This says a lot.... a very deep meaning!
He’s free, but his mind is still in a cage!
The bird is outside the cage, free, but it doesn’t fly!
I’m curious what everyone thinks.
What is this trying to say?
bahkan untuk beli indomie, buah, bakso, susu, jepitan, adik-adik ini HARUS NABUNG dulu 🥹😭
pemerintah kapan sih buka mata? foya2 dan hidup mewah, sedangkan adik-adik ini harus berusaha keras nabung buat dapetin ini 🥲
Michael Jackson read The 48 Laws of Power and annotated it heavily.
One of his notes on Law 16:
“Use absence to increase respect and honor.”
Scarcity creates attention
Menarik banget pesan yang bisa diambil dari podcast ini
Menurutku pesan dari Nikita Willy yang bisa diambil begini : Awalnya kita mendekat kepada Allah karena berharap sesuatu.
Sampai akhirnya kita sadar, dekat dengan-Nya saja sudah menjadi nikmat yang tak ternilai.🤍
Bisakah Masa Depan dan Ambisi dibaca Lewat Tatapan Mata? 👁️✨
Analisa Menarik:
Sebuah sudut pandang dari video ini dimana kita bisa melihat keseriusan dan rasa percaya diri seseorang.
Menurut pendapatnya, vibe sukses atau ambisi seorang laki-laki bisa dianalisis secara visual melalui gestur, ketulusan senyum, hingga fokus sorot matanya saat berbicara tentang impian.
disclamier : video bukan acuan mutlak, semua kembali ke perspektif masing-masing
Baru sadar ternyata pola asuh orang tua sengaruh itu ke cara berpikir anak.
Keluarga have dan nggak have dibesarin di dunia dan cara komunikasi yang beda banget. Profesor Jiang jelasin ini di salah satu videonya.
Bedanya apa?
1. Kosa kata dan cara ngomong
Keluarga mampu biasanya pake kosakata yang lebih banyak, kalimat lebih panjang, dan ngobrol dua arah. Pas anak nanya atau bikin salah, dijelasin alasan rasionalnya, kenapa sesuatu itu baik atau buruk.
Keluarga kurang mampu pola komunikasinya lebih instruksional dan nada perintah.
“Diam!"
“Jangan!”
“Pergi sana!”
Nggak ada ruang buat diskusi, karena yang diprioritasin itu cuma kepatuhan.
2. Sikap & Rasa Aman
Keluarga mampu pendekatannya lebih ke pertemanan dan penjelasan. Anak tumbuh dengan keyakinan dunia itu tempat yang aman, keberadaan mereka dihormatin, dan orang dewasa bisa dijadiin teman.
Keluarga kurang mampu pendekatannya lebih ke ancaman.
“Kalo kamu lakuin itu lagi, tak pukul kamu!”
Anak tumbuh dengan persepsi dunia itu keras dan mereka harus selalu takut sama figur otoritas.
3. Stabilitas dan ketidakpastian
Soal nepatin janji juga beda jauh. Keluarga mampu biasanya punya kepastian finansial buat nepatin janji, misal janji liburan. Ini yang bentuk trust kuat dalam diri anak.
Keluarga kurang mampu sering kepaksa ingkarin janji karena krisis finansial mendadak, misal janji beliin mainan batal karena uangnya kepake buat bayar tagihan darurat.
Anak jadi terbiasa sama ketidakpastian.
4. Cara berhubungan sama otoritas
Anak dari keluarga mampu diajarin berdebat, argumen, dan negosiasi. Makanya pas gede mereka berani push boundary buat ngejar maximum outcome, posisi terbaik, gaji lebih tinggi.
Anak dari keluarga kurang mampu diajarin buat patuh dan nggak banyak protes sama atasan demi keselamatan. Makanya pas gede cenderung cari minimum outcome, yang penting aman, punya kerjaan, dan nggak kena masalah.
Lalu, kedua pola asuh ini dampaknya apa?
Semua perbedaan ini nunjukin, apa yang keliatan kayak sifat bawaan anak, entah itu cara ngomong, gampang percaya, atau berani ngebantah, sebenernya hasil dari cara orang tua ngajarin mereka bersikap dari kecil.
Anak dari keluarga mampu percaya sama otoritas bukan karena mereka lebih dewasa, tapi karena selama ini janji yang dikasih emang selalu ditepatin.
Sedangkan anak dari keluarga kurang mampu lebih waspada dan milih aman, bukan karena mereka kurang sabar, tapi karena udah kebiasaan hidup di tengah ketidakpastian.