Saya nggak akan lupa sama si bajingan ini. Hanya berjarak dari 2 minggu setelah Tragedi Kanjuruhan, dia main fun football bareng Jokowi di Stadion Madya.
Nggak punya empati sama sekali. Ketika Indonesia menolak Israel, dia menjatuhkan hukuman. Ketika Qatar dan Amerika jadi pelanggar HAM, dia bilang FIFA nggak bisa turut campur. Taik.
Neraka mungkin nggak akan mau menerika dia karena Gianni Infantino ini bikin minder setan paling jahat.
Saat aksi geruduk kantor Badan Gizi Nasional (BGN) berlangsung, seorang ibu pedagang melintas. Kemudian dengan lantang ia meluapkan kemarahannya terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG).
#MBG#Watchdoc
Guys, ini keren banget.
Akhirnya kita bisa menyaksikan langsung di medsos, kemarahan rakyat kecil terhadap MBG.
Selama ini kita hanya mengetahuinya dari intelektual dan kelas menengah..
Jarang sekali rakyat kecil bersuara terang-lantang di depan media. Mana pakai bahasa aktivis pergerakan lagi. Menentang keras MBG dan bahkan menghujat SPPG.
Ini mematahkan argumen bahwa rakyat kecil sepenuhnya diuntungkan oleh MBG.
Sebagaimana yang disebut-sebut oleh buzzer.
Yang dukung palingan pekerja SPPG doang.
𝗗𝗮𝗿𝗶 𝗞𝗮𝗽𝘁𝗲𝗻 𝗸𝗲 𝗞𝗮𝗽𝘁𝗲𝗻: 𝗦𝗲𝗯𝘂𝗮𝗵 𝗪𝗮𝗿𝗶𝘀𝗮𝗻 𝗕𝗲𝗿𝗻𝗮𝗺𝗮 𝗔𝗿𝘀𝗲𝗻𝗮𝗹
Ada satu video yang saya simpan dari hingar-bingar perayaan juara EPL beberapa hari lalu.
Saya menyimpannya baik-baik. Bukan karena kualitas videonya istimewa, bukan pula karena perayaannya paling meriah. Justru sebaliknya. Ada sesuatu dalam video itu yang terasa begitu sederhana, tetapi sulit dilupakan.
Saya menontonnya berulang-ulang. Menghentikannya di beberapa bagian. Mengulangi kalimat-kalimat tertentu. Membiarkan setiap kata mengendap lebih lama daripada yang seharusnya.
Mungkin karena setelah bertahun-tahun mengikuti sepak bola, saya mulai menyadari bahwa yang paling membekas bukanlah trofi, parade, atau ledakan kembang api. Melainkan cerita-cerita kecil yang lahir di sekitarnya.
Tentang penantian, keyakinan, kegagalan, dan orang-orang yang memilih bertahan ketika banyak yang memutuskan pergi.
Sampai akhirnya saya sadar, saya tidak sedang menonton sebuah video.
Saya sedang menyaksikan sebuah refleksi.
Dan dari situlah tulisan ini lahir.
1/2
🗣️| Thierry Henry on Arsenal’s title celebrations: “All I know is, we do have a lot of Arsenal fans all across the world, and when you win with Arsenal, it hits differently. It is a special club, it is a people’s club at the end of the day, and you saw it. The streets did answer.
“And let’s be honest, it was just one title, which we’ve been waiting for 22 years. But when you saw the love and affection, and how people celebrated around London and around the world, you realise the impact of Arsenal Football Club.
“That was beautiful, we were waiting for it, and don’t underestimate the impact that Arsenal has in the community. It’s a special club and always will be.” [@betway] #afc
Arsenal mengganti Zafar Iqbal sebagai Head Doctor dengan Arnaldo Abrantes.
Pergerakan penggantiannya berlangsung cepat. Kemarin Zafar Iqbal dipecat, hari ini sudah ada penggantinya.
Jadi menurut gue ini bukan keputusan yang reaktif melainkan sudah terencana.
Arnaldo Abrantes ini menarik.
Dia mantan pelari professional Portugal dan mewakili di Olimpiade.
Kemudian setelah pensiun, dia banting stir belajar football medical. Bukan cuma banting stir, tapi dia bangun karir di level tertinggi.
Sebelum ke Arsenal, dia bekerja di Aston Villa.
Jika dilihat di gambar di bawah, Aston Villa termasuk tim yang cukup rendah kehilangan pemain karena cedera dengan strategi Emery yang bertumpu pada fitness dan availability.
