🤍 bayangin mama gue khawatir karna adek gue ga ada yang jemput sekolah, padahal gue seumuran dia bahkan dulu gue lebih kecil (kelas 3 SD) gue udah disuruh pulang sendiri pake angkot jarak SD kerumah gue 3 Km an. TENANGIN GUE ANJIR 😭
abis baca cerita dr spesialis ttg suami egois, patriarki, dab sejenisnya tapi bawa-bawa agama buat nutupin kebodohannya.
jadi istrinya lagi kontrol kehamilan, trs hasil USGnya: letak sungsang, TBJ (tafsiran berat janin) 4000 gram, hamil usia kehamilan 41mggu (ini dah mateng siap lahiran), cairan ketuban habis, dan ada lilitan tali pusat 2x dilehernya.
dikondisi kaya gini harusnya persalinan operasi SC no debat. dan ternyata ini kehamilan kedua si ibu, dmn kehamilan pertama ibunya lahiran pervaginam dengan ruptur uteri ALIAS RAHIMNYA ROBEK gara2 bayi besar jg. tapi ibunya menolak persalinan operasi SC dan blg gini.
🤰Tapi suami saya GAK izinin saya lahiran SC krn GAK sesuai syariat agama. Bagi suami saya, beliau selalu berpegang klo mau menjadi seorang istri yg mulia, sempurna disisiNYA hrs TAAT & berkorban utk suaminya yaitu salah satunya dgn persalinan normal. Krn bagi dia seorang Siti Maryam pun bisa melahirkan Nabi Isa berjuang sendirian & sebaik2nya penolong adalah Allah SWT.
Lailahaillallah.....
Akhirnya si dr. SpOG nya manggil suaminya buat diedukasi dan dijelasin keaadan istrinya. Tau gak suaminya blg gimana?
🧔♂️: Emang beneran ga bisa dicoba normal dok? Soalnya ibu saya, kakak2&sodara saya semuanya bisa lahiran normal smua tuh. Emang istri saya males gerak aja dok kerjaannya cm ngurus anak aja trs dia ga mau berkorban sakit sedikit bw lahiran normal dok. Oiya sbaiknya dokter ga usah mencampuri urusan keluarga dan keputusan saya ttg persalinan istri saya. Ini jg saya laknat istri saya krn sudah periksa ke dokter yg bukan muhrim tanpa izin dari saya.
ALLAHUAKBAR!!!!
🚨🚨DOSEN PEREMPUAN BEBANNYA DOBEL🚨🚨
Ada penelitian yang sangat serem banget, karena berani membongkar rahasia umum, yg tjd di dunia kampus. sebuah factos yg kerap disepelekan, padahal penting.
riset yang dilakukan oleh
Bu. @nabiylarisfa PhD, @kpertiwi29 PhD, Fitria H.O
Para penulis menjelaskan bahwa menjadi dosen perempuan di Indonesia itu tantangannya dobel. ya saya mengalami sendiri, S3 di @UINJKT kemarin sambil momong anak gadis ku. . . jujur capek banget. banyak Ya Allah... Ya Allah nya.
Perempuan, selain harus pintar secara akademik, mereka juga sering diberi beban kerja non akademik, yang melelahkan tapi tidak dianggap sebagai prestasi. Ini adalah pengingat penting bahwa sistem pendidikan kita masih punya utang besar dalam urusan keadilan bagi perempuan.
>>rangkuman riset ini, lebih lengkap nanti baca sendiri<<
🌱 Riset ini mengungkap bahwa dosen perempuan sering dikasih tugas-tugas administratif atau urusan "rumah tangga" kampus (seperti mengurus dokumen, rapat-rapat kecil, atau pelayanan) yang menyita waktu, tapi sayangnya tugas ini tidak membantu mereka naik pangkat atau jadi profesor.
🌱 Ada tekanan budaya bahwa perempuan harus jadi sosok yang "pengabdiannya" tanpa batas (seperti konsep Ibuisme). Akibatnya, saat diberi kerjaan lebih, mereka sulit menolak karena merasa itu sudah "kodrat" atau bentuk bakti, padahal itu sebenarnya beban kerja tambahan yang tidak adil.
🌱 Di zaman sekarang, kampus menuntut dosen untuk terus ngebut mengejar prestasi (mode neoliberal). Masalahnya, standar sukses ini hanya melihat hasil akhir (seperti jumlah jurnal), tanpa peduli bahwa dosen perempuan waktunya sudah habis duluan untuk mengurusi urusan birokrasi dan pengabdian yang tidak kelihatan tadi.
Jadi... minat jadi dosen ngak?
https://t.co/8jOs07GuZj