Gue berterima kasih sama yang bikin prompt ini
Bisa mempertahankan
‣ detail wajah
‣ detail ekspresi
‣ lebih hd
‣ ga kaya ai
Gue tambahin dikit buat ganti pakainnya, lo bisa tambahin juga
Save dulu takut lupa, siapa tau nanti butuh
Gue generate pake ai sejuta umat: G3mini
Prompt:
Ultra-high-resolution 4K enhancement based strictly on the provided
reference image. Absolute fidelity to original facial anatomy,
proportions, and identity. Preserve expression, gaze, pose, camera
angle, framing, and perspective with zero deviation. Clothing, hair,
skin, and background elements must remain unchanged in structure,
placement, and design.
Recover fine-grain detail with natural realism. Enhance pores, fine
lines, hair strands, eyelashes, fabric weave, seams, and material
edges without introducing stylization. Maintain original color science,
white balance, and tonal relationships exactly as captured. Lighting
direction, intensity, contrast, and shadow behavior must match the
source image precisely, with only improved clarity and expanded
dynamic range. No relighting, no reshaping. Remove any grain.
Apply controlled sharpening and high-frequency detail
reconstruction. Remove compression artifacts and noise while
retaining authentic texture. No smoothing, no plastic skin, no artificial
gloss. Facial features must remain consistent across the entire image
with coherent anatomy and clean, stable edges.
Negative constraints: no warping, no facial drift, no added or missing
anatomy, no altered hands, no distortions, no perspective shift, no
text or graphics, no hallucinated detail, no stylized rendering. Output
must read as a true-to-life, photorealistic upscale that matches the
reference exactly, only clearer, sharper, and higher resolution.
Gue punya tetangga yang bikin gue mikir lama.
Lulusan S2 Teknik UI.
Pernah kerja 5 tahun di salah satu power plant terbesar di Asia Tenggara.
Perempuan yang dari luar keliatan punya segalanya pendidikan, karir, penghasilan.
Terus dia resign.
Bukan karena dipecat.
Bukan karena nggak mampu.
Tapi karena suaminya harus pindah-pindah kota karena kerjaan, dan mereka udah LDR 2 tahun.
Dia yang milih ikut.
Waktu dia cerita ini ke gue, gue nggak langsung ngerti kenapa.
"Lo nggak sayang karir lo?" gue tanya.
Dia senyum.
Sayang Banget sih
Tapi ada yang lebih gue sayangin yaitu anak gw
Dan ternyata keputusan itu nggak semudah kelihatannya.
Masa transisi dari perempuan yang tiap hari rapat, ngitung data, dan punya kontribusi yang keliatan nyata ke perempuan yang tiap hari di rumah, ngurusin anak, dan nggak punya penghasilan sendiri itu berat banget.
Dia cerita ke gue soal itu dengan jujur.
Kehilangan teman-teman kerja.
Kehilangan ruang diskusi yang dulu bikin otaknya terus jalan.
Kehilangan kebebasan finansial yang selama ini bikin dia ngerasa punya kendali atas hidupnya sendiri.
Dan yang paling nyesek komentar orang-orang sekitar yang nggak diminta tapi terus dateng.
Sayang banget S2-nya.
Kok mau sih jadi IRT doang?
Buang-buang pendidikan.
Tapi kemudian sesuatu berubah.
Dia nemuin hal-hal baru yang ternyata dia suka dunia literasi, ecoprinting, komunitas-komunitas yang nggak pernah dia sempet eksplor waktu sibuk kerja.
Dia baca lebih banyak buku.
Dia punya waktu buat beneran mikirin cara mendidik anaknya bukan sekadar nitip ke orang lain.
Dan dari rumah, dia masih bisa freelance bantu project penelitian dan keperluan akademik.
Yang bikin gue respek bukan keputusannya karena itu hak dia sepenuhnya.
Yang bikin gue respek adalah cara dia ngejalaninnya.
Dia nggak berhenti tumbuh cuma karena berhenti kerja kantoran.
Dia buktiin bahwa perempuan berpendidikan tinggi yang milih jadi ibu rumah tangga bukan berarti menyia-nyiakan pendidikannya justru dia pakai semua ilmunya buat hal yang menurut dia paling penting.
Sekarang dia mulai belajar affilate di tiktok dan shoppe
malah akun tiktok dia udah capai 50 rb followers
dan mulai ada endoresan masuk
Dan ini yang gue pikir sering salah kaprah di Indonesia
Kita terlalu sering ngukur nilai seorang perempuan dari jabatannya, gajinya, atau seberapa sibuk dia keliatan dari luar.
Padahal ibu yang cerdas, yang terus belajar, yang bisa jadi teman diskusi buat suami dan guru pertama buat anaknya itu kontribusi yang dampaknya jauh lebih panjang dari apapun yang bisa dilihat di CV.
Balik ke pertanyaan awal kalau lo udah punya karir impian terus calon suami minta jadi IRT penuh?
Jawabannya nggak hitam putih.
Yang penting bukan pilihan mana yang lo ambil.
Tapi apakah pilihan itu beneran lo yang mutusin bukan karena dipaksa, bukan karena takut, tapi karena lo sendiri yakin itu yang terbaik buat hidup lo.
Karena pada akhirnya, yang harus nanggung konsekuensinya lo sendiri.
Pidato Presiden @prabowo barusan beneran menunjukkan bahwa dia dan pemerintah tidak paham (dan mungkin tidak mau paham) alasan paling fundamental yang memicu segala kerusuhan ini. Semua responsnya serba di level permukaan, pakai bawa-bawa makar dan terorisme pula.
Kedepannya, kalo masih ada pemilu lagi, pilih presiden itu dibaca visi misinya, di cek historinya
Jangan fomo ngikutin kata selebgram/tetangga
Jangan juga cuma perkara kasian
Apalagi cuma perkara gemoy & bisa joget.
IQRA
Belajar peka, belajar kritis
Dampaknya kerasa kan skrng?
Sebagai pria, kamu bisa:
- Punya uang cukup untuk menghidupi keluarga
- Jadi suami & ayah yang baik
- Tidak selingkuh
- Green flag
Tapi tetep aja kamu gak bisa membuat perempuan bahagia ketika lupa hal-hal kecil berulang yang bikin dia burnout.
Dan apa yang lu lakuin selama ini dengan menjadi tidak bangsat akan tetep zero di mata pasangan lu.
Padahal yang kaya beginian tetep bisa dicari jalan keluarnya, misal:
- Cari ART
- Bikin Todo list daily
- Bikin gamification daily
Or apapun yang disepakatin.
Masalahnya di apa? Yep, ketidakmauan sering duduk bareng untuk evaluasi.
Makin didiemin gak mau evaluasi bareng, ya makin numpuk.
Gue gak belain laki-lakinya ya!
Iya paham emang semua yang disebut perempuan pada video itu adalah bare minimum, tapi bukan berarti ini adalah masalah yang ngga bisa diselesain.
Gue juga gak mendukung patriarki, dan gue benci itu. Even gue sebagai laki-laki aja makan langsung nyuci piring sendiri, ngepel nyapu sendiri, cuci baju kadang laundry kadang sendiri karena dari kecil udah dididik begini sama nyokap.
Turunin ego, duduk bareng dan sering evaluasi, perhatiin perubahan pola perbaikannya, drive them to be better. It takes time, perubahan habbit itu gak sebentar.
Jadi ingat tweet lama @arjunaskykok yang terasa makin relevan. Anak bisa belajar seni karena dapat privilege dari kerja keras orang tuanya di bidang STEM/Soshum.