Kenapa jaman sekarang “merasa cukup” itu kayak hal negatif ya? Seolah-olah kita manusia harus terus merasa haus for the sake of “productivity”?
I have to disagree with this mentality, “merasa cukup” doesn't make one stop working, it makes them appreciate what they have, hence, not being greedy.
Mereka tetap berusaha tapi ga menghukum diri atas apa yang udah mereka capai, tetap bersyukur for their current state.
No, aku ga nyalahin Kak Angga for this, I'm blaming this on capitalism yang bikin manusia itu kayak sapi perah.
Capek banget hidup kalo ga diimbangi dengan perasaan cukup, rasanya kayak kejar-kejaran tapi ga ada finish line-nya.
Alhamdulillah ga kemakan konten gaje. Dokternya gue dulu pasti usg 2d dulu, kalo sekiranya bayinya nunjukin muka baru ditawarin 4d. Kalo ga perlu ya ga nyuruh 4d, biasa aja kita org.
Di tiktok sering liat komen, "aku sih USG selalu pake yg 4D biar keliatan jelas" atau "ke fetomaternal tuh yg USG-nya pake 4D, jadi bisa keliatan semua".
Did you know kalau obgyn tuh sebenernya lebih jelas liat organ sampe ke daleman2nya (kondisi ginjal, sekat jantung, bola mata, panjang tulang paha, dll) pake USG 2D? Iya, USG yg gambarnya datar dan item putih itu.
Kenapa?
Karena USG 2D memberikan resolusi terbaik untuk melihat potongan organ tubuh janin secara detail.
Lewat USG 2D, dokter dapat menilai:
• Struktur otak
• Wajah dan bibir
• Bola mata
• Sekat dan ruang jantung
• Lambung
• Ginjal
• Kandung kemih
• Tulang belakang
• Panjang tulang paha
• Letak plasenta
• Jumlah air ketuban
dan masih banyak lagi.
Makanya, saat pemeriksaan fetomaternal, sebagian besar waktu dokter justru menggunakan mode 2D.
Lalu USG 3D atau 4D buat apa?
USG 3D dan 4D berfungsi sebagai pelengkap pada kondisi tertentu. Misalnya untuk membantu menilai kelainan permukaan tubuh seperti bibir sumbing, kelainan ekstremitas, atau memperjelas temuan yang sudah terlihat pada USG 2D. Selain itu, tentu juga memberikan gambaran wajah janin yang lebih mudah dipahami oleh orang tua.
Bahkan pedoman internasional dari ISUOG (International Society of Ultrasound in Obstetrics and Gynecology) maupun AIUM (American Institute of Ultrasound in Medicine) menyebutkan bahwa pemeriksaan anatomi janin rutin dilakukan terutama menggunakan USG 2D. Pemeriksaan 3D/4D bukan pemeriksaan wajib dan digunakan bila memang ada indikasi atau untuk melengkapi evaluasi tertentu.
Jadi jangan kecewa kalau dokter fetomaternal lebih sering memakai USG 2D.
Bukan karena alatnya kalah canggih.
Justru karena itulah standar pemeriksaan untuk mendeteksi kelainan bawaan pada janin.
USG 4D lebih menarik untuk dilihat.
USG 2D lebih penting untuk ditegakkan diagnosis.