lumayan enak nonton bincangbincang politik sekarang di tv. generasi boomer dan milenial yang bacotnya lebih berisik daripada isi omongannya udah mulai punah yagesya.
aplikator itu udah banyak ambil untung dari penjual, mulai dari komisi dasar yang ga tanggung² bisa 15%-30%, itu belum termasuk ppn loh. belum biaya transaksi, biaya promo, biaya iklan. konsumen juga dipalakin tuh sama biaya layanan. emang idiot aja pemerintah diem doang bisanya.
Langkah menurunkan komisi ojol ke 8% memang positif untuk driver, tapi regulasi seperti ini tetap menyisakan risiko efek domino.
Pendapatan aplikator dari sektor transportasi akan turun, sementara model bisnis mereka tetap mengejar margin, sehingga uang kompensasinya bisa bergeser ke tempat lain: merchant, biaya layanan konsumen, platform fee, dll.
Ujungnya, beban bisa pindah dari driver ke penjual dan konsumen. Merchant menaikkan harga, konsumen membayar lebih mahal, sementara akar persoalan model bisnis aplikator tetap belum tersentuh.
Pendek kata, solusi ini berpotensi memindahkan beban, bukan menyelesaikan struktur masalahnya.
program mbg yang udah terlanjur dibuat kalo kata gue mah alihin aja buat program stunting, alias khusus ibu menyusui. periode 1000 hari paska kelahiran memang momen krusial. sekian.. hehe
yang gue bikin takjub itu warga konoha kalo urusan duit gerecep pol. bayangin dalam setahun hampir 28 ribu dapur mbg berdiri, anggeplah biaya konstruksi sampe modal operasional 1 bangunan itu ngabisin 1 miliar, setahun 28 triliun keluar duit dari warga. lebih gila dari retail...
trus mengenai ROI, ya iyalah negara tinggal nunggu mati aja kalau nih program terus eksis. buangbuang duit doang. apa timbal balik nya? perputaran uang aja dari pemerintah. ini bukan siklus ekonomi organik.. duit negara habis = perputaran ekonomi yang kecil itu berhenti.
@middnaid@txtdrkuliner Agree . Kayaknya mas aldi ga mungkin pakai sistem itu. Dia beneran baik dan humble banget orang nya. Nahh di resto lain pasti ada, dulu toko saya aja sistem potong gaji wkwk