🚨 LEO MESSI RESMI PENSIUN DARI TIMNAS ARGENTINA 🇦🇷
Setelah melalui banyak pertimbangan sejak final, Lionel Messi memutuskan untuk mengakhiri perjalanan 20 tahunnya bersama Timnas Argentina.
Messi mengaku keputusan ini sangat menyakitkan, tetapi ia yakin inilah waktu yang tepat. Ia menegaskan bahwa dirinya selalu memberikan segalanya untuk seragam Argentina, baik sebelum maupun setelah era kejayaan yang membawa mereka meraih berbagai gelar.
“Tidak banyak waktu yang tersisa dan beberapa babak mulai berakhir. Ini adalah salah satu yang paling menyakitkan. Saya mencintai, pernah mencintai, dan akan selalu mencintai menjadi bagian dari tim nasional.”
Messi juga menyebut generasi muda Argentina yang mulai bermunculan layak mendapatkan kesempatan. Ia berterima kasih kepada para penggemar, keluarga, pelatih, rekan setim, serta seluruh pihak yang menemaninya sepanjang perjalanan.
Ia meninggalkan timnas dengan rasa damai dan bangga, setelah bersama rekan-rekannya mewujudkan mimpi yang dahulu terasa mustahil.
“Terima kasih Tuhan karena telah menjadikanku orang Argentina. Vamos Argentina!”
Messi menulis pernyataan tersebut pada 21 Juli, dua hari setelah final. Setelah apa yang terjadi dengan ayahnya, ia mengaku semakin yakin dengan keputusan tersebut. 😭😭
🚨| Even while Messi was dealing with everything, a famous footballer was allegedly pushing a coordinated media campaign targeting Messi and Argentina during the World Cup.😳
NEVER FORGET.❌
TERLALU BANYAK MULUT UNTUK TERLALU SEDIKIT PRESTASI.
Sebelum semifinal dimulai, Ian Wright berkata Argentina tidak semenakutkan Prancis atau Spanyol.
John Terry merasa Inggris unggul kualitas pemain di setiap lini.
Gary Neville dengan yakin mengatakan ia tak melihat kemungkinan Inggris gagal mencetak setidaknya dua gol.
Joe Cole bahkan sesumbar, "Messi akan kami tidurkan," lalu menutupnya dengan keyakinan bahwa Inggris akan bermain di final.
Empat mantan pemain. Empat pernyataan penuh keyakinan. Empat prediksi yang akhirnya runtuh dalam 90 menit.
Argentina tidak membalas lewat konferensi pers. Tidak sibuk berdebat di studio televisi dan podcast.
Mereka membalas dengan cara yang paling menyakitkan: MEMENANGKAN PERTANDINGAN DI LAPANGAN.
Yang lebih ironis, Ian Wright, John Terry, Gary Neville, dan Joe Cole bahkan tidak pernah sekalipun merasakan bermain di semifinal Piala Dunia sebagai pemain.
Namun mereka begitu percaya diri meremehkan Messi yang sudah berkali-kali mencapai semifinal, menjadi juara dunia, dan sekali lagi membuktikan mengapa lambang bintang itu bukan sekadar hiasan di dada.
Ketika Enzo Fernández mencetak gol kemenangan, ia merayakannya dengan TOPO GIGIO.
Tidak perlu pidato panjang. Tidak perlu balasan di media. Selebrasi itu sudah menjelaskan semuanya.
Di sepak bola, rasa hormat tidak lahir dari mikrofon.
Rasa hormat lahir dari panggung terbesar, saat tekanan mencapai puncaknya.
Argentina kembali membuktikan bahwa sejarah, mental juara, dan kualitas tidak bisa dikalahkan hanya dengan omongan.
Jadi untuk Ian Wright, John Terry, Gary Neville, dan Joe Cole: lain kali, simpan dulu sesumbarnya sampai peluit akhir berbunyi.
Karena ketika pertandingan selesai, yang tertawa bukan mereka yang paling banyak bicara—melainkan mereka yang kembali berjalan menuju final Piala Dunia.