Journalist in Peru captures same animals 8 years apart and the internet is in tears While documenting pollution at a landfill outside Lima, a journalist spotted something she never forgot: a stray dog gently bringing food to a tiny kitten hiding near an old fridge.
Eight years later, she returned to finish her study and froze. The kitten was now a grown cat.
The dog was old, gray, and tired.
But this time, the cat was bringing food to him.
Two photos. Eight years apart. One impossible friendship. People online are calling it “the kind of loyalty humans could learn from.”
Setuju banget
Terutama yg pushing 30 tahun, duh pls olahraga.
I know it’s hard krn ga terbiasa olahraga atau ga suka dg pegel2nya, tp trust me, kamu akan nyesel klo g mulai skrg.
Penyakit2 kronis mulai ngincer di akhir usia 20.
Sinyal2 awalnya? Lemes seharian, ngantukan, pusing terus, jompo, naik tangga dikit pegel, jalan kaki dikit ngos2an, perut buncit, duh mana hipertensi & diabet itu ga akan ketahuan klo ga pernah periksa 😩😩😩
Eh ini penting banget guys, ini udah sampe ke media belum tolong di up. Nelayan Indonesia dan Pakistan saat ini disandera oleh bajak laut dari Somalia.
COBA DEH SESEKALI PAS SELESAI SHOLAT DOANYA MINTA KAYAK Gini....
1. Ya Allah, aku tak punya apapun yang bisa kutunjukan, namun aku berharap engkau menyukai kebaikanku walaupun kebanyakan yang kumiliki adalah dosa
2. Ya Allah, sibuk lah aku dengan kebaikan hingga aku lupa akan kesedihan
3. Ya Allah, jauhkan aku dari rasa lelah hingga aku bersyukur atas keberkahan
4. Ya Allah, jika doa yang kulangitkan terhalang oleh dosa yang perna kulakukan, maka maafkan aku serta hapus lah dosa dosa ku ya Allah
5. Ya Allah, tunjukkanlah kepada hamba seindah apa hidup ini dan semudah apa hidup ini.
6. Ya Allah, jadikanlah ibuku di antara wanita wanita surga
7. Ya Allah, sebelum engkau cabut nyawaku, berilah aku kesempatan agar aku bisa mengasihi makan seluruh anak Indonesia
yepp! besok senin tgl 1 dzulhijjah guyss!🚨
AYO PERBANYAK AMAL DI 10 HARI PERTAMA DZULHIJJAH!!!!
karena apa?
🔅karena ini hari hari terbaik sepanjang tahun guyss. selain 10 hari terakhir ramadhan, 10 hari pertama dzulhijjah juga punya keutamaan dan kemuliaan sendiri.
bulan dzulhijjah juga termasuk bulan haram, dimana amal kita bakal dilipatgandakan dan dosa kita jg bakal dilipatgandakan sama Allah di bulan ini🥲
jadi banyakin sedekah, baca quran, berbuat baik, berbakti sama ortu, puasa, dsb yaa! dan plis tahan maksiat kek kita tahan tahan pas bulan ramadhan karena dosanya bakal berkali kali lipatt😭💔
🔅“apa aja yg bisa kita lakuin miw?”
banyakkk! banyakin tilawah, menuntut ilmu, denger kajian, bantu org lain, berbakti ama ortu, sedekah, puasa, berdzikir dsb.
🔅bagi yg tdk berhaji, puasanya boleh bgt loh puasa full 9 hari dari tgl 1 dzulhijjah sampe tgl 9 pas puasa arafah tanpa putus alias non stop! tp boleh jg misal cuma sanggup beberapa hari 🫶
karena dulu para sahabat jg terbiasa utk puasa full 1-9 dzulhijjah mumpung pahalanya lg berlipat ganda!
🔅yg punya utang puasa, dibayar sekarang jauh lebih baikkk! niatkan utk bayar qodho yaa but tenang sja selain kita bayar hutang, in syaa Allah kita jg bakal dpet pahala puasa dzulhijjah🤍
dan usahakan kita punya target tilawah sbgmn kita punya target khatam kayak Ramadhan guys karena ini momen gabakal terulang lagi. hari hari TERBAIK loh sampe ada haditsnya :
Pak Anies skrg sibuk bantu kota Riyadh, punya gerakan AksiBersama, bantu GerakanRakyat, ngisi kuliah tamu dimana2, dsb.
