TAMAT!!!
Selamat membaca. Seperti biasa minta tolong tingalin komen setelah selesai membaca ya. Gantian saya yang baca-baca komen teman-teman semua.
Semoga menghibur..
Sabda Wingit Alas Gumelar
Part 2 : Jejak Yang Tak Ingin Ditemukan
Hujan itu turun sebagai sebuah pertanda. Bahwa tak semua yang hilang akan ditemukan jejaknya.
@bacahorror@IDN_Horor@ceritaht
Tumbal Telaga Tirta Sukma
Part 1 : Telaga Gunung Lingsir
Di lereng Gunung Lingsir, berdiri Telaga Sukma Tirta, airnya jernih, tenang, dan berbisik dengan suara yang hanya bisa didengar oleh mereka yang ditakdirkan.
@bagihorror@IDN_Horor@ceritaht
SABDA PENGIWA - Keranda Tulah
Part 1
Sebuah keranda bambu, diusung oleh para pria berikat berpakaian hitam.
Di dalamnya, terbaring Jasad Keramat yang diarak dan mendatangkan kematian bagi warga desa
@IDN_Horor@bagihorror#bacahorror
Sanjaya pusing jg berpikir seperti itu. Oleh karena itu ia mengedar pandangke area sekitar. Sewaktu cahaya senternya menyorot deretan kios di lantai dua, firasatnya mengatakan ia harus ke situ. Tergopoh ia melangkah lalu diiringi para bawahan serta pnyidik Polsek yg kebingungan.
PUSAKAYANA
Part Akhir - Tembang Pamungkas
(Bagian 2 - TAMAT)
Wujud Asli Pusaka Sukma pun muncul, Wanatunggal meraung, dan Mantra keramat telah terukir.
Kekuatan terbesar memasuki peperangan...
@bacahorror@ceritaht@IDN_Horor#bacahorror#diosetta
“Aku akan menaklukkanmu!” seru Siluman Sembrani sambil melompat dari reruntuhan tertinggi. Tapi sebelum tubuhnya mencapai busur itu, sesuatu terjadi.
Tubuhnya menghitam. Otot kuda gagah itu menggembung, lalu berubah — sisik-sisik tumbuh dari kulitnya, membungkus tubuhnya yang kini tak lagi sepenuhnya kuda.
Ia berubah menjadi makhluk setengah ular.
Cahyo menahan napas dan bersembunyi di balik reruntuhan, matanya mengintai dari celah batu.
“ULAH SIAPA INI?!” raung Siluman Sembrani dalam murka.
Lalu terdengar suara menggema, dingin dan penuh godaan.
“Ambil saja pusaka itu… Jadi pengikutku… dan serahkan padaku,” bisik suara Dewi Kanthasari entah dari mana.
Trang! Trang! Trang! “AAARRRGHH!!”
Siluman Sembrani terjungkal ke tanah. Tubuhnya menggeliat, setengah kuda, setengah ular dan mencoba melawan perubahan di tubuhnya. Tapi ia belum menyerah.
“Aku… tidak selemah itu, siluman hina!!” ia meraung lagi.
Tiba-tiba, suara itu terdengar lagi, kini lebih jelas, lebih dekat.
“Aku suka pria kuat… Sepertinya aku sendiri harus turun tangan.”
Dari celah tanah yang merekah, muncul sosok perempuan cantik dengan tubuh ular dari pinggang ke bawah. Wujud asli Dewi Kanthasari. Ia melata dengan anggun, wajahnya menawan, matanya menyala penuh hasrat kuasa.
“Kau akan menjadi abdi terkuatku…” bisiknya menggoda, gigi taringnya siap menggigit.
Namun sebelum taring itu menyentuh kulit..
SRAAATTT!!!
Darah hitam menyembur liar ke wajah Siluman Sembrani. Kepala cantik Dewi Kanthasari terpenggal, tubuhnya menggelepar, lalu tumbang .. tanpa kepala.