Walaupun bukan Abrantes yang menjadi faktor utama, namun dia punya peran penting yg menjaga fitness level pemain Villa.
Dengan pengalamannya sebagai atlit dan CV sebagai doctor yang mengurusi high intensity and high pressure tim, semoga bergabungnya Abrantes bisa menjadi solusi dari rendahnya fitness level pemain Arsenal sejak 2 musim lalu.
Buat kaum hama, gue kasih tau ni, andai pun indonesia 100% nerima lgbtq,
1. Rupiah lu tetep 18k (dan mungkin akan terus melemah)
2. Presiden lu tetep prabowo
3. DPR tetep mabok kecubung
4. Hidup lu tetep susah (penyakit krn masifnya penyebaran PMS)
Bukayo Saka TAK PERNAH SEMBUH: Perombakan di Balik Layar
Dan Sheldon, jurnalis The Athletic, menulis sebuah kabar yang cukup bikin saya kaget dan berpikir. Sheldon merangkum informasi yang dibagikan oleh pelatih timnas Inggris, Thomas Tuchel, perihal kondisi Bukayo Saka.
Jadi, Tuchel bilang kalau Bukayo Saka tidak bisa berlatih selama dua hari berturut-turut. Saka, menurut penuturan Tuchel, belum sepenuhnya sembuh dari cedera Achilles. Pemain berusia 24 tahun ini mengalami cedera Achilles pada Maret 2026. Dan sejak saat itu, Saka bermain dengan menahan rasa sakit.
“Playing through the pain.” Adalah kalimat yang dipakai oleh Tuchel. Informasi dari Tuchel ini membuka sebuah tabir yang sangat menyedihkan. Bahwa Saka, yang mendapat beban tanggung jawab “menggendong tim”, tak pernah bermain dengan kebugaran 100%.
Saya jadi mengingat lagi performa Saka musim ini, selepas Maret sampai final Liga Champions kemarin. Saya menulis ini dengan dada yang terasa berat, apalagi ketika membayangkan apabila Saka bisa bermain full 90 menit plus 30 menit babak tambahan, mungkin nasib kita berbeda.
Saka, di puncak kebugaran, kita tahu seperti apa yang bisa dia berikan. Namun, ternyata, performanya yang tidak konsisten, disebabkan oleh kondisi bermain dengan menahan rasa sakit.
Jadi, our starboy, bermain menahan rasa sakit. Dia, tetap bermain, meski tahu dirinya akan lama sembuh. Sebuah kondisi yang menyedihkan dan memprihatinkan.
Perombakan di balik layar
Menyusul informasi yang dibagikan oleh Tuchel perihal kondisi Bukayo Saka, Arsenal melakukan perombakan di balik layar. Khususnya di aspek medis, guna merespons buruknya catatan cedera pemain kunci Arsenal musim lalu.
Tahukah kamu, klub juara di Liga Inggris, kehilangan pemain karena cedera di rata-rata 600 sampai 800 hari. Musim lalu, ketika menjadi juara, Arsenal kehilangan pemain kunci di 1.297 hari.
Jadi, sebelum membeli atau menjual pemain, manajemen Arsenal melakukan perbaikan yang sudah seharusnya.
Kita tahu kalau “the best ability is availability”. Selain tersedia, para pemain kunci juga harus berada dalam kondisi kebugaran 100%.
Pemain, yang turun berlaga dengan pain killer, berpotensi mengalami penundaan kesembuhan. Bahkan, cedera yang dialami, bisa semakin parah.
Oleh sebab itu, Arsenal baru saja memecat Dr. Zafar Iqbal. Dia adalah kepala medis Arsenal yang sudah bekerja dari 2023. Sebagai penggantinya, Arsenal merekrut Arnaldo Abrantes dari Aston Villa.
Abrantes adalah mantan atlet (sprinter), yang pernah berlaga di nomor 100m and 200m di Olimpiade 2008 dan 2012. Kepala medis dari Portugal ini mendapat status “highly-rated medical specialist”.
Jadi, transfer pertama Arsenal di musim panas kali ini bukan pemain, melainkan seorang ahli medis. Ini jadi pengingat bahwa kesuksesan sebuah tim tidak hanya ditentukan di atas lapangan hijau, tapi juga di balik layar yang fans tak melihatnya.
Kerja-kerja tak kelihatan ini kadang justru lebih menentukan. Salah satunya memastikan pemain kunci tetap bugar, ditangani dengan baik ketika cedera, dan tidak kambuh lagi.
Semoga jadi rekrutan yang tepat…
#COYG