ㅤ
ㅤ
Caught between two worlds wandering as half 𝗵𝘂𝗺𝗮𝗻, half 𝗺𝘆𝘀𝘁𝗲𝗿𝘆. Neither fully belonging, nor entirely lost. I 𝘄𝗮𝗹𝗸 a path unknown, searching for the 𝗽𝗹𝗮𝗰𝗲 where I truly belong.
ㅤ
ㅤ
Bekas gigitan tepi lubang yang tersembunyi di belahan pantatnya, masih ada. Aku mengulangi hal sama, membasahinya dengan lidah dan menggodanya dengan gigitan di tempat yang sama. Barulah satu jariku menyapa bagian hangat dan ketat milik @traenare
Lidahku membasahi dada Aria mengukir setiap jejak kedua gundukan berotot itu secara bergantian.
Satu persatu helai kain di tubuhnya jatuh ke lantai. Aria telanjang bulat, kepalaku berada di antara pahanya. Kemarin aku sudah berhasil menciumi titik hitam tanda lahir dimilikinya.
Jadi, aku masih memiliki hati nurani kesehatan suamiku nomer satu. "Aria... aku mau gigit, mau makan lemak ini, mau hisap ini..." kataku setengah menahan diri, mengusap lekuk pinggang dan dadanya dengan putus asa. @traenare
"Kamu... enak... aku mau kamu... enak... kamu punyaku..." racauku dalam seringai dan pandangan fokus padanya.
Punggungku kembali tegap, setengah kesadaranku masih memikirkan kondisi Aria namun satu sisi aku ingin sekali membuatnya berantakan.
"My body feels strange..." suaraku rendah, menatap tajam ke arahnya. Kedua tangan menumpu di masing-masing sisi Aria, menguncinya dengan kungkungan dan tatapan.
Wajahku merunduk, mengendus-endus ceruh lehernya. Bibirku mulai melakukan sesuatu disenanginya mengecupi @traenare
Aku menggendongnya, menaiki anak tangga, masuk ke dalam dan melempar tubuh Aria di atas kasur. Benar, aku harus melakukannya itu perintah isi kepalaku.
Hembusan napasku berat, aku merangkak membelah paha Aria supaya kaki itu melebar.
Aku menangis entah oleh alasan apa, aku merasa ketakutan akan sesuatu. Jantungku rasanya sakit. Tanganku mencengkram punggungnya erat dan wajahku mengusap di bahunya menghapus jejak air mata dengan percuma. @traenare
Tubuhku bangkit dari posisi sebelumnya, langkahku cepat melepaskan penyangga leher melemparnya asal.
Tanpa sadar air mataku berjatuhan membasahi pipi tepat saat Aria memanggilku. Langkahku berlari menerjangnya dengan pelukan erat, sangat erat.