ini klimaks, hilang arah musabab menjaga perasaan orang terdekat, haruskah memang seperti ini? atau memang diri ini yang tak ada pendirian? segeralah ketika semua memang telah cukup. cukup berat untuk menanggung semua.
Sedalam apapun luka yang telah terbesit, dan seberantakan apapun hidup setelah kepergianmu,
kembalimu tetap aku sambut dengan senyuman tulus dan ikhlas.
aku masih sering mengunjungi dimana tempat kita berdua pernah bersama, pada nomer bangku di coffe shop, pada jalan kota yang sering kita lalui, bahkan meminum air mineral favoritmu hanya untuk melepas sedikit rindu.
lantas, apa yang ada di benakmu saat itu, menatapku penuh harap untuk saling membersamai
yang pada akhirnya hanya memori tentangmu yang bisa aku genggam.
dan jika yang telah kita lewati kala itu adalah hal yang paling buruk dalam hidupmu, aku tetap menganggapnya sebagai suatu kebaikan yang sangat berharga dalam hidupku.
hanya saja sandiwara itu begitu sempurna
entah tutur kata,senyuman, hingga tatap mata yang seolah kau adalah rumah.
kini kau hanya bisa ku kenang, tak lagi kujadikan tujuan.
berbahagialah dengan hilangnya aku dalam hidupmu.
hilang itu nyata kan?
bukan hanya sebuah ilusi yang hanya bersifat anastesi.
merapuhlah,terlukalah,terpuruklah hingga kau sadar pasti akan kau temui dirimu lagi.
kau meletakkan asa pada ciptaanNYA, sedangkan penciptanya tak kau hiraukan.
bukan kah rasa sakit itu adil?
apalagi yang harus kau renungkan?
bukankah sudah cukup dengan kepergiannya yang begitu kilas dan tak berbekas?
bukankah kau telah mempermudah jalannya untuk berlalu?
yakinlah pedihmu hanya sementara,