🚨 Marc Cucurella was asked who gave him the hardest time between Lionel Messi and Cristiano Ronaldo.
🎙️ Reporter: “Marc, as a left-back you’ve faced both Messi and Ronaldo in big games. Who was the tougher opponent for you personally?”
🗣️ Marc Cucurella: “They’re legends in completely different ways, but facing Cristiano Ronaldo in the World Cup was something else.
“Even at 41, Ronaldo remains a massive threat. You can’t switch off for a second because one run or clever movement can create a chance out of nothing. Our team had to stay ultra-focused to handle him.
“In that match, Portugal didn’t create much overall, but Ronaldo still managed a few dangerous moments and got shots away — it shows his incredible mentality and finishing instinct. He forces defenders into tough 1v1 situations with his speed and power.
“With Messi it was more about collective organisation. We tried to stay compact, limit his space in between the lines, and make it hard for him to link up with teammates.
“Personally, the intensity and constant danger Ronaldo brings, even when the team isn’t dominating, made him the harder one to face in that game. He’s a legend and it was special to share the pitch with him.”
Karena kerusuhan pasca final piala dunia kemarin saya jadi teringat lagi laga Jerman vs Argentina di Perempat Final Piala Dunia 2006 dengan hasil 1-1 (adu penalti 4-2) untuk kemenangan Jerman. Laga berakhir dengan kericuhan di pinggir lapangan, terlihat pemain Argentina, Maxi Rodriguez meninju pemain Jerman, Bastian Schweinsteiger di tengah kerusuhan ini. Aah Argentina tidak berubah-ubah
No tattoos, No smoking, No alcohol, Extremely disciplined, Blood donor, Built from nothing, Charity without noise, Global icon, Most Hated, Most criticised, Top at everything, Ageing but still at top, etc... etc...
We will love you forever @Cristiano
⚠️⚠️MENOLAK LUPA⚠️⚠️
Kontroversi Lolosnya Qatar dan Saudi di Piala Dunia 2026:
✅Pembatalan status tempat netral secara sepihak. Pada awal proses kualifikasi, AFC memberi tahu negara2 peserta bahwa putaran 4 akan dimainkan di tempat netral
✅Secara tiba-tiba, AFC mengumumkan Qatar dan Arab Saudi sebagai tuan rumah untuk seluruh pertandingan di grup mereka masing2 tanpa adanya transparansi atau kriteria pemilihan tuan rumah yg benar2 jelas.
✅Hal ini membuat Qatar dan Arab Saudi diuntungkan karena bisa bermain di kandang sendiri. Sementara negara lain (Irak, UEA, Indonesia, dan Oman) harus main tandang.
✅Jadwal pertandingan yang tak adil dan adanya diskriminasi waktu istirahat. Arab Saudi dan Qatar ditempatkan sebagai unggulan teratas. Jadwal diatur sedemikian rupa sehingga kedua negara ini mendapatkan waktu istirahat selama 6 hari di antara pertandingan mereka.
✅Sebaliknya, tim lawan yakni Irak, UEA, Indonesia, dan Oman dipaksa bermain dgn jeda hanya 3 hari (72 jam). Para pelatih memprotes keras karena durasi ini sangat tidak cukup untuk pemulihan fisik pemain.
✅Polemik status top seeds. Terdapat ketidakselarasan alasan antara AFC dan FIFA mengenai mengapa Qatar dan Arab Saudi jadi unggulan teratas. AFC berdalih karena peringkat FIFA mereka yang tinggi. Sementara FIFA menyebut di situsnya karena mereka adalah negara host untuk menjaga agar tidak berada di satu grup.
✅Terjadi pemangkasan kuota tiket untuk suporter UEA saat melawan Qatar di Doha hanya menjadi 8%. Padahal di pertandingan sebelumnya di stadion yang sama mereka dpt jatah 33%. Hal ini memicu kerusuhan di tribun penonton setelah pertandingan.
✅Ada dominasi gurita politik negara teluk di AFC dan monopoli jabatan. Struktur kepemimpinan AFC didominasi oleh figur dari negara teluk (Presiden dari Bahrain, Wakil Presiden dan Ketua Komite Keuangan dari Arab Saudi, dan Ketua Komite Kompetisi dari Qatar).
✅Sebagian besar sokongan dana terbesar AFC disuplai oleh perusahaan raksasa asal Teluk (Aramco, NEOM, beIN, Qatar Airways, QatarEnergy).
Qatar dan Saudi, dua negara yang merusak fairplay dalam kualifikasi memang lolos. Tapi mereka akhirnya dibantai dgn skor2 telak di Piala Dunia 2026.
Hanya satu kata: mampus!