Israel baru saja melakukan pembantaian yang mengerikan di Maarakeh, Lebanon Selatan.
Bom-bom dijatuhkan di bangunan-bangunan tempat tinggal.
Anak-anak dievakuasi dan ditarik dari bawah reruntuhan rumah mereka sendiri.
Seluruh anggota keluarga musnah seketika.
Pemandangan di sana sungguh menyayat hati.
Ini adalah pembantaian tanpa pandang bulu terhadap warga sipil yang tidak bersenjata. Dan tidak ada satu pun pihak yang menggerakkan jari untuk membantu…
Israel secara sistematis membom kamp-kamp pengungsian, tempat di mana keluarga-keluaga tersebut melarikan diri untuk menghindari bom. Anak-anak terbunuh di tempat yang justru seharusnya menjadi tempat perlindungan bagi mereka.
🚨Breaking : 🚩 Russia 🇷🇺
All roads and streets in Moscow are completely shut down for Eid prayer.
🚩 Russia is the most secure and secular country in Europe 🇪🇺, respecting all religions on Earth.
"saya berkuasa disini.. mau apa kamu ?! Ini wilayah saya !!",
begitu ucapan tentara yg baru procot, yg ngga pernah tau silsilah tanah milik siapa.
Kuwatir kalo Gusti Allah murka diambil semua tanah sama nyawa-nyawanya. Nauzubillah..
dibayar pake keringat dr rakyat. Tapi lebih membela perusahaan yg mengeksploitasi lahan milik rakyat masuk pak ekoo..👍
GILA ‼️
Nyawa orang cuma diganti 10 bulan penjara. Ini sama saja dg memelihara penjahat!
Bobroknya pengadilan militer.
Gimana jika anak2 dari hakim-hakim militer itu yg dianiaya sampai mati ?
-----------------
Honeymoon Pesta Babi Papua
DIASPORA SAMPAIKAN PESAN KEPADA PRESIDEN PRABOWO AGAR MENCABUT IJIN TAMBANG YG DIKELUARKAN GUBERNUR SUMATERA BARAT.
Di tengah duka bencana yang belum benar-benar pulih, ketika air mata masyarakat masih jatuh mengenang kehilangan, justru izin tambang batu andesit seluas 8 hektar pada tahap operasional diterbitkan di Nagari Kasang, Kecamatan Batang Anaic Kabupaten Padang Pariaman, Provinsi Sumatera Barat.
Setelah gagal menundukkan Iran melalui agresi militer, Uwak Jambul mencoba mengalahkan Iran melalui perundingan yang dilakukan secara estafet selama berbulan-bulan dan tidak ada yang bisa dicapai olehnya.
Belum selesai urusan dengan Iran, kini Trump justru ingin memperluas front dengan mengancam akan meledakkan Oman.
Ancaman tersebut dilontarkan saat wawancara ekslusif dengan wartawan di gedung putih, dimana wartawan menanyakan langkah yang akan ditempuh mengenai kondisi Selat Hormuz.
Trump menolak rencana pengelolaan Selat Hormuz oleh Iran dan Oman, bagi Trump perairan tersebut adalah jalur pelayaran internasional yang harus bebas dari pungutan biaya apapun.
Sikap Trump ini dianggap sebagai langkah untuk memperpanjang konflik yang tidak akan pernah dapat diselesaikan oleh AS, berderet ancaman yang dilontarkan oleh Trump terbukti gagal mempengaruhi sikap Iran.
Alih-alih bisa menjadi solusi yang permanen atas kebebasan lalu-lintas pelayaran di perairan Hormuz, kebijakan ofensif Trump ini justru semakin membuat penduduk AS semakin tercekik oleh kenaikan harga kebutuhan hidup.
Kendati nilai tukar mata uang USD mengalami penguatan, namun aktualnya di pasar domestik AS juga terjadi inflasi yang cukup signifikan.
Inflasi ini tidak lepas dari penerapan tarif dagang terhadap beberapa negara, termasuk Indonesia, yang nyatanya tidak mampu mengurai jalan buntu mengenai ketimpangan neraca perdagangan AS yang mengalami devisit akibat serbuan produk China di seluruh dunia.
Situasi ekonomi AS semakin diperparah dengan krisis di perairan Hormuz, dimana dunia internasional menjadi kehilangan akses yang selama ini menopang denyut nadi perekonomian mereka.
Kenaikan ongkir barang tidak hanya memperlemah perdagangan bagi wilayah Asia maupun Eropa, tapi juga menyebabkan kesulitan bagi rakyat AS.
Berdasarkan perkembangan situasi global yang terjadi saat ini, publik internasional mengarahkan pandangannya kepada Trump.
Uwak Jambul dianggap sebagai biang kerok dari malapetaka ekonomi yang tengah melanda dunia, dimana selain gagal membuktikan teorinya yang mengatakan bahwa Iran adalah ancaman bagi perdamaian dunia, Trump juga gagal membuktikan bahwa dirinya sanggup menanggulangi berbagai permasalahan dalam negerinya.
Bagi masyarakat internasional Trump tidak lagi memiliki legitimasi yang cukup untuk mengurai benang kusut ekonomi yang menjerat Rakyat AS, namun juga menarik dunia internasional ke dalam jurang krisis ekonomi yang tidak mungkin bisa dipulihkan tanpa penarikan kekuatan militer dari Timur Tengah terkhusus dari Selat Hormuz.
Dunia lebih mempercayai bahwa penguasaan teknologi nuklir Iran bukan ancaman bagi perdamaian dunia, karena selama kurun waktu 2009 hingga saat ini Iran tidak pernah melakukan agresi terhadap negara lain terkecuali dalam konteks membalas serangan alias mempertahankan diri.
Dunia menyepakati bahwa penghentian serangan maupun sikap permusuhan terhadap Iran adalah solusi yang terpercaya untuk mengakhiri krisis ekonomi global yang terjadi saat ini.
Kisah ironis dan menyesakkan dada ini dialami oleh seorang Guru Besar Universitas Indonesia bernama Profesor Raldi Artono Koestoer.
Melihat tingginya angka kematian bayi prematur dari keluarga miskin yang tidak mampu membayar biaya sewa inkubator rumah sakit yang sangat mahal, ia menggunakan kecerdasannya untuk merakit inkubator bayi portabel berteknologi canggih namun sangat hemat listrik.
Hebatnya, ia sama sekali tidak mengomersialkan alat penopang kehidupan tersebut, melainkan meminjamkannya secara gratis kepada ribuan ibu miskin di berbagai pelosok daerah.
Namun bukannya diberi medali penghargaan atau dana bantuan riset oleh negara, gerakan mulia sang profesor justru mendapat tamparan keras dari sistem birokrasi.
Pada tahun 2016, pemerintah melalui kementerian terkait mendadak menegur dan mencoba menghentikan operasional peminjaman inkubator tersebut.
Alasannya sangat kaku, alat penyelamat nyawa itu dianggap melanggar aturan karena belum memiliki sertifikat izin edar dan Standar Nasional Indonesia layaknya produk alat medis komersial buatan pabrik raksasa.
Tuntutan untuk mengurus perizinan yang memakan biaya sangat mahal dan proses yang rumit tentu tidak masuk akal untuk sebuah proyek amal yang dijalankan secara swadaya.
Ironi menyedihkan ini sempat memancing kemarahan publik secara luas, memperlihatkan bukti nyata bagaimana sebuah inovasi jenius anak bangsa yang murni bergerak untuk misi kemanusiaan justru nyaris dicekik mati oleh aturan kertas di negerinya sendiri.