Eksplorasi Pewarna Alam dengan Teknik Ikat Celup
bersama Koperasi Ura-ura
Sabtu, 19 Mei 2018
11:00–18:00
@c2o_library
Jl. Dr. Cipto 22
Surabaya
Rp 250.000
(termasuk handout dan material)
Tempat terbatas
https://t.co/cVMMGrGe74
#sds2018#tiedye#tie#dye#ikatcelup#workshop
Surabaya Design Summit proudly present the official screening of «Hanzi», a documentary exploring international design, visual culture and identity through the lens of modern Chinese Typography.
Friday,... https://t.co/08AKfOFPBd
Majalah Djawa Baroe dari jaman pendudukan Jepang di Indonesia. Dibawakan dari riset Mas Antariksa ttg desain pada masa perang Jepang.
Gila ya tahun segini desainnya bisa sebagus ini. #sds2018#potretlawas
Ajeng menambahkan tantangan yang muncul dari kondisi riil dari interal yakni sumber daya manusia variasi dan kualitas materi manajemen sumber daya yang dimiliki gerakan dan logistik keuangan. Dari sisi eksternal muncul permasalahan: permendesakan perbaikan pemdidikan dan sistem.
"Koperasi ura ura bekerja drngn memperbaiki kualitas materi, memelihara arsip materi, menyebarluaskan materi, meningkatkan mutu penyampaian materi, memperbanyak dan menyesuaikan produksi variasi materi, dan pemaduan kapital untuk memperkuat koperasi." tambah Ajeng.
Sejauh iniyang ada di unit Komune Rakapare yang merupakan induk dari Koperasi Ura Ura ini terdiri dari koperasi yang bergerak di berbagai macam bidang.
Antariksa menambahkan persoalan sejarah seni dan desain pada masa pendudukan jepang sangat kompeks saat itu. Kita tidak bisa menggunakan pendekatan atas sejarah pendudukan jepang secara nasionalisme seperti yang selama ini dilakukan.
"Natori sangat pragmatik. Dia dan kelompoknya mendapatkan banyak proyek untuk anti propaganda ngara penjajah selain itu mereka juga tetap menjadi kontributor untuk Life." tambah Antariksa.
"Natori sebagai fotografer Life ke Cina untuk membuat laporan pendudukan Jepang di Cina. Kemudian Natori menyadari bahwa pengaruh dari Life sangat besar sekali dan kenapa Jepang tidak membuat yang seperti itu" imbuh Antariksa.
Hizkia mengungkapkan bahwa harapannya adalah dunia tanpa neo liberalisme dan kapitalisme yang menjadi symptom dan terjadi di dunia. Dan hal ini dimulai lewat membuka Koperasi Purusha.
Panelis terakhir untuk hari ini adalah Antariksa dari KUNCI Cultural Studies Center, Hizkia Yosi dari Koperasi Riset Purusha, Fictor Ferdinand dari Koperasi Ura Ura, dan Veronica Ajeng dari Senandung Sejuk dan Koperasi Ura Ura.