Rivals In The Dark #JAYSEUNG
Perseteruan antara Zenith Tech dan Vertex Digital sudah bertahun-tahun menjadi konsumsi publik. Sebagai dua raksasa software terbesar di industri, kompetisi mereka selalu berdarah-darah mulai dari perang harga di setiap tender hingga aksi saling bajak klien. Di puncak pusaran konflik ini, berdiri dua figur sentral: Mr. Park Jongseong (34 tahun), CEO Zenith Tech yang dingin dan kalkulatif, serta Madam Evan Lee (32 tahun), CEO Vertex Digital yang cerdas, tajam, dan berapi-api.
Rivalitas mereka mengkristal untuk pertama kalinya dalam sebuah tender pemerintah senilai 200 miliar rupiah. Di ruang rapat yang mencekam, Madam Lee melempar tatapan menghunus lurus ke arah pria di seberangnya.
"Mr. Park, jika Zenith terus bermain kotor dengan membanting harga di bawah modal, kami tidak akan segan melaporkannya ke KPPU," tegas Madam Lee di depan seluruh peserta rapat.
Mr. Park hanya menyunggingkan senyum tipis yang sarat provokasi. "Madam Lee, mari jangan bicara tentang kecurangan jika Vertex sendiri masih gemar mengandalkan koneksi politik untuk memuluskan jalan." Sejak hari itu, perseteruan mereka resmi menjadi legenda urban di dunia bisnis, yang oleh media dijuluki sebagai "Perang Dingin".
Hingga suatu malam, di sebuah bar rooftop yang sepi, Mr. Park sedang menyesap minumannya sendirian setelah kekalahan tender yang masif. Pintu kaca terbuka, dan Madam Lee melangkah masuk dengan pakaian yang setengah basah akibat guyuran hujan deras. Begitu tatapan mereka bertemu, sebuah tawa sinis lolos secara bersamaan dari ranum keduanya.
keduanya.
"Kau juga kalah, ya?" tanya Madam Lee sembari menduduki kursi kosong di sebelah Mr. Park tanpa diundang.
"Karena kau," sahut Mr. Park datar.
Madam Lee memesan wiski yang sama. Namun malam itu, obrolan mereka bergeser. Tidak ada pembahasan saham atau taktik bisnis yang ada hanyalah keluh kesah tentang beratnya memikul ekspektasi investor, kesepian di puncak tertinggi, dan mimpi-mimpi masa lalu yang telanjur terkikis oleh ambisi menjadi nomor satu.
"Kenapa kita harus saling menghancurkan?" tanya Madam Lee lirih, tatapannya mulai sayu akibat pengaruh alkohol.
“Karena jika tidak, salah satu dari kita harus kalah," balas Mr. Park, suaranya berat.
Malam itu, di antara deru hujan kota, benteng pertahanan mereka runtuh. Mereka berciuman sebuah pagutan yang penuh akan amarah, kelegaan, sekaligus hasrat yang selama ini terpendam dalam-dalam.
Keesokan harinya, di depan publik, perang tetap berkobar bahkan terasa semakin panas. Namun di balik layar, sebuah rahasia besar dimulai.
Pertemuan-pertemuan domestik terjadi seperti di apartemen mewah Madam Lee, di dalam mobil Mr. Park yang terparkir di sudut gelap, hingga hotel-hotel pinggiran kota yang jauh dari sorot kamera.
Satu tahun kemudian, di tengah proyek tender terbesar dalam sejarah, industri dikejutkan dengan sebuah proposal tunggal yang diajukan bersama oleh kedua perusahaan.
Konferensi pers darurat pun digelar. Mr. Park dan Madam Lee berdiri berdampingan di bawah kilatan lampu flash yang membabat ruangan.
"Kami memutuskan untuk melakukan merger," umum Mr. Park dengan ketenangan mutlaknya.
Madam Lee tersenyum penuh kemenangan di sampingnya. "Ini bukan tanda kelemahan. Kami hanya sadar, bahwa musuh terbaik kami adalah pasangan terbaik kami."
Ruangan sempat hening sesaat sebelum akhirnya meledak oleh riuh sorak dan jepretan kamera jurnalis. Perseteruan bertahun-tahun itu berakhir bukan dengan tumbangnya salah satu pihak, melainkan dengan lahirnya sebuah imperium baru: Jovan Tech.
Di balik panggung, jauh dari sorot lampu dan mikrofon media, Mr. Park melingkarkan lengannya di pinggang Madam Lee, menariknya mendekat, lalu berbisik lembut, "Akhirnya, kita menang bersama".
ARGHHHHH tadi pas bgt live real time aku nonton ini kek my jaw literally dropped trs kek wow HES THE SAME PERSON IVE BEEN CALLING PRETTY MAMAH MOMMY MY WIFE but suddenly im on my knees bcs hey penguasa bumi