Penulis Cerita Horror, Urban Legend, Misteri, Kisah leluhur.
( update tiap #malamjumat )
Business inquiry : 0882 0056 04288 (WA)
index cerita di link di bawah
AROMA BAKA (3) - UANG KOIN
Sepasang tukang pijat tunanetra yang mampu mencium aroma kematian terlibat dalam misteri tumbal uang koin setelah roh seorang anak perempuan korban pesugihan mengikuti mereka, membawa petunjuk menuju sosok dermawan palsu yang menjadikan anak-anak kecil sebagai persembahan gaib.
@bacahorror #malamjumat
[UPDATE @karyakarsa_id ]
MANTARAYUDA
Part 2 - Hidup dan Mati
"Di desa kami, kematian bukan akhir, Mas…"
Tubuh mereka dikubur. Tapi jiwa mereka tak pernah pulang.
https://t.co/fXHwQLp9i3
@coffebit Cicilan motornya cari yg 700rbuan, nyicilnya di ksm bca/mandiri/koperasi bunganya selisih jauh sama leasing reguler..
Jadi masi make sense 1,6jt buat cicilan sisanya buat hidup.
Lahir dan besar di jkt, merantau karna kerjaan.. Semenjak jadi penulis, aslinya bisa kerja dr mana aja. tp sekarang disuruh balik menetap di jakarta lagi, nggak dulu deh.
Banyak kota yang lebih nyaman. Tapi kalau kalian mau cari penghasilan, jakarta masih masuk akal kalau siap dengan segala tingkat stressnya.
[UPDATE @karyakarsa_id ]
MANTARAYUDA
Part 2 - Hidup dan Mati
"Di desa kami, kematian bukan akhir, Mas…"
Tubuh mereka dikubur. Tapi jiwa mereka tak pernah pulang.
https://t.co/fXHwQLp9i3
SMANSA Cirebon bikin film pendek musikal berdurasi 23 menit yang nampaknya terinspirasi dari film AADC / Rangga & Cinta. Dan... BAGUS BANGET!!! ❤️
Tambahan lain, film ini disutradarai dan koreografernya adalah murid kelas 12! 😳
Terima kasih sudah membaca cerita ini hingga selesai. Mohon maaf apabila ada salah kata atau bagian cerita yang menyinggung.
semoga cukup menghibur buat yang kangen sama kisah Naya dan Sekar.
buat temen-temen yang pengen baca cerita lain, ada cerita satu kali tamat di karyakarsa dan cerita baru Mantarayuda.. semoga berkenan buat mampir ya.
Mantarayuda Part 1 : https://t.co/yaGljAaMCZ
Rogo Inang (Sekali Tamat):
https://t.co/fPRONEQY8r
EPILOG
Pagi itu, mereka bersiap untuk pergi.
Vespa Cahyo sudah dipanaskan sejak subuh. Prosesi ritual panjang yang melibatkan banyak korek api, beberapa kata yang tidak pantas diucapkan di dekat anak kecil, dan satu tendangan keras yang entah bagaimana selalu berhasil menghidupkan mesinnya.
Danan mengecek motor. Naya sudah di belakang, tas kecil tersandang, tangan siap menggenggam bagian belakang jaket Danan.
Sekar berdiri di depan rumahnya. Memegang bungkusan berisi rawon untuk perjalanan.
“Yang versi Sekar,” tegasnya. “Bukan versi Cahyo.”
“Sering-sering mampir,” kata Sekar. Kalimatnya pendek. Tapi dari cara ia menyerahkan bungkusan itu, dari cara tangannya menyentuh tangan Cahyo sedetik lebih lama dari yang diperlukan, ada lebih banyak yang diucapkan dari yang terdengar.
“Nggak janji,” kata Cahyo. Tapi senyumnya mengatakan hal lain. Terlihat ia pura-pura jual mahal, namun saat Sekar pura-pura buang muka, gantian cahyo yang kebingungan.
Paklek sudah berangkat lebih dulu. Ada kabar dari gudang tebu yang membuat ia harus cepat kembali ke Klaten.
