Seharusnya semua luka-luka ini kurawat sendiri saja. Daripada mengizinkanmu untuk menyembuhkanku yang justru berujung aku harus terluka lagi dan jatuh lebih lama.
Taraf bahagia orang mah beda-beda. Bagusnya sih bisa bahagia di hal-hal yang sederhana. Liat foto kucing, ketawa. Humor sepele, ketawa. Ya gapapa.
Nikmatin hari. Dibawa santai. Izin dulu ke toilet cuma buat jalan pelan. Gapapa.
Aku pernah setia,
pernah percaya,
pernah mengizinkan,
pernah mencoba untuk tak curiga,
pernah juga mengerti mungkin kau bosan dan ingin sekedar bermain dengan yang lain.
Tapi, brengseknya, itu adalah cara yang kau pakai untuk menyingkirkanku pelan-pelan.
Aku ingin sekali membenturkan kepala sampai lupa ingatan hingga namamu tak lagi menggangguku. Melihat orang lain dengan namamu tidak harus membuatku memutar seluruh kenangan brengsek itu lagi.
Aku menatap matanya dan bukan lagi rasa suka yang ada di sana, melainkan rasa lelah karena tak sanggup lagi untuk bertahan lebih lama. Seperti menunggu waktu yang tepat untuk berhenti; lalu pada akhirnya melangkah pergi.
Kau mulai membalas singkat semua percakapanku.
Kau tidak lagi dengan semangat menceritakan hari-harimu.
Bahkan, kau tampak kesal ketika aku memintamu bercerita perihal apa yang kau lakukan hari itu.
Kau mulai terlihat lelah.
Dan aku mulai takut kau akan pergi sebentar lagi