"Etika" yang dijunjung di dunia kerja Indonesia ini kebanyakan soal pakaian, penampilan, atau sopan santun sama atasan.
Tapi bukan etika soal ngasih gaji yg LAYAK, jam kerja yg manusiawi, job desk yg sesuai, keamanan pulang shift malem terutama buat perempuan.
And so on..😀
JUJUR GUA UDAH DITAHAP GIMANA CARANYA BIAR BERITA KEBAKARAN HUTAN INI RAME!!
INI KEADAAN DI JAMBI SEKARANGGGG
ITU PEMIMPIN YANG LANTIK MENTRI DENGAN GAJI GEDE SAT SET BANGET, GILIRAN BENCANA DAN MENANGGULANGI KARHUTLA LEPAS TANGAN!
BISA GAK ITU YANG NGASIH INFO KE PRESIDEN TU AKURAT JANGAN BILANG BAIK BAIK AJA
gimana ya cara ngejelasin kalau kita tuh emotionally unavailable and easily socially overwhelmed karena sensory issues. gak ada niat gak menghargai atau nganggep orang gak penting. i just genuinely get exhausted from having to reply to chats, answer calls, maintain conversations, or meet up regularly, even when i look active online & free. belum lagi kalau lagi hyperfocused on something.
kadang capek juga sama standar “kalau peduli pasti bales”, “kalau sayang pasti nyempetin”, “kalau gak ngabarin berarti gak penting.” and this isn’t even exclusively about romance. pertemanan juga sering kayak gitu. padahal sama orang tua sendiri aja kadang gue butuh waktu buat bales chat wkwkwk yes im the distant daughter, makanya seringnya ditelpon karena kalau chat lama balesnya.
selama ini kita berusaha masking dan mengikuti standar social availability orang lain, tapi any meaningful relationship we have still can’t magically override our limitations. punya kepedulian sama orang lain gak ujug-ujug bikin social battery gue bertambah.
bahkan sama temen-temen yang gue genuinely enjoy being around, kadang dari awal gue udah bilang, “lagi males ngomong ya” then i just sit there with them, listen to them, watch them do their thing, and genuinely enjoy their company. i want your presence, i just dont always want interaction.
sering juga lagi overwhelmed tapi maksain ketemu orang-orang, malah tiba-tiba nangis karena saat itu kepala gue masih penuh mikirin final project wkwk makanya gabisa dadakan dan harus selalu mentally prepared dulu karena kita jadi gak “hadir” diajak ngomong aja zoning out😹😹😹
and romantic interests somehow feel even more pressuring. once someone starts expecting constant replies, calls, updates, attention, or access to my time, i immediately feel overwhelmed. especially when we’re barely anything yet. you’re not even my husband, why am i already being treated like i owe you constant availability? i really dont like men who act controlling or entitled to my time and attention. you’re still practically a stranger to me. and yes, i can be interested in someone, think he’s a genuinely good guy, and still not be comfortable giving him that much access to me.
interest does not automatically equal access. the moment i feel being demanded, it stresses me out and makes me anxious. merasa bisa mencapai milestone tapi maintainingnya gak tau.
i dont think i would survive lansekap romansa era modern bruh, kayaknya harus hidup di zaman 70an, ngabarin orang pakai surat nyampenya seminggu sekali😹😹😹
"Yg keracunan sampai hari ini dari 3 koma sekian juta dibawah 200 orang. Yg rawat inap hanya 5 orang, jadi bisa dikatakan yg keracunan 0,005. Berarti keberhasilan MBG adalah 99.99%" - Prabowo
That’s an evil president! WALLAHI, WE’RE FINISHED
Makin ke sini gue makin percaya kalau “nyempetin waktu” itu salah satu bentuk sayang yang paling basic
soalnya semua orang punya kesibukan. punya kerjaan, punya urusan sendiri, punya masalah yang lagi dipikirin. jadi ketika seseorang tetap nyari waktu buat ngobrol sama lo, nanyain kabar, ngajak ketemu, atau sekadar hadir tanpa harus diminta, menurut gue itu nggak sepele
bukan soal seberapa seringnya, tapi soal dia tetap inget sama lo di tengah hidupnya yang juga lagi rame
karena pada akhirnya, waktu itu bukan sesuatu yang bisa diganti. kalau seseorang rela ngasih sebagian waktunya buat lo, berarti dia memang menganggap lo penting
mindset baru yang di populerkan Gen Z:
1. Berkembang baik sebelum berkembang biak
2. Child free lebih terhormat dari beranak banyak dlm kemiskinan
3. Anak bukan investasi, tapi tanggung jawab
4. Mending Matcha dari pada alkohol
5. Lebih pilih intimate wedding dari pada harus utang demi gengsi 1 hari
6. Fomo nya ke olagraga bukan dugem lagi.
Yg buat gua bingung masalah jodoh ini tuhh, misal kita para cewe karir yg hidupnya monoton pulang kerja tidur dan pas libur cuman nge event kpop atau ngga ngerem di rmh seharian nanti ketemu jodohnya gimana yaa?