πππππ ππππββββDekatlah, biar lidahku bisikkan kata yang kau sangka rasa, sedang ia cuma buai halus agar kau sudi tenggelam.
βIya, Bunda. Iya,β candaan terselipββbagai sudah akur saja dirimu. Tidak ada salahnya. Ini pertama kalinya bagi Brahmantya, walau di umurnya yang sekarang bukan hal aneh bilamana ia menanggung seorang anak.
Kau pula seorang anak, terlepas dari darah yang mengalir tak memiliki asal yang sama. Namun kau dicintai, Raras. Kau dicintai oleh pria yang dicintai oleh Brahmantya, maka cinta ini pun sudah seturutnya dibaginya padamu jua.
@sukmalunga Mana sampai hati Brahmantya memarahimu, kalau dirimu begini gemasnya. Hanya bisa mengalah kalau soal begini.
"Ya, ya. Ayo jajan kalau begitu. Kamu mau ikut atau aku beli sendiri saja?" tanyanya, karena jika kau mau menunggu layaknya tuan puteri pun tidak apa, @sukmalunga.
@sukmalunga "Jajan lagi?" Brahmantya kepalang tahu, sudah seperti catatan pengingat di kepala kalau kekasihnya ini senang jajan. Kedua tangan meraih pipimu demi mengunyel pipiββagaknya kegemasan sendiri. "Makan dulu minimal? Kenyang kamu makan telur gulung?"
"Enggak pernah terlalu sibuk buat kamu." Brahmantya melantur kelewat asal bagai gombalββnamun, memang benar begitu. Tangannya masih meraih mana yang bisa dibereskan, sebelum benar-benar membersihkan sisanya. "Ya, sudahlah. Makan di luar yuk, @sukmalunga? Kamu mau makan apa?"
@sukmalunga Yang seharusnya diejek malah merasa bangga, tidak ada malu. Atau tidak punya malu, sebab hanya dirimu yang punya kesempatan untuk tahu itu. Hanya Yasa, bukan yang lain-lain. "Diusap-usapnya sama kamu kok. Senang aku," sahutnya kelewat bangga.
γ €
"Orang yang kepalanya harus diusap-usap supaya bisa tidur nggak pantes ngomong begitu." Biar kurang setara, tapi setidaknya Brahmantya juga punya sisi yang tidak banyak orang tahu.
γ €
Walau sedemikian rupa kacaunya dapur miliknya, mana tega Brahmantya untuk marah. Juga mana bisa dibiarkannya dirimu membereskan semuanya sendirian. "Mau masak apa? Kenapa enggak panggil aku?" tanyanya pada @sukmalunga, lantas perlahan-lahan mulai membereskan yang bisa dibereskan.
@sukmalunga Seringai di wajah Brahmantya terasa semakin mengembang, mana bisa ia melepaskan ini dari kepalanya. Tidak kuasa ia menahan keinginan untuk menggoda kesayangannya. "Mas Maha Yasadiputra yang terkenal bisa apa saja itu, ternyata belum lulus kelas memasaknya?"
"Hayo, habis ngapain kamu?" Brahmantya tidak menurut, tidak akan pernah. Langsung ia melepaskan diri menuju dapur, mau mengungkap rahasia di balik lukamu. Dan ... wah, luar biasa memang, @sukmalunga. Berantakan, berantakan, dan berantakan.
"Kamu ngapain tadi? Aku beresin saja ya?" Brahmantya lantas berdiri, sebab apapun yang kau lakukan kini buat ia khawatir jika semakin melukaimu, @sukmalunga.
@sukmalunga Brahmantya hanya membalas dengan senyum. Sedikit banyak lega sebab warna telah kembali di wajahmu. Rasanya akan lebih bijaksana bila tidak mempertanyakan lebih lanjut mengenai air mukamu yang tadinya berubah pasi. "Iya, sama-sama," sahutnya dengan senyum.
"Enggak, cuma luka gores kecil," jawabnya berusaha menenangkan. Tepukan-tepukan pada luka goresmu semakin memelan, hingga ia rasa cukup untuk ditutup plester. "Sakit? Terlalu ketat?" tanyanya, jemarinya ikut mengusap luka @sukmalunga harap-harap bisa menenangkan.
@sukmalunga Brahmantya menepuk-nepuk luka itu selembut mungkin dengan kapas yang dituang obat, tidak mau melukaimu lebih jauh lagi. Sejenak, ia memandang wajahmuββpucat, sangat pucat. Namun lukamu belum sepenuhnya diobati, khawatir jika dibiarkan terlalu lama akan memperparah.
Brahmantya membongkar laci tempat ia taruh kotak obat, ingat betul kalau ia menaruhnya di laci paling bawah di nakas. Tangannya langsung menggenggam satu plester, obat luka, serta kapas. "Yang mana yang luka?" tanyanya sembari berjongkok di hadapan @sukmalunga.
@sukmalunga Tatap matanya langsung melotot melihat lukamu. Sontak Brahmantya berdiri dan menggenggam bahumu dengan tergesa. "Di laci. Kamu duduk di sini," pintanya sembari mendudukkan tubuhmu di tempatnya duduk.