@diaksarasa Tidak bisa menghindarโdan sejujurnya juga tidak berniatโArya membiarkan sang suami menciuminya walau tangannya tidak berhenti bergerak.
"Melipat baju anak-anak. Kamu mau bantu?"
ใ ค
Satu maniknya menangkap gunting yang sedang digunakan. Kilat matanya sejenak berubah, berbeda, seakan menemukan jalan baru. Mulutnya sendiri tidak mengatakan apa-apa, selain meringis perih ketika lukanya disentuh.
ใ ค
ใ คใ คใ คใ คใ คใ ค(@adheredtorules)
ใ ค
ใ ค
Kali ini, dirinya tidak lagi terlena akan kabut yang mengatas namakan ๐๐๐๐๐.
Tidak lagi dirinya luluh hanya karena pemuda itu memberikan perhatian dan perawatan yang lembut.
ใ ค
ใ ค
Dia tetap tidak menjawab, walau mungkin setelah ini akan ada siksaan yang menyusul. Dirinya tetap tidak membalas pernyataan cinta yang diberikan.
Yang ada di benaknya saat ini hanya bagaimana cara untuk terlepas dari ini semua.
ใ ค
ใ คใ คใ คใ คใ คใ ค(@adheredtorules)
ใ ค
ใ ค
Isadore tidak menjawab lagi, hanya berusaha membetulkan ritma napasnya yang berantakan dan mengumpulkan kembali tenaga yang habis tadi.
๐ท๐๐๐๐, ๐๐๐๐๐.
Setiap jengkal kulitnya terasa nyeri luar biasa.
ใ ค
ใ ค
"Theo... Theo, sudah.." Pintanya. Satu saja cukup bukan? Ia ingin lepas, ingin bebas.
Kegiatan yang seharusnya dipenuhi dengan cinta dan rasa sayang kini terasa bagai siksaan sepenuhnya. ใ ค
ใ ค
ใ ค
Awal ๐๐๐๐บ๐ ๐๐บ๐๐๐ yang berujung pada ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐, di mana dirinya berada sekarang. Terbuai karena ucapan cinta yang tidak berhenti sehingga buta terhadap obsesi yang pekat.
ใ ค
ใ ค
"Theo.. Theo, henโ Ah!" Bahkan protesnya mulai teredam akan respon alami yang sedang ia berikan. Miliknya ikut tegang, walau Isadore sudah dengan susah payah menahan semua reaksi yang diinginkan Theodoros.
ใ ค