Ini lah sosok anak yg menangis histeris ketika ayahnya di hakimi masa sampai tewas karena di duga maling ayam .
Anak ini baru duduk di kelas 1 SD. Korban meninggalkan seorang istri & tiga anak ,anak ini adalah yg paling kecil .
Peristiwa ini pasti menimbulkan trauma yg besar bagi sang anak . Peristiwa ini Mengingatkan publik untuk tidak hakim sendiri sampai menghilangkan nyawa seseorang.
Maling ayam itu memang salah , tapi menghilangkan nyawa orang lebih salah lagi .
Jika negara ini adil kepada rakyatnya, mungkin sang ayah akan pergi ke pasar atau supermarket untuk membeli 1 ekor ayam untuk keluarga tercinta dirumahnya.
Negara ini terlalu jahat untuk rakyat yang hanya mencoba untuk bertahan hidup. Bahkan si miskin pun tak berperikemanusiaan ketika melihat kejahatan kecil di depan matanya, sedangkan kejahatan-kejahatan besar si miskin hanya menonton dari layar kaca hpnya saja.
Si miskin selalu melampiaskan kekesalannya kepada si miskin karna si kaya selalu dilindungi negara ketika melakukan kejahatan yang sangat besar. “Bapak, Bapak, Bapa”🥹🥹🥀🥀🥀🥀
Jika negara ini adil kepada rakyatnya, mungkin sang ayah akan pergi ke pasar atau supermarket untuk membeli 1 ekor ayam untuk keluarga tercinta dirumahnya.
Negara ini terlalu jahat untuk rakyat yang hanya mencoba untuk bertahan hidup. Bahkan si miskin pun tak berperikemanusiaan ketika melihat kejahatan kecil di depan matanya, sedangkan kejahatan-kejahatan besar si miskin hanya menonton dari layar kaca hpnya saja.
Si miskin selalu melampiaskan kekesalannya kepada si miskin karna si kaya selalu dilindungi negara ketika melakukan kejahatan yang sangat besar. “Bapak, Bapak, Bapa”🥹🥹🥀🥀🥀🥀
Ketimpangan hukum di negeri ini melukiskan duka yang teramat perih bagi rakyat kecil, menegaskan betapa tajamnya ketidakadilan menghujam mereka yang tak berdaya. Di saat publik menyaksikan keistimewaan yang menggores rasa keadilan ketika seorang pejabat tinggi seperti mantan Jampidsus Febrie Adriansyah melenggang tanpa rompi tahanan maupun borgol meski terjerat kasus dugaan korupsi dan TPPU bernilai fantastis. Hukum seolah tampil penuh kesantunan dan kelembutan.
BAPAK... BAPAK... BAPAK... Teriakan tangisannya bikin pilu banget.
Barusan gw liat berita, ada seorang bapak di Bali yang diduga nyuri 1 ekor ayam. Dia dihajar massa sampai meninggal. Yang paling nyakitin bukan cuma kabarnya... tapi pas ngeliat anak perempuan satu-satunya, masih kecil, nangis sambil teriak "Bapak... bapak..." waktu jenazah ayahnya diangkat buat dimakamkan. Cuma karena 1 ayam... 1 nyawa melayang.
Meanwhile, yang korupsi ratusan miliar bahkan triliunan, ngerampok hak hidup jutaan orang, malah masih bisa senyum, hidup nyaman, bahkan ada yang dapet perlakuan istimewa. Kadang rasanya hukum paling kejam justru jatuh ke orang yang paling lemah. Entah apa pun dugaan perbuatannya, ga ada yang berhak main hakim sendiri sampai ngilangin nyawa orang.
Bener-bener sakit banget liatnya...
💔💔💔
Salah satu artis atau konten kreator asal Venezuela ini aja sampe punya properti disana 🫣.
Sebenernya banyak contohnya, ini salah satunya aja sih, tuh sampe ditutup kolom komen walau udah lama postingannya.
BALI - Esta bueno construir futuro en el mejor lugar. → Bali - Bagus sekali membangun masa depan di tempat terbaik.
Prabowo labels journalists, analysts, and NGOs as “londo ireng”:
“Londo-Londo Ireng ini sampai sekarang masih ada. Hanya dia sekarang pakai baju lain, kan? Wartawan, jurnalis apa itu? Pengamat, LSM. LSM harus kita tanya, yang gaji lo siapa? Yang bayar listrikmu siapa? Yang bayar handphonemu siapa?”
(https://t.co/a0chzOs76I)
Presiden kok makin alergi dengan kenyataan?
Yang keliru bukan foto itu, atau media yg menampilkan foto itu. Yang jelas keliru adalah jika negara lebih marah kepada cermin daripada kepada wajah yang dipantulkannya.
Foto anak-anak menikmati MBG di depan sekolah yang rusak bukanlah penghinaan terhadap negara. Justru itulah esensi jurnalisme, utk menghadirkan kenyataan yang penuh kontradiksi agar publik melihat persoalan secara utuh.
Pers seharusnya bukan humas pemerintah. Tugasnya bukan memoles citra kekuasaan, melainkan mengawasi penggunaan kekuasaan. Dalam tradisi demokrasi, media menjalankan fungsi watchdog, termasuk membuka keburukan yg ingin disembunyikan dr publik.
Ironi dalam foto itu bukan hasil rekayasa wartawan. Yang menciptakan ironi adalah kenyataannya. Anak-anak menerima makanan bergizi di depan ruang kelas yang reyot. Jika ada yang terasa memalukan, sumber rasa malu ya kondisi yang direkam kamera. Dan itu sumbernya kebijakan negara yg memang keliru.
Mengecam media karena menampilkan ironi seperti itu semakin menunnjukkan wajah junta otoriter. Seolah pers hanya boleh menampilkan keberhasilan pemerintah, sementara kegagalan harus disembunyikan. Padahal demokrasi justru membutuhkan kritik agar kebijakan terus diperbaiki.
Selama sekolah rusak masih berdiri, guru-guru sengsara, sementara MBG beracun dan jadi makanan bebek, publik terus memiliki alasan untuk mengabadikan paradoks pembangunan.
Presiden Prabowo Subianto menyebut wartawan, jurnalis, pengamat, dan LSM sebagai 'londo ireng'.
Ini adalah kesekian kalinya Presiden menyebut soal kecurigaan terhadap 'antek asing'. https://t.co/DxVkhPVyIq