Siluman Sembrani menoleh perlahan. Di balik kabut reruntuhan, berdiri Cahyo, menenteng kepala Dewi Kanthasari dengan dingin. Keberadaannya tersembunyi oleh pusaka batu, membuatnya tak terdeteksi siapa pun.
“Kenapa kau menolongku?” tanya Siluman Sembrani, terpana.
“Aku tidak menolongmu. Aku hanya muak dengan siluman murahan ini,” balas Cahyo, lalu melempar kepala itu sejauh mungkin.
Tubuh Dewi Kanthasari mengepul, terbakar dari dalam, lalu hancur jadi abu. Ia benar-benar musnah.
Bruggh!!
Tiba-tiba, satu siluman lain jatuh ke tanah, anak panah menancap tepat di kepalanya, ia mati seketika saat mencoba meraih busur Nararingga.
“Mundur kalau masih mau hidup. Busur sialan itu akan menyerang lagi,” ucap Cahyo cepat, matanya tajam ke arah Siluman Sembrani yang nyaris ambruk kelelahan.
Siluman Sembrani mendengus kesal, tapi kini ia menatap Cahyo dengan cara berbeda.
PUSAKAYANA
Part 9 - Jagat Menungso
Sudah tiga malam berturut-turut mimpi itu datang. Naya melihat desanya runtuh dalam asap dan api.
Ia melihat Danan pulang membawa kekalahan, dan bersamanya... bencana yang tak bisa dicegah.
@bacahorror@IDN_Horor@bagihorror@ceritaht
“Kalian melakukan kesalahan besar! Khekhekehe!” tawa nenek berleher ular itu menggema saat kami sudah sampai di pinggir telaga. Suaranya mengalun dalam kegelapan malam, menambah ketegangan yang sudah menggelayuti suasana. “Kalian membawa kami keluar dari pagar gaib bangunan itu. Di sini ‘mereka’ bisa membantu kami…”
Aku dan Cahyo saling bertukar pandang, tidak gentar. Memang itulah tujuan kami. “Panggil mereka! Tunjukkan kepada makhluk sehina apa kalian bersekutu!!” ucapku, suaraku penuh tantangan, berusaha menegaskan keberanian di tengah ancaman yang mencekam.
“Sombong!!!” Nenek itu tidak terima dengan ucapanku. Tiba-tiba, sosok makhluk berwujud anak kecil bertubuh serba hitam dengan kulit yang keras muncul di antara mereka. Kami mundur selangkah, merasakan aura mengerikan yang menyelimuti sosok itu.
“Tuan Jabang Kolo Bendu…” nenek berleher ular itu merunduk pada sosok itu, dan kekuatan gelap mengalir padanya. Aku tak begitu gentar dengan perubahan pada nenek itu, tetapi aku tahu dengan jelas bahwa sosok Jabang Kolo itu bukan setan biasa.
“Mayatmu milikku…” suara nenek itu tiba-tiba terdengar dari tengkukku. Seketika, tangannya menggapai kepalaku dengan cepat, seolah ingin merenggut nyawaku.
“Danan!” Cahyo memperingatkanku. Aku sudah menduga gerakan seperti ini dan menangkap tangannya yang mencengkeram kepalaku.
“Kau diberikan berkah dengan menjadi makhluk yang mulia tapi memilih menjadi budak setan? Benar-benar bodoh!” ucapku sambil mulai membacakan sebuah lantunan doa, suaraku bergetar namun penuh keyakinan.
“Singkirkan tanganmu!” nenek itu menarik kembali tangannya, tetapi aku tak membiarkannya lepas. Dengan cepat, aku menangkap wajahnya dan melanjutkan lantunan doaku.
“Tak perlu aji-ajian untuk menghadapi kalian! Kalian cuma manusia bodoh yang tidak bisa apa-apa tanpa kekuatan setan itu!”