Pak Ganjar skrg sibuk bikin yayasan mental health Teman Bersama, jogging rutin sama anak2 Jogja, bantu UMKM paks LapakGanjar, dsb.
Kebayang kan aktivitas gerakan dan kegelisahan mereka masih tetap konsisten, saat pilpres dan setelahnya?
Artinya apa? Ya gak gimmick. Emang begitu orangnya.
Saya ada cerita seorang bapak.
Dia kerja 20 tahun buat biayain anaknya kuliah S1.
Lembur.
Utang.
Sampai jual tanah warisan.
Anaknya lulus. IPK bagus.
Wisuda lengkap dengan toga.
Sekarang anaknya kerja serabutan. Gaji di bawah UMR.
Dan si bapak masih senyum bilang,
"Mungkin belum rezekinya."
Yang bikin saya merenung bukan cerita anaknya.
Tapi cerita si bapak.
Dia lahir tahun 70-an.
Gak tamat SMA pun bisa buka toko,
punya rumah,
besarin anak dengan layak.
Logikanya simpel dan masuk akal:
"Dulu gw gak sekolah tinggi aja bisa. Kalau anak gw kuliah,
hidupnya pasti jauh lebih baik dari bapaknya."
Logika itu benar. Di zamannya.
Masalahnya bukan orang tua yang salah didik.
Bukan juga anaknya yang kurang usaha.
Tapi janji yang mereka pegang sudah kedaluwarsa.
Ijazah dulu adalah tiket.
Sekarang ijazah adalah syarat minimum.
Yang bahkan kadang pun masih belum cukup.
Dua hal yang kelihatannya sama, tapi sebetulnya beda jauh.
Bayangin ya.
Tahun 1995,
fresh graduate langsung diperebutkan perusahaan.
Sekarang,
lowongan entry level minta pengalaman 2 tahun,
skill digital, bisa multitasking, dan siap ditempatkan di mana saja.
Gajinya?
UMR aja belum tentu.
Hampir sama kalau dikonversi ke harga waktu itu.
Tapi harga rumah, kontrakan, dan beras sudah tidak ikut berdiam di angka yang sama.
Generasi 90-an pasti hafal nasihat ini:
"Rajin sekolah, biar dapat kerja bagus."
"Kuliah dulu, baru enak hidupnya."
"Investasi terbaik itu pendidikan."
Nasihat itu bukan bohong.
Di zamannya, itu benar dan terbukti.
Tapi zamannya sudah ganti.
Nasihatnya tidak ikut ganti.
Dan anak-anak kita tumbuh sambil pegang peta zaman dulu
yang sudah tidak cocok sama jalanan yang mereka hadapi sekarang.
Saya pernah ngobrol panjang sama seorang teman.
Dia cerita,
"Bokap gw sampai jual motor buat bayar UKT semester terakhir gw."
Saya tanya, "Sekarang kerjanya apa?"
"Freelance desain. Kadang ada job, kadang enggak."
"Bokap lu tau?"
"Tau. Dia bilang sabar, rezeki ada aja. Tapi gw liat matanya... dia bingung."
Si bapak bingung bukan karena anaknya gagal.
Tapi karena cara yang dulu berhasil sekarang tidak lagi bekerja.
Dan dia tidak punya peta baru untuk dikasih ke anaknya.
Kalau anakmu masih sekolah atau mau kuliah,
jangan cuma pikirin jurusannya.
Tapi ajarin juga:
1. Ajarin dia cara kerja uang sejak kecil.
2. Bekali satu skill konkret yang bisa langsung menghasilkan.
Sebelum dia lulus dan bingung mau mulai dari mana.
3. Kasih ruang buat gagal kecil sekarang.
Biar dia gak gagal besar pertama kali justru di dunia nyata.
4. Jangan cuma bekali ijazah. Bekali juga kemampuan bertahan.
Bukan berarti kuliah tidak penting. Tapi kuliah saja sudah tidak cukup.
Soalnya begini.
Orang tua yang paling menyiapkan anaknya bukan yang paling banyak bayar biaya kuliah.
Tapi yang paling jujur bisa ngomong ke anaknya:
"Dunia yang kamu masuki berbeda dari dunia yang Ayah dan Ibu kenal.
