Penulis Cerita Horror, Urban Legend, Misteri, Kisah leluhur.
( update tiap #malamjumat )
Business inquiry : 0882 0056 04288 (WA)
index cerita di link di bawah
KAMPUNG KHODAM
Part 1 - Kampung Pinggiran
Niat Danan untuk membantu tetangga Fira ternyata berujung pada fakta bahwa kampung itu dikuasai oleh beberapa orang besar yang melakukan perjanjian gelap..
#bacahorror@bacahorror@ceritaht@IDN_Horor
Ada kabar baik. Ada penerbit major yang mau mewadahi cerita2 Jagad Segoro Demit. Jadi buku berikutnya bisa dihandel sama editor penerbit, cetakan dan ilustrasi yg lebih berkualitas..
Kira2 untuk berikutnya, judul apa yang pengen dipegang buku cetaknya?
Terima kasih sudah membaca part ini hingga selesai. Mohon maaf apabila ada salah kata atau bagian cerita yang menyinggung.
Buat temen-temen yang mau baca kelanjutannya duluan atau sekedar support, bisa mampir ke @karyakarsa_id atau lynk id ya :
Link Karyakarsa :
https://t.co/hSG4YsL1sP
Link Lynk id :
https://t.co/trPV9cf0hB
KAMPUNG KHODAM
Part 1 - Kampung Pinggiran
Niat Danan untuk membantu tetangga Fira ternyata berujung pada fakta bahwa kampung itu dikuasai oleh beberapa orang besar yang melakukan perjanjian gelap..
#bacahorror@bacahorror@ceritaht@IDN_Horor
Tatapannya berhenti pada sebuah jendela di rumah bertingkat. Seorang kakek yang terlihat masih bugar berdiri di sana, seolah sedang mengawasi keadaan kampung.
“Itu Pak Rompas. Punya dua anak, tapi dua-duanya cacat,” bisik Fira.
Danan tidak heran mendengar hal itu.
Di dekat Pak Rompas, ia melihat dua sosok perempuan berwarna hitam yang terus mengikutinya.
Namun, rasa heran Danan belum berhenti sampai di situ.
Tatapannya berpindah ke sebuah warung tua yang sudah tutup. Mata batinnya menangkap sosok pocong setinggi tiang listrik berdiri di sana.
Dari balik jendela warung, terlihat sepasang suami istri sedang membungkus tubuh mereka dengan kain kafan. Keduanya melakukan sebuah ritual dengan wajah penuh kecemasan, seolah takut sesuatu akan datang menjemput mereka.
“Kau sudah tahu kondisinya?” tanya Pak Rohim.
Danan mengangguk.
“Sudah menebak siapa pelakunya?”
“Mungkin…”
Fira memperhatikan percakapan Pak Rohim dan Danan. Ia tidak berani menyela. Apa yang mereka bicarakan sama sekali bukan ranahnya.
“Yang bisa kami lakukan cuma nggak berurusan dengan mereka,” ucap Pak Rohim.
Ia kemudian melangkah meninggalkan Danan dan kembali menuju rumah Burhan.
Danan mengikutinya.
“Kenapa mereka dibunuh, Pak? Ada masalah apa antara keluarga Burhan dan mereka?”
Pak Rohim menghela napas panjang.
“Nggak tahu pasti, Mas. Mulai dari masalah sepele karena ada yang menyinggung mereka, sampai masalah yang mungkin melibatkan seluruh warga kampung ini…”
“Masalah apa, Pak?” Fira mulai cemas.
“Neng Fira tahu, kan, kampung kita akan digusur?”
“Memang jadi, Pak?”
“Uang ganti ruginya besar. Warga di sini sudah semangat,” jelas Pak Rohim kepada Danan.
“Tapi Burhan dan cukup banyak warga lainnya nggak setuju. Alasannya, ada makam leluhur mereka di sini. Mereka nggak mau kampung ini digusur.”
Danan menggeleng pelan.
Ia mulai sadar bahwa masalah di kampung ini jauh lebih pelik daripada yang ia bayangkan.
“Kemarin Burhan sudah mengumpulkan tanda tangan untuk petisi warga. Harusnya besok dia menyerahkannya kepada penanggung jawab. Tapi…”
Pak Rohim menggeleng.
Ia tidak melanjutkan kalimatnya. Pria itu kembali berpaling dan berjalan menuju rumah Burhan seorang diri.
Danan terdiam sejenak, mengamati keadaan sekitar. Dengan masalah sebesar ini, mungkin hal buruk yang lebih besar masih akan terjadi.
"Baiknya kamu tinggal di mess kantor dulu aja, Fir. Kampungmu lagi nggak aman," ucap Danan.
"Kamu serius? Seenggaknya jelasin dong, nggak amannya di mana?!"
Danan memandang sekelilingnya. Ia melihat sisa-sisa bola api melayang-layang menuju satu rumah, bola api yang telah menghanguskan kepala Burhan dan anggota keluarganya.
Baru sedikit yang ia lihat dari kampung ini: pernikahan dengan setan, pengasihan sang janda, perjanjian dengan anak gaib, hingga sihir kafan. Kampung ini jelas bukan kampung biasa.
"Mungkin nggak lama lagi akan hal yang lebih buruk terjadi di kampung ini…" ucap Danan.
“Perang Khodam…”
***
(Bersambung Part 2)