Aku sudah pernah berbaju orange
Aku tidak pernah membayangkan akan sampai di titik ini.
Memakai baju orange, berdiri di tengah kerumunan, dilihat banyak mata, seolah hidupku diringkas menjadi satu warna. Tapi kalau mereka mau tahu, ini bukan awal dari ceritaku. Ini hanya satu potongan kecil dari jalan panjang yang sudah kupilih, sadar atau tidak.
Baju orange ini,
Yang sering diteriakkan buzzer dan termul untuk menghinaku
Ketika dia ku sandang di tubuhku, justru
Seperti baju zirah yang membungkus perjuanganku.
Baju orange ini, di tubuhku adalah tanda perlawanan terhadap kebohongan, kepalsuan, kezaliman.
Tanda bahwa aku terus berdiri tegak dan senyuman karena aku tahu nilai apa yang terkepal di tanganku.
Aku hanya berjalan dengan apa yang kupercaya. Kadang langkahku pelan, kadang aku ragu, tapi aku tidak pernah benar-benar berhenti.
Aku tahu, apa yang kusuarakan tidak selalu nyaman untuk didengar. Bahkan mungkin membuat sebagian orang terusik. Tapi bagaimana aku bisa diam, kalau hatiku sendiri tidak bisa diajak kompromi?
Di balik senyum ini, ada banyak hal yang tidak terlihat. Ada lelah, ada takut, ada pertanyaan yang tidak selalu punya jawaban. Tapi ada satu hal yang selalu kutahan kuat-kuat: aku tidak mau kehilangan diriku dan menggadaikannya demi kenyamananku.
Hari iitu, melihat aku berbaju orange, mungkin banyak orang iba padaku, menangisiku.
Tapi di dalam diriku, muncul bara api membara seterang baju ini.
Yang membuatku tetap utuh dalam langkahku dan berkata:
Kalau ini memang harus aku jalani, ya sudah… aku jalani.
Bukan untuk membuktikan apa-apa ke dunia. Tapi supaya nanti, saat aku melihat ke belakang, aku tahu,
aku tidak pernah mengkhianati kebenaran yang kuyakini.
Iran's President Ebrahim Raisi, who just "died" in a helicopter crash, sought to unite the the world against the New World Order.
He joined BRICS and strengthened his alliance with Russia.
Advocated for de-dollarization of nations across the world.
Supported Palestine over Zionism.
Promoted a "Look East" strategy and allied with Africa and Latin America.
The last person who took this approach was a man named Muammar Gaddafi, who was taken out through warfare by NATO.
Gaddafi wanted to build an African Union with its own gold-backed currency.
BRICS is doing just that.
Jejaring Oligarki Prabowo-Gibran
Bag IV
Gibran Rakabuming Raka
PT Rakabu Sejahtra, perusaaan yang didirikan Jokowi tak punya afiliasi langsung dengan bisnis tambang. Namun, perusahaan ini punya relasi bisnis dengan sejumlah perusahaan lain yang lini bisnisnya terkait dengan sektor tambang.
Toba Sejahtra, perusahaan milik Luhut, adalah salah satunya. Toba menjadi pemegang saham di PT Rakabu Sejahtra. Semula, Gibran menjabat sebagai Komisaris, lalu posisinya digantikan adiknya, Kaesang Pangarep.
Kaesang diketahui merupakan pendiri GK Hebat, perusahaan induk yang membawahi Sang Pisang, Yang Ayam, Ternakopi, Siap Mas, Let’s Toast, dan Enigma Camp, serta menjalin kemitraan bisnis dengan para pelaku usaha mikro, kecil dan menengah.
GK Hebat berdiri sejak 2019 dari kongsi tiga perusahaan, masing-masing PT Siap Selalu Mas milik Gibran dan Kaesang; PT Wadah Masa Depan yang terafiliasi dengan keluarga Gandi Sulistiyanto (bekas Direktur Utama Sinar Mas, kini menjadi anggota Wantimres); dan PT Gema Wahana Jaya milik keluarga Theodore Permadi Rachmat. Di GK Hebat, Anthony Pradiptya, anak dari Gandi Sulistiyanto, menjabat sebagai direktur.
GK Hebat, merujuk laman websitenya, bermitra dengan Sinarmas dan Astra. Sinarmas merupakan perusahaan konglomerasi dengan ratusan unit usaha, termasuk pertambangan batubara.
Pemegang saham lainnya di GK Hebat, adalah TP Rachmat melalui PT Gema Wahana Jaya. TP Rahmat adalah pendiri Triputra Group. TP Rahhmat juga tercatat sebagai pemegang saham langsung sebanyak 2,3% dan Presiden Komisaris di Adaro, perusahaan yang didirikan Garibaldi Thohir. Saham Adaro juga tercatat dimiliki oleh Adaro Group sebanyak 13,3%.
Selengkapnya: https://t.co/84lvuSbKNj
#PemiluMemilukan
Sdrku,utk memulai suatu kebaikan: mari kita mulai dari diri kita (dg m'jadi contoh), kita mulai sekarang (saat ini) juga, dan kita mulai dari hal2 yg dapat/mudah kita lakukan. Mari kita tdk menunggu mampu melakukan yg besar,krn tindakan kecil yg terus dilakukan akan m'jadi besar.