theo membahas sebuah thread soal dua teman
teman a: hemat, menabung, investasi saham terus
teman b: uangnya dipakai untuk gaya hidup, liburan, belanja, pengalaman
lima tahun kemudian, kata thread itu, dua-duanya sama-sama tidak punya uang, tapi b merasa lebih menikmati hidup dan lebih bahagia
mereka bilang tema ini menarik, apalagi karena ihsg baru kena trading halt (perdagangan dihentikan sementara), tapi yang dibahas bukan ihsgnya
cerita pribadi teo
dulu dia tipe a
berubah karena tabungannya dipinjam orang tuanya sampai habis, dia sebut itu “trading halt” pribadinya
dia bilang banyak orang menengah ke bawah punya orang tua yang tidak punya kebiasaan mengelola uang, jadi dia sempat merasa menabung itu percuma
sekarang dia bilang mencari uang banyak tidak sama dengan harus punya uang banyak: kerja giat adalah tanggung jawab, menabung dan bersyukur adalah mengelola berkat tuhan, menikmati uang yang sehat juga berkat, semuanya berjalan paralel
@alayy collective effervescence. orang-orang ini gak punya self value di luar asosiasinya dengan institusi. joged-joged begini adalah cara mereka (1) nunjukin ke orang-orang dan (2) meyakinkan diri sendiri bahwa mereka "a part of something big and important"
HARI-HARI YANG MENENTUKAN SEJARAH AMERIKA DAN IRAN: PERANG ATAU DAMAI?
Jenewa kota yang indah, damai dan saat ini hawanya sejuk. Namun, jam-jam ini, hari-hari mendatang, kota yang penuh legenda ini bisa menjadi saksi sejarah. Bisa melahirkan sebuah “game change” yang berimplikasi besar pada perkembangan dunia.
Di penghujung Februari 2026 ini, tengah berlangsung sebuah perundingan dan negosiasi yang sangat penting. Juru runding Amerika Serikat tengah melakukan pertemuan tidak langsung (melalui mediator) dengan juru runding Iran. Banyak kalangan yang tengah menunggu hasil negosiasi itu, utamanya bangsa-bangsa di kawasan Timur Tengah. Sukses atau gagal? Bawa kedamaian, atau sebaliknya menyulut terjadinya peperangan yang dahsyat?
Semua tahu bahwa negosiasi, utamanya menyangkut masa depan proyek nuklir Iran itu sesuatu yang sangat rumit dan tidak mudah untuk membangun opsi yang bisa diterima kedua belah pihak. Kepentingan kedua negara sangat berbeda. Ketika perundingan tengah berlangsung, di kawasan Timur Tengah sedang berhadap-hadapan dua negara yang siap berperang. Para juru runding juga harus cerdas membaca pikiran kedua pemimpin yang memberikan mandat pada mereka, Presiden Trump dan Ayatullah Khamenei. Membangun “harmoni” antara juru runding dengan para bosnya mungkin juga sesuatu yang tidak mudah.
Sebagai seorang yang memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam resolusi konflik, baik pada tingkat nasional maupun internasional, saya mesti mengatakan bahwa sebuah negosiasi itu sangat melelahkan. Perlu kesabaran, kecerdasan, dan keuletan. Siap untuk berkompromi serta bersedia untuk sebuah “take and give”. Keinginan dan sasaran yang digariskan oleh kedua pemimpin negara juga harus sangat dimengerti.
Khusus negosiasi Amerika-Iran ini, saya mengamati bahwa kedua pemimpin mereka, Donald Trump dan Ali Khamenei memiliki “uniqueness”. Keduanya memiliki ego, ambisi dan juga “personal interest”. Trump khawatir kalau sampai gagal, reputasi serta “legacy” indah yang ingin diraih bisa hancur berantakan. Ali Khamenei juga khawatir kalau sengketa sengit dengan Amerika ini, jika nasibnya naas, bisa berakhir dengan pergantian rezim dan “he must go”. Berarti, ini merupakan “survival interest” buat pemimpin Iran itu.