“A—apa? Apa yang kau lakukan??!” nenek itu berusaha melepaskan dirinya. Berkali-kali ia mencoba menyerangku, tetapi kekuatannya tersegel tepat di bawah telapak tanganku.
“Tidak!! Jangan!! Sakittt!!! Hentikan!!” Asap hitam menguap dari tubuhnya. Doa-doa yang kubacakan melenyapkan kekuatan Jabang Kolo yang merasuk di dirinya.
“Hentikan! Aku sudah mengorbankan segalanya demi kekuatan itu!!!” teriaknya, suaranya penuh kepanikan.
Aku tidak peduli.
Semua yang kulakukan pada nenek itu disaksikan oleh para pengikutnya dan dukun gondrong yang datang bersamanya.
Brakk!! Tubuh nenek itu terjatuh di tanah tak sadarkan diri. Tanpa kekuatan Jabang Kolo Bendu, rupanya nenek itu hanya nenek tua renta biasa.
Belasan pengikut dukun dan nenek itu terlihat gentar. Dukun itu menatap mereka dengan kecewa. “Habisi mereka! Ilmu kalian sudah membuat kalian melebihi manusia biasa!” perintahnya, suaranya menggema penuh tekanan.
“Ta—tapi…” mereka masih terlihat ragu. Namun tiba-tiba, Jabang Kolo Bendu berdiri dan tersenyum lebar. Seketika, tubuh anak buah nenek dan dukun itu bergerak aneh. Matanya memutih, kulitnya menghitam, dan mereka mengamuk dengan cara yang mengerikan.
“Khki… khik..khik..” Jabang Kolo tertawa, seolah menikmati kekacauan yang terjadi, seperti ini adalah permainan baginya.
Satu-persatu mereka mulai menyerangku dengan parangnya. Dengan susah payah, kami berdua menghindari serangan itu dan membalasnya. Namun, mereka terlalu banyak, dan serangannya benar-benar membabi buta.
Dukun itu tertawa menyaksikan kami yang kewalahan. Cahyo bersiap memanggil Wanasura, tetapi aku menahannya. “Tahan, Cahyo! Ada yang aneh!”
Cahyo mengikuti ucapanku, hanya menghindar sebisanya. Saat itulah ia mulai menyadari apa yang aku maksud. Anak buah dukun itu terus menyerang membabi buta dengan parang di tangan mereka.
Memang cukup sulit menghindarinya, tetapi semakin lama aku tersadar bahwa serangan mereka berkurang.
Mereka menyerang tanpa pandang bulu… Tangan dan anggota tubuh beterbangan di sekitar kami. Mereka menyerang siapapun di hadapan mereka, termasuk teman mereka sendiri. Darah merah bermuncratan dari pertarungan yang mengerikan.
“A—apa-apaan ini? Apa yang kalian lakukan?!” Dukun itu terlihat bingung, tetapi Jabang Kolo Bendu terlihat senang dan tertawa.
“Tuan? Apa maksudnya ini?” salah satu pengikutnya bertanya, ketakutan mulai merayapi wajahnya. Makhluk dengan kekuatan mengerikan itu tak menjawab, ia justru tertawa kegirangan melihat semua itu.
“Bodoh! Kau masih belum sadar!” ucap Cahyo saat tak ada lagi dari lawan kami yang bisa kembali berdiri.
“Kalian para pemburu mayat, mempersembahkan mayat untuk setan biadab itu kan? Sekarang giliran mayat kalian yang dipersembahkan!”
Mendengar ucapan itu, dukun itu pun cemas, terlebih saat ia melihat lumpur hitam yang menyelimuti tubuh nenek tua dan anak buahnya. Lumpur hitam itu memakan mayat-mayat itu.
“Ti—tidak! Tidak mungkin!” Dukun itu menoleh ke arah Jabang Kolo Bendu, menyadari senyuman aneh setan yang menatap ke arahnya.
