Belum pernah dilakukan fanbase klub PL manapun di Indonesia. 😂
Btw, Bigreds ini pernah Nobar di GBK dg jumlah lebih banyak di tahun 2022.
Bahkan yg di Stadion Siliwangi Bandung saat Juara 2019 saat itu juga ada Nobar dg jumlah lebih banyak.
Kecuali mau direvisi jadi; belum ada fanbase klub PL manapun di Indonesia yg melakukannya di Velodrome. 😂
Ini cerita yang menarik menjelang jatuhnya Soeharto.
Pada 9 Mei 1998 Presiden Soeharto bertolak ke Mesir untuk menghadiri KTT G-15. Kondisi di tanah air sudah panas, demonstrasi dan kerusuhan sudah terjadi di beberapa tempat.
Tanggal 12 Mei terjadi Tragedi Trisakti, diikuti kerusuhan besar di Jakarta pada tanggal 13 Mei.
Menanggapi peristiwa di tanah air, Presiden Soeharto lalu berbicara kepada masyarakat Indonesia di KBRI di Kairo, "Kalau saya tidak lagi diberi kepercayaan, silahken. Saya sudah mengataken kalau tidak dipercaya, ya sudah. Saya tidak akan mempertahanken dengan kekuatan senjata."
Kompas langsung menjadikan itu sebagai headline keesokan harinya, saat puncak kerusuhan di Jakarta terjadi.
Mendengar situasi yang makin panas, Presiden Soeharto pun mempersingkat agendanya dan segera pulang pada 14 Mei. Ia tiba di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta pada waktu subuh 15 Mei.
Pagi itu Presiden Soeharto langsung memanggil para jenderal ke kediamannya di Cendana, meminta penjelasan mengapa kerusuhan sedemikian besar.
Presiden Soeharto yang menyadari otoritas dan legitimasi kekuasaannya mulai goyah lalu membantah sendiri pernyataannya di Mesir. Akhirnya keluarlah headline berikutnya ini pada tanggal 16 Mei, "Presiden Bantah Katakan Siap Mundur", yang disandingkan dengan foto korban-korban kerusuhan yang terpanggang dan pendapat berbagai pihak yang menyambut gagasan presiden mundur.
Kompas seolah ingin menyampaikan pesan, "Sudah seperti ini pun masih tidak mau mundur?".
Presiden masih sibuk mempertahankan kekuasaannya, sementara rakyat sudah jadi arang.
Hati boleh cemburu dan itu normal, tapi pikiran harus tetap sadar: kita tidak punya hak untuk mengendalikan langkah hidup dan pilihan seseorang. Cukup terima, hormati, diam, angkat dagumu, dan pergi. Itulah bentuk kedewasaan.
Salah satu kritik dalam kerusuhan Mei 1998 adalah lambatnya respon ABRI. Pada puncak kerusuhan tanggal 14, Panglima ABRI Wiranto malah membawa pejabatnya berangkat ke Malang untuk upacara.
Setelah Presiden Soeharto pulang dari Mesir, barulah ABRI bergerak memadamkan kerusuhan.
Seolah ada pembiaran kerusuhan sebagai prakondisi untuk memaksa mundurnya Soeharto. TGPF menyebutkan bahwa kerusuhan tidak terjadi secara spontan, melainkan ada provokator yang datang dengan truk, memicu massa untuk menjarah atau membakar, lalu menghilang begitu saja.
Saksi mata di beberapa mal yang terbakar melaporkan melihat pria-pria berambut cepak, berbadan tegap, dan menggunakan sepatu bot militer yang memandu massa untuk menjebol pintu mal atau menyiramkan bensin. Seperti tragedi di Plaza Sentral Klender yang menewaskan ratusan orang, saat mereka masuk dan menjarah, mal dibakar dan dikunci dari luar.
Para pemimpin militer yang bersaing saat itu, yaitu Panglima ABRI Wiranto dan Panglima Kostrad Prabowo Subianto sama-sama membantah bahwa mereka merencanakan atau membiarkan kerusuhan.
eh bisa ga sih..... kita istirahat aja gitu..... diem doang...... ga ngapa-ngapain..... BENERAN DIEM DOANG..... tanpa rasa khawatir..... tanpa takut besok gimana..... tanpa takut ketinggalan..... beneran istirahat..... rebahan.... tidur..... tapi ga meninggal...
Pada 13 Mei 1998, kerusuhan sistematis meluas secara kompak dan terjadwal dari sejumlah titik yang disebar merata di Jabodetabek.
Padahal, para pendemo lagi sembunyi di kampus karena takut sniper pasca Trisakti.
Terus, siapa yang rusuh di luar sana?
Aparat hilang tiga hari.