Kita harus cari tau bareng-bareng."
Kejujuran itu lebih berharga dari SPP mana pun.
Dan seperti biasa, selalu ada dua kubu.
Kubu pertama bilang,
"Orang tua salah. Harusnya ajarin skill, bukan kejar gelar."
Kubu kedua bilang,
"Orang tua sudah benar. Anaknya yang kurang mau usaha."
Tapi ada kemungkinan ketiga yang jarang ada yang mau nyebut:
Dua-duanya sudah berusaha sebaik yang mereka bisa dengan informasi yang mereka punya.
Tapi sistemnya yang tidak pernah jujur ke keduanya.
Generasi kita mungkin adalah generasi pertama yang hidupnya lebih susah dari orang tuanya.
Bukan karena malas. Bukan karena manja.
Tapi karena peta yang diajarkan ternyata sudah tidak relevan saat mereka datang.
Dan orang tua mereka masih dengan tulus menunjuk ke peta yang didapat dulu.
Vonis 18 tahun nadiem makarim itu final warning buat semua orang pinter: jangan sekali kali punya niat baik buat negara ini kalau gak mau sial
habis ini, jangan tanya kenapa birokrasi isinya cuma sisa orang orang yang korup, the system is literally designed to kill the good ones
Gua baru visit diaspora Indonesia di New York & San Francisco.
Ini alasan mereka gak pulang:
Di Indonesia, power and wealth are determined by who your family is and who you know, bukan dari ability atau prestasi.
Indo is a place where you can be in government or run a VC fund -- just by being golf buddies with the right people.
Jadi gak heran, smart people refuse to work for bosses who don't deserve to be there.
18 tahun. Itu tuntutan jaksa buat seseorang yang udah ngabisin waktu bertahun-tahun mencoba memajukan negara ini. Terlepas dari kamu setuju atau gak sama pandangan politiknya, coba deh renungin baik-baik angka itu.
Ini bukan kejadian yang pertama kali. Indonesia itu punya pola yang diam-diam menghancurkan: orang-orang pinter, kompeten, dan punya niat tulus masuk ke pemerintahan, tapi ujung-ujungnya malah dihancurin sama sistem. Gak selalu karena mereka bersalah, tapi seringnya cuma karena kehadiran mereka "dianggap mengganggu".
Tapi anehnya, kita terus-terusan nyuruh anak-anak muda terbaik kita: "Masuk dong ke pemerintahan. Mengabdi dong buat negara. Bawa perubahan."
Siapa juga yang mau kalau mereka ngelihat langsung kejadian kayak gini di depan mata?
Siapa pun dalang di balik semua ini, mereka sama sekali gak lagi ngelindungin Indonesia. Mereka justru lagi ngajarin satu generasi orang-orang berbakat kalau jalan paling aman itu ya mending diam aja. Atau sekalian pergi ke luar negeri.
Buat yang suka nyinyir, "Ya udah, pergi aja sana!", tolong berhenti nutupin ego kalian dari kenyataan. Banyak kok orang Indonesia yang super cerdas dan bener-bener cinta sama negara ini. Mereka tetap stay di sini. Mereka ngebangun sesuatu. Mereka nyari cara lain buat berkontribusi di luar pemerintahan, karena masuk ke dalam sistemnya itu terlalu bahaya.
Tapi ini realita yang lebih pahit: sehebat apa pun startup, kreator, atau inovator kita di kancah dunia, KALAU pemerintahnya tetap korup dan gila kuasa, KALAU aturannya gak ngelindungin rakyat atau gak ngasih ruang buat industri berkembang dengan sehat, terus kita sebagai masyarakat bisa berharap apa?
Ini momen yang sedih banget buat Indonesia. Bukan cuma karena ada satu orang yang lagi diadili, tapi karena pesan yang ditangkap sama semua orang pintar dan idealis yang lagi ngelihatin kasus ini: bahwa negara ini sepertinya belum siap buat ngelindungin orang-orang yang berani membawa perubahan.
Dr gia said:
"Emosi amarah yang menggebu-gebu (burst of emotion) itu cuma bertahan 90 detik, so take ur 90 seconds to take a deep breath and istighfar biar bisa merespond dengan emosi yg midful".