Date Approved :
Dia punya emotional intelligence.
Dia tau tujuan dan prioritas hidupnya.
Dia punya pola hidup yang sehat.
Dia rajin ibadah.
Dia pekerja keras.
Dia punya jiwa provider.
Dia gak omong kosong.
Dia pendengar yang baik.
Dia gak patriarki.
Dia punya pola fikir dewasa.
Dia sadar kalo pendidikan itu penting.
Dia paham komunikasi lebih penting daripada asumsi.
“yaudah, kalau ngga bisa beli bensin jalan kaki aja”
TROTOAR LU NOHHHHH BOLONG BOLONGGGG trotoar aja dipake buat parkir liar segala gala nyuruh jalan kaki
You know how brilliant their idea to choose Bundaran HI sebagai tempat "aksi" mereka adalah? It’s because they know Bundaran HI adalah pusat titik keramaian Jakarta.
Choosing Bundaran HI means maximum exposure. Akses ke semua lapisan masyarakat itu potensial banget buat attract publik. From the corporate slaves stepping out of their Sudirman offices, people commuting, to the general public—everyone is literally there. It is the ultimate hub to get eyes on your movement.
Plus di Bundaran HI, segala jenis transportasi umum ada. It’s the literal heart of Jakarta's transit. So obviously, the traffic will be disrupted. But honestly? In modern activism, that disruption is a feature, not a bug. When the traffic gets a bit chaotic, people are forced to look. It creates that instant "Wait, what’s happening over there?" effect.
As someone who used to organize actions and protests too, let’s be real for a second: pemilihan Bundaran HI ini bukan lagi buat "protes" langsung ke pihak yang diprotes.
Why? Karena ya udah pasti gak bakal didengar. Pointing fingers directly at the institutions just ends up making you tired, drained, and honestly, males banget. It’s a dead end.
Makanya mereka pilih Bundaran HI. It’s no longer about yelling at a brick wall; it’s about controling the narrative and winning the public's attention. If the authorities won't listen, you make the entire city talk about it instead. And there’s no better stage for that than Bundaran HI.
sedih banget setiap ada aksi kayak gini. rasanya aneh aja, kenapa memperjuangkan kepentingan rakyat selalu harus lewat teriak, turun ke jalan, bahkan ngorbanin banyak hal. padahal kalau rakyat hidup layak dan negara berkembang karena kinerja pemerintah yang baik, mereka juga ikut untung. why is choosing the people always treated like the hardest option? nangis.
"seporsi kemenangan"
ketemu pria dewasa yang ga perlu diajarin jadi pria, penuh dengan inisiatif, act of service, gila komunikasi, ga nyepelein hal kecil, aku boleh ngambek dan dibujuk tanpa ditinggal, how lucky i am.