2-3 LEV we finish Masters London 2nd place ggwp to LEV they played great congrats to them. I guess we are trying to be fnatic with all these 2nd places 🥹
Profesor Herawati Sudoyo, Pahlawan Bom Bali yang "dikalahkan" oleh tembok birokrasi negara sendiri. Lo bayangin, kepolisian dunia aja hormat sama beliau karena sukses bongkar identitas pelaku Bom Bali cuma dari serpihan DNA. Tapi pas di negaranya sendiri, nasib beliau dan timnya malah berakhir ngenes gara-gara urusan administratif.
Namanya Prof. Herawati Sudoyo, salah satu otak paling cerdas di Lembaga Eijkman. Pas kejadian Bom Bali 2002, beliau dan timnya kerja gila-gilaan buat identifikasi pelaku lewat sisa-sisa DNA di lokasi ledakan. Berkat beliau, kasus-kasus terorisme besar bisa terungkap secara ilmiah.
Di tangan beliau, Lembaga Eijkman jadi markas riset genetika paling bergengsi di dunia. Bukan kaleng-kaleng, ilmuwan luar negeri aja segan sama riset mereka. Tapi ya gitu, musuh terberat orang pinter di sini bukan virus, tapi birokrasi.
Plot twist paling pahitnya terjadi awal 2022. Lembaga bersejarah ini dibubarin dan dilebur secara paksa ke instansi riset baru. Alhasil? Ratusan ilmuwan dan peneliti elit dipecat massal dalam semalam cuma karena mereka bukan PNS.
Bayangin, orang-orang yang udah ngabdi puluhan tahun demi kemajuan sains Indonesia, disuruh angkat kaki cuma karena masalah dokumen status pegawai. Dr. Herawati dan timnya harus ninggalin laboratorium tempat mereka nyetak sejarah internasional.
Ini jadi bukti nyata kalau di sini, "surat sakti" birokrasi kadang lebih berkuasa daripada otak jenius yang diakuin dunia. Padahal kita butuh lebih banyak orang kayak mereka, bukan malah bikin mereka "patah hati" sama negaranya sendiri.
Respek buat Prof. Herawati dan para ilmuwan Eijkman. Mereka udah kasih yang terbaik buat Indonesia, meskipun akhirnya harus "menelan luka" gara-gara sistem yang kaku. Pahlawan sains yang sebenernya.🫡✨
5 CARA GILA BIAR LO
DIHORMATI
1. sama bocah → rendahin ego, bukan ninggiin suara.
2. sama orang tua → dengerin dulu, baru ngomong.
3. sama pasangan → dengarkan, jangan cuma mau didengar.
4. sama sahabat → rahasia dijaga, bukan dijadikan cerita.
5. sama Tuhan → jangan ingat cuma saat lagi jatuh.
Di hukum internasional, ruang udara itu beda banget sama laut. Di laut, kita kenal istilah Innocent Passage (Hak Lintas Damai) berdasar UNCLOS. Artinya, kapal militer asing boleh lewat laut teritorial kita asal nggak macem-macem.
TAPI, di udara, tidak ada yang namanya Hak Lintas Damai! Menurut Konvensi Chicago, ruang udara di atas daratan dan perairan negara adalah kedaulatan mutlak dan eksklusif. Pesawat sipil asing saja harus punya izin melintas, apalagi pesawat militer.
Soooo mengizinkan sistem blanket overflight untuk armada tempur asing sama dengan mendelegasikan sebagian kedaulatan mutlak negara ke tangan negara lain.
Ini adalah privilese yang biasanya hanya diberikan kepada negara sekutu terikat pakta pertahanan (seperti NATO), bukan kepada negara berstatus Non-Blok.
Kalau Indonesia sampai ngasih ini ke AS, secara teknis kita telah me-redefinisi ulang arti kata kedaulatan dalam konstitusi kita sendiri.
Lo pasti hobi pencet 'Sign in with Google' biar cepet pas bikin akun di web ga jelas.
Congrats, lo baru aja ngasih kunci rumah lo ke puluhan developer asing yang bahkan lo udah lupa namanya.
Masalah terbesar yang menghantui Indonesia sejak kemerdekaan adalah overpopulasi tentara.
Tentara terlalu banyak. Overpopulasi. Akhirnya merampok.