“Sa—saya bisa menghadapi mereka! Beri saya kesempatan!” Seketika, kekuatan hitam menyelimuti dukun itu. Matanya semakin hitam, lidahnya menjulur bercabang. Ia seperti membuang wujud manusianya, ekor tumbuh di belakangnya, wujudnya benar-benar menyerupai tokek yang menyatu dengan manusia.
“Seharusnya kuhabisi kalian sejak tadi!!” ucapnya, suaranya menggeram penuh kebencian. Dukun itu pun mencabut pisaunya dan mengincar kami, tetapi sebuah kata muncul dari mulut Cahyo.
“Wanasura…”
GRAAAAOOORRR!!!!
Seketika suara raungan besar terdengar, menghempaskan dedaunan di sekitar kami. Kekuatan Wanasura merasuk ke tubuh Cahyo, membuat dukun itu gentar.
“A—apa itu?? Makhluk apa itu?!!” Dukun yang sudah membuang wujud manusia itu menghentikan langkahnya, menyadari keberadaan Wanasura.
“Ternyata nyali pemburu mayat hanya seperti ini,” ucap Cahyo, suaranya penuh percaya diri.
Aku mendekat ke arah dukun itu, memperjelas semuanya. “Setan yang kau sembah itu sudah sadar bahwa ia tidak bisa mengalahkan kami, jadi dia dengan pintarnya memilih untuk mengambil mayat kalian daripada harus melindungi kalian!” ucapku, menatap tajam ke matanya.
Penjelasanku itu diikuti tawa Jabang Kolo Bendu. Makhluk itu memang benar-benar licik. Seolah tak percaya, dukun itu menoleh ke arah setan yang ia sembah, dan saat itu juga, tubuhnya menjadi kaku, lehernya terbalik hingga hampir patah.
“A—ampun! Jangan, tuan!! Jangan!!” teriaknya, panik.
“Sudah terlambat. Setan tak punya rasa belas kasihan…” ucap Cahyo, suaranya tegas.
Krakkk!!!
Leher dukun itu patah, dan sekali lagi lumpur hitam memakan jasad dukun yang baru saja meregang nyawa itu. Dapat dipastikan jiwa mereka akan menjadi budak dari setan biadab itu.
Kini hanya tersisa aku dan Cahyo serta Jabang Kolo Bendu. Kekuatan mengerikan yang mengancam terpancar dari setan bertubuh kecil dan hitam pekat itu. Ia masih terus tertawa, mengintimidasi kami. Namun, tak ada pergerakan dari dirinya.
Seperti yang kuduga, setan itu tak berniat menghadapi kami. Sosok itu menghilang sambil tertawa, tak berbicara sepatah katapun. Kekuatan menakutkan itu pun perlahan hilang, tak membekas.
“Dia pergi?” Tanya Cahyo.
Aku mengangguk setelah memastikan tak lagi merasakan kehadiran setan itu.
PERANG TANAH DANYANG
Part 12.1 - Babad Tanah Danyang
Ada alasan mengapa alam mereka dipisahkan dari manusia. Ada sesuatu yang dimiliki oleh manusia yang tidak dimiliki oleh para danyang...
@bacahorror@IDN_Horor#bacahorror
Part Sebelumnya :
part 1 : https://t.co/mzOHTOZ9qr
part 2 : https://t.co/GRUAyCkynt
Part 3 : https://t.co/ra2vmohUhz
part 4 : https://t.co/K7dMhahSG0
Part 5 : https://t.co/snENX6VqO9
Part 6 : https://t.co/nnk0FkO3Hc
Part 7 : https://t.co/2MfDxf3aeH
Part 8 : https://t.co/QWhmUbcb74
Part 9 : https://t.co/fUt8sfbMWn
Part 10 :
https://t.co/SSWSew8JHa
Part 11 :
https://t.co/n6EmUqxOja
PERANG TANAH DANYANG
Part 6 - Tanah Para Danyang
Awal mula Perang Para Danyang di masa lalu terungkap. Takdir darah sambara terikat di masa itu
#bacahoror