Tuhan ngasih pemimpin suatu bangsa tuh yg mencerminkan kondisi moral, spiritual & sosial masyarakatnya.
Dapet pemimpin dzolim tuh salah satu bentuk hukuman dari Tuhan buat bangsa itu.
Inget baik2 ya guys, Tuhan kalau menghukum suatu kaum tuh ga pandang bulu. Semuanya kena.
aloo guiss bisa tolong bantu larisin atau rt daganganku. untuk saat ini, toko mungiel ini jdi satu-satunya pendapatan aku. tulung bantu ya guiss, soalnya ucok masih harus terapi saraf, obat-obatannya juga pada naik. jyujyur pening😵💫
https://t.co/JGwtyaRY8M
@satirnesia Lah yang nolak kan ada partainya prabowo juga. Wakil ketua DPR juga dari gerindra. Trus, mostly partai berkuasa juga koalisi prabowo semua. Sebagai ketum, dia bisa dong push kadernya. Sebagai presiden terpilih, dia bisa dong push koalisinya. Lagu lama, basa basi doang lu wok.
oknum polisi mukul kaca mobil ambulance di jakpus saat mau menjemput pasien
ambulance terhambat krn rombongan kendaraan & polisi yg ngaw pejabat
harusnya si oknum paham ambulans jauh lebih prioritas saat jalanin tugas darurat dibanding mobil pejabat
JAWA-BALI TERANCAM REAL KEGELAPAN !!!
BUKAN KARENA BATUBARA INDONESIA SUDAH HABIS,
BUKAN KARENA SEMUA BATUBARA DI EKSPOR
TAPI KARNA TIDAK LAIN DAN TIDAK BUKAN,
KEBIJAKAN PEMERINTAH YANG AMBURADUL
- RKAB DIPOTONG 60% (VOLUME BATUBARA TURUN JAUH)
- HARGA DMO YANG HAMPIR 50% DIBAWAH HARGA PASAR
- KEBIJAKAN YANG BERUBAH-UBAH
LALU, DARI CERITA INI ADA PERTANYAAN JUGA
APAKAH INI SERANGAN PARA KONGLO BATUBARA?
PLTU Pacitan, salah satu tulang punggung kelistrikan Jawa-Bali, dilaporkan hanya memiliki stok batubara untuk dua hari operasi. Bukan cuma Pacitan.
Sejumlah PLTU besar di sistem Jamali (Jawa-Madura-Bali) sudah masuk lampu merah, termasuk Paiton, Rembang, Indramayu, Tanjung Awar-Awar, Cilacap, hingga Celukan Bawang.
Standar aman PLN itu 26 hari operasi (HOP). Kenyataannya, banyak PLTU hanya punya stok 11-12 hari,
bahkan ada yang tinggal 2 hari.
Pertanyaannya: Kenapa bisa sampai separah ini?
Pertama, DMO harga murah diabaikan produsen.
Batubara untuk PLTU dijual dengan harga DMO hanya USD 70 per ton. Sementara untuk pabrik semen, harganya USD 90 per ton. Untuk smelter dan ekspor, harga pasar jauh lebih tinggi.
Jelas, produsen lebih pilih jual ke luar negeri atau ke industri lain ketimbang pasok PLTU.
Akibatnya, pembangkit listrik jadi "pelanggan prioritas terakhir" para produsen.
Kedua, RKAB batubara dipangkas drastis. Di awal 2026, pemerintah memotong kuota produksi batubara nasional dari 790 juta ton (realisasi 2025) menjadi hanya 600 juta ton, alias dipangkas hampir 24%. Beberapa perusahaan tambang bahkan kena potong 40% hingga 70% dari kuota yang mereka ajukan. Alasannya stabilisasi harga global dan efisiensi SDA.
Volume batubara yang tersedia untuk pasokan dalam negeri ikut menyusut.
Ketiga, persetujuan RKAB lambat dan berlarut-larut. Di awal tahun 2026, banyak perusahaan tambang belum mengantongi persetujuan RKAB dari Kementerian ESDM. Artinya mereka tidak bisa produksi penuh.
Pasokan batubara ke PLTU pun ikut tersendat.
Keempat, royalti batubara dinaikkan progresif. Sejak April 2025, berlaku PP No. 18/2025 yang menaikkan royalti batubara secara progresif berdasarkan harga acuan (HBA). Jika HBA di bawah USD 70 per ton, royalti 15%. Jika HBA mencapai USD 180 per ton ke atas, royalti bisa sampai 28%. Bagi produsen kecil dan menengah, beban ini sangat berat, sehingga banyak yang memilih kurangi produksi atau alihkan pasokan ke sektor yang lebih menguntungkan.