Orang-orang seperti Hatta dan Hamengkubuwana IX berusaha mengurangi besar-besaran jumlah tentara. Setelah merdeka dan Belanda pergi, kita tidak lagi butuh laskar.
Terima kasih karena sudah berjuang membela negara, tapi memang literally sudah tidak ada lagi kebutuhan untuk tentara massa modelan laskar yang tidak profesional. Kalau diteruskan, negara akan bangkrut.
Usaha ini gagal. Tentara dan laskar tetap terlalu banyak. Mereka gagal bertransisi ke kehidupan sipil. Lebih-lebih, mereka dipimpin bukan oleh badan ketentaraan profesional, melainkan masih dikuasai secara personalistik oleh warlord daerah.
Selama 1957-1965, perusahaan hasil nasionalisasi dirampok habis oleh tentara yang lapar. Akibatnya, ekonomi Indonesia roboh dengan mengerikan pada 1960an.
Negara-negara Barat pernah mengalami masalah yang sama seperti kita yaitu overpopulasi tentara pasca Perang Dunia II, tetapi mereka berhasil menyelesaikannya.
Setelah Perang Dunia II, tentara di negara-negara Barat dipecat massal secara hormat dan kembali menjadi orang sipil. Alasannya, karena ya memang sudah tidak dibutuhkan lagi. Mereka jadi buruh, pengusaha, manajer, ASN. Jepang maju, Amerika maju, Eropa maju.
Di masa pasca Revolusi, Indonesia kesulitan melakukan itu karena kita ya baru merdeka. Kita tidak punya uang. Kita tidak punya pengalaman. Kita tidak punya ekonomi.
Ya sudah lah ya.
Karena itu, tangat tidak bisa diterima dan tidak masuk akal adalah apabila masalah overpopulasi tentara ini mau diulang lagi hari ini, tanpa alasan, 80 tahun setelah kemerdekaan.
Kedongoan yang sangat ekstrem. Hancurlah Indonesia.
Tahun 1991, Irak sombong karena punya militer ke-4 terbesar di dunia. Ia mencoba menjajah Kuwait.
Masalahnya, tentara Irak isinya orang doang. Tak ubahnya segerombolan ormas.
Kemampuan teknologi, logistik, alusista, doktrin operasional Irak sangat tertinggal. Banyak tentara tak diberi senjata memadai.
Militernya dikuasai jenderal-jenderal preman yang gaptek, korup, boomer, preman, sok tahu, dan tidak kreatif. Mereka sama sekali tidak profesional. Mereka hanya bisa merampok, memalak, memungli, dan berpolitik.
Yang terakhir ini sangat fatal. Jabatan militer jadi tidak ditentukan oleh profesionalisme meritokratis, tapi oleh permainan politik dan ordal.
Akhirnya militer pun diisi jenderal-jenderal tolol yang bukan ahli perang, melainkan hasil permainan politik belaka. Mereka saling membenci dan berantem. Akibatnya tidak ada koordinasi dan komunikasi efektif saat perang.
Irak pun luluh lantak bergelimpangan dihancurkan pasukan koalisi. Jutaan tentara Irak kebingungan, panik, sama sekali tidak berdaya, lari terbirit-birit, kemudian dibantai di tempat.
Tidak ada perlawanan. Hancur lebur dalam 5 hari. Tumpas. Tubuh dan truk dan tank mereka hancur terkapar di mana-mana dalam jumlah besar, seperti di foto. Irak hancur dan tidak pernah bangkit lagi untuk selamanya.
Analis militer Barat, yang kebingungan karena ketidakbecusan ekstrem pimpinan militer Irak, menyimpulkan bahwa kepayahan militer Irak yang menyedihkan disebabkan oleh "budaya" Arab yang inferior. Padahal sebenarnya skill issue saja. Rezim politik Saddam Hussein memismanage militer hingga menjadi acak-acakan seperti itu.
Inilah nasib mengerikan yang menunggu apabila tidak ada profesionalisme, tidak ada disiplin dalam tentara, tetapi hanya bisa berlagak dan memalak seperti segerombolan preman ormas bodoh.
Indonesia?
welcome back. one of the best examples of good public speaking.
story telling aspect, give examples and evidences, chronologic, simple words, agitatives, sometimes jokes, firm, and nice intonation with great tempo.