol belaka.
Sekretaris Jenderal PDIP, Hasto Kristiyanto, mengkritik wacana pelibatan Babinsa dan Bhabinkamtibmas dalam pengawasan wajib pajak. Menurutnya, penggunaan unsur TNI dan Polri untuk kepentingan perpajakan tidak dibenarkan dan berpotensi menjadi bentuk penyalahgunaan kekuasaan negara.
Hasto menilai urusan perpajakan seharusnya diselesaikan melalui pendekatan administrasi dan peningkatan kesadaran masyarakat, bukan dengan melibatkan aparat keamanan. Ia juga mengingatkan agar aparatur negara tidak digunakan di luar fungsi utamanya.
#PDIP #HastoKristiyanto #Babinsa #Pajak #BeritaNasional
Blunder terbesar bangsa ini adalah ketika pemerintah memutuskan melibatkan unsur TNI-Polri, khususnya Babinsa dan Bhabinkamtibmas, dalam pengawasan wajib pajak.
Langkah ini bukan sekadar kesalahan kebijakan, melainkan pelanggaran prinsip dasar negara hukum yang memisahkan fungsi pertahanan-keamanan dengan urusan sipil seperti perpajakan. Alih-alih memperkuat kesadaran pajak melalui pendekatan administratif, edukasi, dan reformasi birokrasi, negara justru mengerahkan aparat bersenjata ke tingkat desa dan kelurahan—menciptakan suasana intimidasi dan ketakutan di masyarakat.
Akibatnya, kepercayaan publik terhadap negara akan runtuh, ruang bagi penyalahgunaan wewenang terbuka lebar, dan potensi konflik horisontal semakin nyata: warga yang taat pajak versus yang tertekan, kaya versus miskin, atau kelompok masyarakat yang merasa didiskriminasi.
Ini bukan solusi, melainkan bom waktu yang bisa memecah belah bangsa dari dalam.
@ainunnajib NU fokus ke umat saja, seperti Muhammadiyah yg fokus ke pendidikan dan kesehatan. kalau masuk politik berat, 1 orang yg korupsi seperti yakut, yg kena getahnya kader NU. pisahkan antara politik dan agama. jgn pakai dalil agama membenarkan kemungkaran
@DJ_Luvly@ainunnajib Bener ini @ainunnajib, rp kl mau coba2 bikin partai monggo lho, disegerakan biar ada waktu bikin program, bisa cepet ganti pengurus cabang, pecat sana pecat sini untuk pengurus yg masih di @pkb biar ujungnya Nahdiyin jadi penonton krn semua jadi bonsai
@ainunnajib 2014-2019 sudah berkuasa , malah disia-siakan dengan
• menyusahkan rakyat terutama terkait urusan haji
• kolaborasi dengan zionist
• usir ulama dan bubarkan pengajian yg kalian anggap beda padaha satu aqidah
Many more
Pak @NataliusPigai2 saya setuju dgn bapak, seringkali profesor itu dibesar2kan saja. Sy izin mau belajar memahami HAM dari bapak. Sy mau diskusi dan debatkan satu persatu kasus HAM di indonesia yang katanya bapak udah amat pahami itu. Sebut saja kapan dan dimana sy bs belajar🙏
Mengapa dalam keadaan sakit, wajah ancur, body ringkih, gesture tertatih, dia masih hobby tampil?
Di panggung, foto-foto bersama termul, menerima tamu, pergi ke mana-mana (kecuali ke pengadilan)?
Karena dia, menurut keyakinan saya, menjalankan strategi Playing Victim.
Merasa jadi korban karena terus "dianiaya" oleh RRT.
Dihina-hina dan direndah-rendahkan padahal sedang sakit.
Jadi, pada dasarnya, dia memaksakan diri tampil di panggung PSI bukan untuk mendukung partai huhu, tetapi menggunakan panggung itu untuk tampil sebagai "si sakit yang terus disakiti".
Perhatikan kata-katanya yang diulang-ulang dengan suara parau:
"Saya masih sanggup"
"Saya masih sanggup"
"Saya masih sanggup*
Tanpa dia sadari, ada letupan bawah sadar yang tak mampu dia kontrol, ada cuatan batin yang tak mampu dia sadari, dan keduanya terekam oleh publik.
Sehingga, alih-alih bersimpati, publik justru banyak berkomentar sinis:
"dalam keadaan sakit pun ambisinya masih menggelora tanpa batas, sudah pernah jadi pengusaha, walikota, gubernur, presiden, anaknya wakil presiden, mantunya gubernur, anak bungsu ketua partai"
Yang luarbiasa menurut saya,
demi ambisi yang tak ada batas, bahkan sakitpun jadi komoditas.
Dunia baginya seakan tak pernah cukup, dan yang membatasi tampaknya hanya mati.