Kenapa negara lebih sibuk memberi makan daripada mencerdaskan kehidupan bangsa?
Karena perut kenyang membuat orang patuh.
Pikiran kritis justru membuat penguasa tidak nyaman.
Yang cerdas sulit ditipu.
Yang kenyang mudah disuruh diam.
Kurang dari 24 jam, Lembaga-lembaga PBB langsung merespon surat resmi Pemerintah Aceh terkait permohonan bantuan pascabencana Sumatra.
Dua lembaga PBB, United Nations Development Programme (UNDP) dan United Nations Children's Fund (UNICEF) mengatakan sudah menerima surat resmi dari Pemerintah Aceh terkait permintaan bantuan penanganan pascabencana yang meluluhlantakkan sejumlah wilayah di Aceh.
Kepala Perwakilan UNDP Indonesia Sara Ferrer Olivella membenarkan surat itu masuk pada Minggu (14/12). Sara mengatakan, saat ini mereka sedang menganalisis bentuk dukungan terbaik yang akan diberikan kepada wilayah Aceh yang terdampak.
"Saat ini, UNDP sedang mengkaji bentuk dukungan terbaik yang dapat diberikan kepada para national responders atau tim penanggulangan bencana serta masyarakat terdampak, sejalan dengan mandat kami dalam pemulihan dini (early recovery)," kata Sara Ferrer dalam keterangan tertulisnya.
Selain lembaga PBB UNDP dan UNICEF, Secara khusus Pemerintah Aceh juga secara resmi telah menyampaikan permintaan keterlibatan beberapa lembaga internasional atas pertimbangan pengalaman bencana tsunami 2004, seperti IOM, dan USAID.
"UNICEF telah menerima surat dari Pemerintah Provinsi Aceh dan saat ini sedang menelaah bidang-bidang dukungan yang diminta, melalui koordinasi dengan otoritas terkait, untuk mengidentifikasi kebutuhan prioritas di mana UNICEF dapat berkontribusi dalam upaya penanganan yang dipimpin oleh pemerintah," kata Kantor Perwakilan PBB di Indonesia Senin kemarin.
"Tim UNICEF di Kantor Lapangan Aceh telah berada di lapangan dan diperkuat dengan tambahan keahlian teknis, khususnya di bidang yang berkaitan dengan kesejahteraan anak," sambung Kantor Perwakilan PBB dalam keterangan resminya.
Sakit jiwa !!
Pemerintahan Jokowi memberikan subsidi 25 T/thn pada bidang Batubara.
Jokowi itu memang harusnya dibawa ke pengadilan untuk mempertanggungjawabkan banyak kerugian negara akibat kebijakan²nya.
Belum korupsi ratusan bahkan ribuan T dari dana covid19, bansos, dll
Saya harus akui, jantung saya berdetak kencang, ingatan saya kembali menyergap tajam saat melihat berita bencana di Sumatera pekan ini.
Dulu, hampir dua dekade lalu, saya ada di sana. Bukan sebagai pengacara, melainkan penerbang sipil yang dipanggil negara, berdesakan di lambung pesawat tua. Ya, pesawat TNI AU uzur.
Kami terbang gila-gilaan, hampir tidak kenal pagi, siang, atau malam. Seringkali, kami sudah harus take off dari Halim sebelum subuh. Tujuannya: Banda Aceh.
Kami bawa Hercules C-130 yang sudah sepuh itu. Pesawat itu, Bapak-Ibu sekalian, adalah potret jujur bangsa ini: tua, berisik, kurang terawat, tapi untungnya sangat andal dan pekerja keras.
Di dalam perutnya yang gelap, kami duduk di jaring samping. Telinga berdengung raungan Allison T56.
Jika Anda mau tau, bau di dalam kabin itu adalah campuran unik: solar, minyak mesin yang bocor halus, keringat relawan yang tidak mandi tiga hari, dan aroma timpahan mi instan basi.
Intensitasnya? Luar biasa. Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) mendadak menjadi terminal paling sibuk di dunia. Ada Hercules TNI, ada C-17 Amerika, ada Ilyushin dari Rusia, semua berebut slot. Air Traffic Controller (ATC) kita seperti pesulap. Semua ingin cepat, semua jadi pahlawan tanpa berharap bintang.
Ironinya adalah pada sistem logistik kita.
Di satu sisi, kita punya Hercules TNI yang bertempur mati-matian, mengangkut puluhan ton barang. Di sisi lain, muncul pahlawan yang datang dari sektor yang paling tidak kita duga: Maskapai Sipil.
Ya, maskapai-maskapai besar seperti Lion Air dan Batavia Air ikut menyumbangkan free lift dari Jakarta. Mereka menggunakan pesawat komersial, kursi dilepas, diisi karung beras. Mereka bergerak karena kemanusiaan, mendahului banyak surat izin dan nota dinas yang mungkin masih diketik di kantor-kantor pusat.