Pak Sardi berdiri di ujung jalan desa. Di tempat yang sama di mana ia biasa berdiri setiap pagi. Tidak melambaikan tangan. Ia hanya menatap orang-orang yang pasti akan kembali ke desanya. Desa yang sudah menjadi rumah mereka juga.
…
Di tanjakan pertama setelah keluar desa, Cahyo berhenti. Ia masih merasa berat meninggalkan desa Windualit.
Danan mengerem di belakangnya.
“Kenapa?”
Cahyo tidak menjawab langsung. Ia menoleh ke belakang. Ke desa yang mulai mengecil di bawah mereka. Ke atap-atap yang berkilau terkena matahari pagi. Ke sawah-sawah hijau. Ke jurang dan jembatan. Ke hutan di kejauhan yang dari sini terlihat seperti hutan biasa.
“Nan.” Suaranya berbeda dari biasanya. Bukan Cahyo yang meledek atau bercanda. Cahyo yang sedang berpikir. “Kamu pernah mikir… kenapa ada desa di tempat seperti ini?”
Danan memandang ke arah yang sama.
Windualit. Desa kecil di tengah Jawa yang terisolasi oleh jurang dan hutan. Yang seharusnya tidak pernah menjadi tempat nyaman untuk dihuni. Tanah sulit dijangkau. Hutan terlalu dekat. Air harus dicari jauh.
Tapi desa itu ada. Sudah ada selama generasi yang tidak bisa dihitung.
Dan sekarang, setelah semua yang mereka lihat, Danan mulai memahami mengapa.
“Mungkin Desa Windualit bukan desa yang dibangun karena orang butuh tempat tinggal,” kata Danan pelan.
Cahyo mengangguk. Masih memandang ke belakang.
“Mereka ada di sini karena seseorang harus ada di sini.” Danan membiarkan kalimat itu menggantung sesaat sebelum melanjutkan. “Seseorang harus tinggal di dekat Alas Mayit. Menjaga perbatasan antara apa yang ada di dalam hutan itu dan dunia di luarnya.
Bukan dengan keris atau mantra. Tapi dengan kehadiran. Dengan kehidupan, dan dengan doa-doa yang diucapkan setiap waktunya..”
Naya, dari belakang Danan, menyusul perkataan Danan.
“Bisa jadi Desa Windualit bukan desa biasa. Ia seperti benteng. Benteng yang menjadi batas antara alas mayit dengan dunia luar.”
Cahyo menghela napas. Panjang dan lambat.
“Berat ya, jadi warga desa sini,” katanya.
Danan memandang desa itu satu kali lagi.
Orang-orang yang tinggal di sana. Pak Sardi, Para petani yang sawahnya berbatasan dengan hutan terkutuk. Ibu-ibu yang memasak dengan dapur yang menghadap kegelapan. Anak-anak yang bermain di jalanan yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari makam paling mengerikan di seluruh pulau Jawa.
Mungkin tidak mengetahui sepenuhnya apa yang mereka jaga. Mungkin hanya merasakan, seperti berat yang tidak bisa dijelaskan, seperti tugas yang diwariskan tanpa kata-kata, dari generasi ke generasi, tanpa satu pun dari mereka pernah menyebutnya sebagai panggilan.
Tapi mereka tetap tinggal.
Itulah yang membuat mereka lebih berani dari siapa pun yang pernah Danan temui.
Ia membalikkan motor. Memacu mesinnya. Cahyo mengikuti, Vespa tuanya meraung dengan protes yang sudah sangat familiar.
Mereka meninggalkan Desa Windualit di bawah matahari pagi yang hangat. Dengan angin yang membawa bau sawah dan rumput basah. Dengan suara anak-anak yang perlahan menghilang di balik kelokan jalan.
Dan di balik dinding hijau yang baru ditanam, Alas Mayit menunggu dalam kegelapannya yang kuno dan sabar.
Menunggu hari ketika kutukan itu akhirnya bisa diangkat. Atau hari ketika Prabu Rejomayit memutuskan bahwa ia sudah cukup lama menunggu.
***
— TAMAT —