Kelima, ekspor batubara kini wajib lewat Danantara.
Pemerintah menetapkan bahwa mulai Juni 2026, semua ekspor batubara harus disalurkan melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Sistem satu pintu ini masih dalam transisi dan memunculkan ketidakpastian bagi eksportir. Di tengah masa peralihan ini, rantai distribusi batubara domestik ikut terganggu.
Ada narasi yang beredar, krisis stok batubara ini sengaja diciptakan untuk menekan pemerintah agar mencabut atau melunak soal kebijakan DMO, RKAB, royalti, dan DSI.
Logikanya, jika listrik padam, pemerintah panik, dan akhirnya produsen batubara bisa "negosiasi ulang" syarat yang lebih menguntungkan mereka.
Kalau dilihat, nama-nama besar di balik tambang batubara Indonesia memang bukan orang sembarangan. Grup Bakrie (BUMI), Grup Indika (INDY), Grup Barito (PTRO), hingga pemain PKP2B lama lainnya punya pengaruh politik dan ekonomi yang sangat besar.
Ketika RKAB dipangkas hingga 70%, wajar jika ada tekanan balik.
Tapi apakah ini benar-benar "serangan terkoordinasi"?
Belum ada bukti eksplisit.
Yang jelas, kombinasi kebijakan yang menghantam semua sisi produksi dibatasi, royalti dinaikkan, ekspor diatur ulang membuat produsen enggan prioritaskan pasokan dalam negeri yang harganya paling murah.
Lampu listrik yang redup di Jawa-Bali bukan sekadar soal stok batubara. Ini cerminan dari tarik-menarik kepentingan antara negara, konglomerat tambang, dan kebutuhan rakyat akan energi yang murah dan andal.
Kebijakan dengan implementasinya kacau dan rantai pasok tidak dijaga, rakyatlah yang paling merasakan
@trunkszoldyck miris ya negara top 3 penghasil batubara terbesar dunia ,yg mayoritas pembangkit energi listriknya pake batubara, tapi harus melakukan pemadaman karena kekurangan batubara.
“Aku ikut aksi demo ini tahunya dari mami”
Anak SD diajak ikut demo, dan banyak yang bilang ini arahan dari Kepala Dinas Pendidikan
SAKIT JIWA KADISDIK🤮🤮
Woy, biadab @Kemdikdasmen!
Kenapa hal-hal kotor kayak gini pelaksanaannya atas perintah dinas di bawah naungan kalian?? Kalau cita-cita mencerdaskan anak bangsa gak bisa kalian wujudin at least jangan ngerusak masa kecil mereka dengan cara-cara bodoh kayak gini, bangsat!🫵🏻
Guys, lu pada tau nggak nih?
Lagi beredar cerita yang bilang sebenarnya batu bara buat pembangkit listrik itu ada. Yang jadi sorotan justru kondisi keuangan PLN.
Katanya kalau lihat laporan keuangan PLN, tagihan pemerintah yang belum dibayar naik dari sekitar Rp43 triliun menjadi lebih dari Rp110 triliun. Dalam waktu singkat nilainya naik lebih dari dua kali lipat.
Makanya banyak yang mulai bertanya-tanya.
Indonesia termasuk salah satu penghasil batu bara terbesar di dunia.
Batu baranya ada.
Pembangkitnya ada.
Kebutuhan listrik juga terus ada.
Tapi kenapa isu pasokan listrik dan batu bara masih terus muncul?
Yang bikin netizen makin penasaran, kenaikan tagihan yang belum dibayar itu nilainya sampai puluhan triliun rupiah.
Rp110 triliun itu bukan angka kecil.
Buat gambaran, nilainya setara dengan puluhan rumah sakit besar, ribuan sekolah, atau gaji jutaan pekerja selama berbulan-bulan.
Pantes aja banyak yang bertanya-tanya sebenarnya ada apa di balik semua ini.
bukan hanya JOGJA aja tapi untuk PLN seINDO! beneran urat malunya udah putus apa gimana? barang elektronik di rumah gue ampe gangguan grgr mati listrik, mati idup mati idupin mulu lu bangke dan itu bisa lebih dari 5x dalam sehari. mending lu pada yg gue matiin selamanya anj
Bayangin makanan yg harusnya dijaga keamanannya supaya kontamnya ga gede ini malah dgn sengaja dengan sadar kontamnya ditambahin. Lalu kalau ada keracunan massal yg disalahin petani, anak2 yg makannya ga pake sendok, sama sabotase.
Cepet diazab deh lu @prabowo