Jakarta sepi dari tentara. Tentara pasukan Kostrad, Kodam Jaya, dan Kopassus yang harusnya ada di Jakarta kompak hilang selama tiga hari berturut-turut. Bos-bos mereka yaitu Pangkostrad, Pangdam Jaya, dan Pangkopassus juga tidak ada di Jakarta.
Akibat kekosongan ini, tidak ada yang melindungi warga ketika gerombolan preman berjumlah besar merongrong masuk ke rumah warga di kampung, sadis memukuli ibu-ibu penghuni rumahnya dengan benda tumpul sampai rusak, membunuhnya, memerkosanya, mencuri sofa dan TV dan lemarinya, membakar rumahnya, lalu pindah ke rumah berikutnya.
Perempuan random dalam jumlah ratusan diseret keluar oleh gerombolan preman buas dan diperkosa beramai-ramai di jalanan. Orang yang mencoba melindungi mereka dipukuli dan dibunuh massa preman.
Pemerkosaan massal, pencurian, pembunuhan, pembakaran, penyiksaan, teror, dan pembantaian sadis berdarah melanda setiap daerah Jakarta dengan merata, rapi, teratur, dan berjadwal.
Ada salah satu preman perusuh yang ditanya asalnya dari mana. Dia menjawab: Tasikmalaya.
Ternyata, ada pihak yang mengumpulkan dan mengangkut segerombolan besar preman jalanan sepertinya dari Tasikmalaya ke Jakarta dengan truk. Setelah diturunkan di lokasi kerusuhan, ia disuruh membakar gedung, memerkosa, mencuri, dan merampok rumah dan toko penduduk Jakarta.
Laporan yang lain seperti dari AsiaWeek menemukan gerombolan preman, maling, bandit, dan penyamun dari daerah yang lain. Ada yang dari Lampung. Ada yang dari Timor Timur, dikumpulkan dan dibawa dengan pesawat kargo ke Jakarta sebelum kerusuhan.
Preman-preman yang ini juga dibawa pakai truk ke lokasi pemerkosaan dan pembantaian massal manusia di tengah kota Jakarta, dan menerima instruksi dari walkie talkie. Ini baru dua laporan saja.
13 Mei 1998, kerusuhan mulai pecah di Jakarta, dan memuncak esok harinya.
Penjarahan, pembakaran, perusakan, dan penyerangan terjadi di mana-mana.
Presiden Soeharto yang berada di Mesir mempercepat kepulangannya. Ia tiba di Jakarta pada 15 Mei, disambut kota yang terbakar.
Ada satu karakter one piece di dressrosa yg menarik bgt, si Senor Pink dan berantemnya vs franky.
Kalo teorinya Judith Butler ttg gender performativity blg: identitas laki2 itu sebenernya bukan sesuatu yang fix, tapi sesuatu yg dimainkan lewat tindakan, gaya, dan simbol.
Nah tp si Senor Pink ini menarik, krn dia kyk ngebreak semua simbol maskulinitas klasik. Penampilannya menyerupai bayi, kyk lemah atau nyeleneh, tapi perilakunya digambarkan sangat maskulin.
Ini kayak Oda bilang: “maskulin itu bkn soal tampilan, tapi soal konsistensi sikap.”
Di sini Oda kayak mau nunjukkin juga kalo "dont judge the book by its cover".
Karena istrinya benci bajak laut, Senor boong tentang pekerjaannya biar gak kehilangan istrinya.
Bahkan, seorang bajak laut yang dari luar kyk “kejam” pun tetep kalah sama "cinta", dia rela ngorbanin maskulinitasnya di sosial, dicemooh temen temennya karena pake kostum bayi nyeleneh.
Kalo pake psikoanalisis Sigmund Freud, kostum bayi itu bkn sekadar gimmick, itu simbol traumanya si Senor.
Senor Pink kehilangan anaknya (Gimlet), dan istrinya jatuh ke kondisi vegetatif. Satu2nya momen istrinya “reaksi” lagi adalah ketika lihat Senor Pink pake baju bayi.
Ini mirip konsep fixation dalam psikoanalisis, yaitu ketika seseorang “terjebak” di satu fase emosional karena trauma besar.
Nah menarik lagi nih, pertarungannya dengan Franky itu bukan sekadar fight biasa. Itu kayak duel ideologi maskulinitas.
Mereka berdua sama sama gak menghindar, saling terima pukulan, gak ada trik murahamn lah pokoknya.
Kalo pake teori honor culture dalam sosiologi, ini bentuk maskulinitas berbasis kehormatan, di mana nilai utama bkn menang, tapi cara bertarung.
Yang menarik, mereka gak saling benci. Justru saling respect wkwk😅
Wkwk sumpah ini karakter penggambarannya keren bgt si Oda🙌🏻🥶