Dan pahlawan sejati di udara adalah Susi Air. @susipudjiastuti Saat pesawat-pesawat besar TNI dan asing fokus ke Banda Aceh, Meulaboh dan Simeulue masih jadi titik buta. Landasan hancur, Susi dengan dua pesawat kecil Cessna Caravan-nya mengangkut obat-obatan dan susu bayi. Susi dan crew pilot asingnya terbang nekat, masuk ke landasan perintis. Mereka adalah antitesis dari birokrasi yang kaku. Contoh nyata bagaimana rule of law itu sejenak harus tunduk pada rule of need. Kebutuhan lebih dulu, baru administrasi.
Saya ingat, interaksi kami dengan crew Susi itu terasa sangat kontras. Di dekat Hercules yang penuh serdadu, mereka berdiri di samping Caravan kecil, mengenakan kaos, mengangkut sendiri kardus-kardus tanpa forklift mewah. Salah satu pilot asingnya pernah menyindir, "Saya pikir tugas saya hanya lobster, ternyata saya juga delivery harapan kemanusiaan." Tawa kami pecah. Tawa terdengar pahit tapi kejujurannya nyata hanya berharap pahala.
Saat ini, kita kembali menghadapi bencana di Sumatera. Apa yang berubah? Infrastruktur mungkin lebih baik. Teknologi komunikasi pasti lebih canggih. Namun, saya khawatir, jiwa gotong royong yang non-bureaucratic itu justru semakin menipis. yang jelas saya tidak dipanggil lagi menerbangkan pesawat, mungkin pilotnya sudah banyak. Mungkin juga karena memang tak ada landasan yang bisa didaratin fix wing. Mungkin juga kita makin terbiasa menunggu instruksi pusat, menunggu dana cair, menunggu SOP selesai dicetak.
Padahal, semangat yang dibutuhkan saat bencana adalah semangat Susi Air: bergerak cepat, tidak bertanya izin, dan langsung menuju titik yang paling terluka. Semangat yang harusnya diwarisi oleh setiap aparatur sipil dan militer.
Sudah saatnya kita belajar dari Hercules tua dan Cessna kecil.
Aset terbaik bangsa ini bukanlah pesawat baru atau regulasi yang tebal, melainkan keberanian mengambil risiko dan keikhlasan untuk bergerak tanpa menunggu tepuk tangan.
Jika tidak, setiap bencana hanya akan jadi pengulangan tragedi birokrasi yang mematikan.
#ethadisaputra #majalahforumkeadilan #tsunamiaceh #operasikemanusiaan #hercules #susiair #dahlaniskan #hukumdanlogistik #militersipil #bencanaindonesia
@tanyakanrl Habibi & Gus Dur.
Masalahnya dua orang ini punya visi yg ga bs dimengerti mayoritas.
(Wajar, dua2nya pny kecerdasan yg jauh diatas rata2 78)
Berani. Ga peduli jabatan. Berani melawan arus.
Biarpun "galak" & keras kepala, dua2nya devoutely loyal ke wanita kesayangan.
Dokter Zara Yupita Azra tersangka pemerasan dan bully yg picu korban bundir.
Tak disanksi apapun oleh @undip malah akan diluluskan lebih cepat barengan dengan kakak tingkatnya Agustus 2025. Harusnya dia lulus 2026.
Tandai muka dan namanya.
Buat @undip , shame on you
-star Gila sih, keren banget! Dari lagu ke lagu, semuanya maksimal. Vokal, dance, vibes bikin merinding! Jennie gak main-main, dia gak cuma tampil, tapi mendominasi. Penonton pecah, crowd hype parah! Jennie never delivers a dull performance😎 Perform favorit kalian?
perempuan hamil yg risikonya badan rusak permanen -> udh kodratnya emang harus begitu
perempuan pasang kb, entah IUD atau hormonal dgn segala risikonya -> ya harusnya begitu
laki2 vasektomi -> keputusan besar harus dipikirkan matang2
wkwkwkwkwk
Episode Bête Noire mungkin bukan episode paling kuat di 2 Black Mirror season 7 – setidaknya buat saya. Tapi ada gimmick menarik yang di sini dilakuin sama Charlie Brooker yang belakangan bikin penontonnya ikutan bingung kayak lagi kena Mandela Effect.
Ok, saya bakal jelasin dikit apa sih yang sebenarnya dimainin di gimmick satu ini.
* Warning! Spoiler alert!
Sy mau ngajuin pengaduan min, sy beli tiket jakarta - padang Rp 850.000 di agent miyor pulogebang untuk tanggal 27 Maret 2025, Harusnya sy dapet bus jawa platinum class. Tapi di H-3 dibilang bus jawa platinum class sedang perbaikan, sy bilang oke, ditunggu kabar baiknya. -cont-