Banyak pihak yang memprediksi atau menyimpulkan jika perundingan ini gagal, maka perang besar pun akan segera meletus. Ibaratnya kondisi sudah matang. Tinggal menunggu komando Trump dan Khamenei.
Pendapat saya, terjadinya perang yang seolah diniscayakan itu, bisa iya, bisa tidak. Apalagi kalau para jenderal di kedua belah pihak, terus mengawal pengambilan keputusan para pemimpinnya. Trump dan Khamenei tidak akan gegabah dalam memerintahkan tentaranya untuk berperang. Terlalu tinggi risiko dan harga yang harus mereka bayar kalau keputusannya salah.
Ada catatan penting bagi seorang “commander-in-chief” untuk mengambil jalan perang guna memenuhi kepentingan nasionalnya.
Pertama, apakah perang itu harus dilaksanakan atau masih ada opsi yang lain? Inilah yang sering disebut “war of necessity” dan “war of choice”. Pada akhirnya, kedua belah pihak akan menentukan berperang atau menempuh jalan lain.
Kedua, negara siap berperang kalau kalkulasi rasionalnya menjamin bahwa perang dapat dimenangkan. Baik Trump maupun Khamenei harus bisa meyakinkan dirinya sendiri, dengan menggunakan logika dan akal sehatnya, bahwa perang yang ia pilih memang akan bisa dimenangkan. Karena perang terkait dengan nasib dan masa depan rakyat yang dipimpinnya, yang memberikan mandat dan kepercayaan, suara mereka mesti didengar. Pertimbangan dan saran para jenderal dan petinggi militer juga mesti diindahkan, jangan terkubur dengan ego pemimpin yang kelewat tinggi.
Bagi Amerika yang boleh dikatakan terus sesumbar untuk menghancurkan Iran (meskipun belakangan Iran juga mengobarkan dan menjanjikan ancaman), perlu dipikirkan dalam-dalam sebelum mengambil keputusan untuk berperang. Maksud saya, jangan-jangan bagi Amerika menang perangnya sulit dicapai, kemudian “exit” atau mengakhiri peperangan juga tidak mudah dilakukan. Ingat kembali pengalaman pahit ketika melakukan peperangan di Vietnam, Irak dan Afghanistan. Ingat, Iran adalah Iran. Iran bukan Irak dan bukan Afghanistan.
Terakhir, ada pesan dari seorang warga Indonesia dan juga warga dunia melalui media ini. Bukan hanya untuk Presiden Trump dan Ayatullah Khamenei, tetapi juga untuk seluruh pemimpin politik di dunia yang di tangannya ada sebuah tombol untuk memulai peperangan.
Begini pesan saya.
Para perwira dan para prajurit itu juga punya jiwa, punya keyakinan, punya akal sehat, dan tentunya punya harapan. Kalau soal berkorban untuk nusa dan bangsa, tentara selalu siap mengorbankan jiwa dan raganya. Hal itu tidak perlu diragukan. Selama 30 tahun saya mengabdi di dunia militer, lima tahun saya pernah bertempur untuk Sang Merah Putih. Namun, sukses sebuah peperangan juga ditentukan oleh apa yang ada dalam hati dan pikiran para prajurit. Ada kalimat indah yang mesti diingat oleh para pemimpin politik – presiden atau perdana menteri – “Soldiers will not fight and die, unless they know what they fight and die for” (Prajurit tidak bertempur dan siap untuk mati, kecuali mereka tahu untuk apa mereka bertempur dan mati) *SBY*
Pendaki asal Irlandia, Paul Farrell punya pengalaman mirip dengan turis Brasil, Juliana Marins. Pada 2024, dia jatuh ke jurang di Gunung Rinjani sedalam 200 meter.
Dalam wawancara dengan BBC News Brasil, Farrell menceritakan bagaimana dia bisa selamat.
