Gw punya temen yang kerja di perusahaan yang sama udah 4 tahun.
Gajinya oke. Bossnya gak nyebelin. Kerjanya gak lembur gila gilaan. Temen kantornya enak diajak ngobrol. Basically semua orang bilang lo udah dapat yang bagus, jangan kemana mana.
Dan dia percaya itu. Bertahan. Setia.
Sampai suatu hari dia iseng iseng apply ke perusahaan lain. Bukan karena gak betah. Tapi penasaran aja katanya.
Dan dia keterima. Dengan gaji 35 persen lebih tinggi dari yang sekarang.
Dia bingung. Dia tanya ke gw worth it gak pindah?
Gw balik tanya emang sekarang lo digaji berapa?
Dia bilang angkanya. Dan gw langsung paham kenapa dia bingung.
Karena 35 persen dari gajinya sekarang itu angka yang gak kecil. Itu beda yang kerasa nyata tiap bulan. Beda yang bisa nutup cicilan, beda yang bisa nambahin tabungan, beda yang bisa bikin nafas lebih lega di tanggal tua.
Tapi dia masih ragu. Karena nyamannya di tempat lama itu nyata. Dia udah kenal sistemnya. Udah kenal orangnya. Udah tau cara mainnya.
Pindah artinya mulai dari nol lagi. Buktiin diri lagi. Adaptasi lagi.
Gw tanya satu pertanyaan terakhir ke dia.
'Kalau lo tetap di sini sampai 2 tahun lagi lo ngerasa bakal berkembang gak? Atau lo bakal jalan di tempat yang sama dengan posisi yang sama?'
Dia diem lama banget.
Dan dari diamnya itu gw tau jawabannya.
Dia pindah. Dan tiga bulan pertama emang berat. Adaptasi, buktiin diri, kenalan sama orang baru semua dari awal.
Tapi sekarang dia bilang satu hal yang gw inget sampai sekarang, Gw nyesel kenapa gak pindah dari dua tahun lalu.
Bukan karena gajinya. Tapi karena ternyata di luar sana dia bisa tumbuh jauh lebih cepat dari yang dia kira.
Kenyamanan itu memang enak. Tapi kadang kenyamanan itu yang diam diam nahan lo di tempat yang sama selama bertahun tahun tanpa lo sadar
After knowing about his condition and still decided to marry him is the highest level of loving someone. No need to show your affection in public but being there until his last breath alrd shows how much she loves Vidi. Stay strong Dara
One night I asked my mom how she knew my dad was “the one.” She didn’t say butterflies. She didn’t say grand gestures.
She said, “There was a year I wasn’t okay.”
She told me after I was born, she felt overwhelmed all the time. She stopped talking as much. Stopped laughing as loudly. She said she felt guilty for not being her usual self.
And my dad didn’t demand the “old her” back.
He just started doing small things.
He would wake up earlier to pack her lunch.
He’d fold the laundry without announcing it.
He’d sit beside her on the couch and just hold her hand without asking a single question.
She said one night she finally cried and told him she felt like she was failing at everything.
He didn’t interrupt.
Didn’t give a motivational speech.
Didn’t say “but you have so much to be grateful for.”
He just listened.
And the next week?
He didn’t treat her like she was fragile.
Didn’t bring it up during arguments.
Didn’t use it as proof that she was “too emotional.”
He loved her the same. Calm. Steady. Normal.
My mom looked at me and said,
“That’s when I knew. Love isn’t the loud days. It’s who stays gentle on the quiet ones.”
And suddenly their 20+ years together made sense.
Real love doesn’t panic when you’re not at your best.
It adjusts.
It waits.
It stays.