"Bajingan" umpat riski, menyadari jika yg ada dihadapannya adalah rombongan laki-laki berwajah pucat dengan luka seperti orang yg jatuh dari ketinggian, beberapa bola matanya tidak ada di wajahnya, tapi ada satu kesamaan diantara semua laki-laki ini, mereka menjulurkan lidah yg
wajah Puteri nampak melotot, meski pun dia tidak berkata apa-apa tapi raut wajahnya nampak menolak ide ini, sedangkan pemuda asing itu bersikap sama seperti Puteri membuat Riski bertanya-tanya mau apa dengan dua butir gigi rahang itu, apa yg mau Lika lakukan dengan itu..
kalau pernah mendengar di pedalaman jauh di dalam alas, di atas tanah yg terus naik, fajar seharusnya tiba tapi di sini, saat kaki itu berpijak di atas bebatuan berlumpur dengan banyak sekali pohon dan semak belukar saat itu lah, Riski sadar, di tempat ini pagi tidak pernah ada
-bau yg wangi seperti kasturi, maka bau yg keluar dari badan mengerikan dari sosok pocong yg ganjil ini sangat busuk, lebih busuk dari bangkai mayat sembilan belas hari, bahkan Lika sampai mengalihkan pandangannya.
Riski bingung apa Lika tidak bisa melihat si mbah seperti dia melihatnya.
"Ojok percoyo, ojok percoyo omongane, percoyo ambek aku!! kowe bakal digowo muleh, dukno nyai sak iki!!" (jangan percata, jangan percaya apa yg dia katakan, percaya sama aku!! kamu akan dibawa pergi,-