Kemarin mobil ditabrak motor dari belakang. Kondisi macet berjalan.
Maju beberapa meter, ada orang nyebrang, nyetopin mobil gue, dan ternyata itu orang yang nabrak, mau minta maaf dan mungkin diskusi pertanggungjawaban. Dia parkir motornya di pinggir jalan.
Gue cuma buka jendela dan bilang; “yaudah mas, aman, gapapa.” Dia kaget, gue lebih kaget karena di tengah kondisi dia bisa kabur dengan mudah, dia milih mengaku dan minta maaf.
Itulah karakter.
🚨 TV Iran:
“Tidak ada radiasi nuklir dalam serangan tadi malam, semua uranium sudah dipindahkan dari fasilitas nuklir sebelumnya.”
Sekitar pukul 3 malam (UTC +3), jet tempur Amerika menyerang 3 fasilitas nuklir Iran.
Detail lengkap di Thread...🧵
Pemerkosan Massal 1998 dan Fadli Zon
Saya berimajinasi membayangkan Bapak Fadli Zon @fadlizon Menteri Kebudayaan RI, menyampaikan hal sebagai berikut
“Sebagai Menteri Kebudayaan, saya mewarisi bukan hanya narasi kebesaran bangsa, tetapi juga fragmen sejarah yang menyayat: tragedi pemerkosaan massal pada masa transisi kekuasaan 1998. Kita boleh berdebat soal jumlah korban atau definisi ‘massal’, namun bagi para penyintas, penderitaan itu nyata. Luka mereka bukan statistik. Mereka adalah jiwa-jiwa yang dilukai oleh diam dan kelengahan kita.
Dalam upaya pemerintah menulis ulang sejarah bangsa, episode kelam ini akan kami hadirkan dengan keberpihakan yang tegas kepada perspektif korban. Menulis sejarah bukan sekadar menyusun kronik kekuasaan, tapi membaca batin bangsa—mengakui luka, menandai pelajaran, dan menciptakan ruang pulih. Sejarah tak boleh menjadi propaganda, tetapi harus menjadi cermin: agar anak-anak kita tahu, bahwa bangsa ini pernah terluka, dan memilih untuk tidak melukai lagi.
Dengan penuh kerendahan hati, saya menyampaikan permohonan maaf kepada para korban atas kegagalan negara melindungi mereka. Kita telah gagal menciptakan ruang publik yang aman bagi perempuan. Atas nama pemerintah, saya meminta maaf.
Saya dan Presiden Prabowo berkomitmen bahwa tragedi ini tidak akan terulang. Kita ingin tumbuh sebagai bangsa yang tak hanya cerdas, tapi juga berbelas kasih. Bangsa yang menjadikan empati sebagai pilar kebudayaan dan keadilan sebagai wujud nyata dari kemanusiaan.”
**
Bisa kan Pak Menteri Fadli Zon? Anda tentu bisa lebih baik lagi dari imajinasi saya. Kami tunggu yahh
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Tahun 1238, insinyur Granada menciptakan sistem air mandiri di ketinggian 200 meter.
Tapi karya mereka berikutnya nyaris “menghancurkan” hukum fisika!
Ini kisah lengkapnya 👇
Barusan ngeliat curhatan orang yg cicilan KPR nya masuk ke fase floating, dan akhirnya dpt kenaikan cicilan hampir 100% dari 6jt an ke 12jt an.
Ada yg pernah atau sedang ngalamin?
Mungkin ini sedikit tips ya buat temen2 yang baru mau proses kpr atau sedang menuju fase floating !
Rizkil Wathoni. 😔🙏🏽
Duh, patah hati sekali membaca kronologi kematiannya.
Salah sangkanya sudah diluruskan, tapi kalau yang melenceng penegakan hukumnya apa yang mau diharapkan.
Bisa gak sih hukum itu dipakai untuk mendamaikan, menjaga ketentraman, dan memberi keadilan?