Modus orang nyantet itu beda2 ya. Cm baru yg ini tuh yg paling aneh. Pengen supaya ‘ramalan’ dia terjadi. Jd segala kegalauan hati dia disebar ke mana-mana. Gak tau tujuannya buat apa. Galau dan risau mah beresin sendiri woi.
@myyangzi@sisthaaaaa Orang US memang agak lebih arogan, tp wilayah mereka juga besar. Kita travel dari west coast ke east coast aja kulturnya dah beda banget. Sbnernya sm kyk Indo sih, budaya Aceh sm Papua udah beda banget kan.
Ya sepertinya akun ini bakal dibuka kembali untuk bahas urusan dunia sebelah lagi. Jujurly, terpaksa soalnya capek sebenernya, pengennya ngurusin diri sendiri aja. Cuma kalo kelompok sana aktif gerilya nyebarin yg kgk bener, dan makin byk yg terpengaruh, kita jg yg bakal susah.
Satu hal yg pasti, emosi yg lu rasain, itu asalnya dr mana. Bukan dilepas atau digenggam. Aplg dibuang. Jadinya ngerasa suci, kagak sadar bagian diri lain lagi pergi keluar ngerusak hidup orang.
Lightworker & darkworker itu ada di dalem diri lu orang. Gak usah jauh2 bilang perang sana perang sini. Cek aja, seberapa korup itu pikiran yg lu bohongin selama ini. Merasa diri lu udah putih dengan berbagi ke sesama, lupa ngurusin diri.
Nah keren ini... Masa lalu adalah sebuah proses yang pernah dilewati untuk mencapai ke hari ini. Kadang netizen korek2 masa lalu (kayak 5 tahun lebih yang lalu) untuk dihujat. Padahal ya mungkin saja dia sudah bertobat. Wong Presiden dalam 10 tahun aja berubah drastis kan.
TWIT-TWIT LAMA
Dulu 12-15 tahun yang lalu sebelum jadi pejabat publik, saya memang aktif bermain Twitter (sekarang X). Sebagaimana nature-nya platform tersebut, saya berekspresi secara bebas. Kadang penuh kritik pedas, kadang nyindir, sering juga nyinyir. Sering saya katakan di mana-mana, dulu saya adalah netizen yang marah—bahkan julid.
Tapi kemudian takdir membawa saya ke proses hidup yang lebih kompleks. Pada gilirannya Allah menakdirkan saya menjadi pejabat publik, dari walikota sampai gubernur. Saya giliran balik dikritik, disindir, dinyinyiri di media sosial. Saya sering melihat diri saya yang dulu, netizen yang marah tadi. Bikin saya tersenyum dan sadar.
Konon setiap orang akan melewati fase-fase jadi tukang protes, anak muda yang rebel penuh kritik dan sinisme. Tapi semua orang juga berproses, harus menjadi lebih bijaksana dan tahu diri.
Ibarat anak-anak yang selalu protes pada orangtuanya, remaja yang rebel, pemuda yang kritis dan sinis, pada saatnya akan jadi orangtua yang melihat dari sudut pandang yang berbeda. Yang akan bilang pada dirinya sendiri, "Oh gitu ya saya dulu", dan "Ternyata begini rasanya di posisi ini."
Bagaimanapun, untuk twit-twit saya yang lama, saya akui dulu saya kurang bijak dan mungkin kurang literasi—bahkan kurang sopan. Saya mohon maaf jika ada pihak-pihak yang tersakiti, terkritik, tersindir, atau terhina dengan cara saya berekspresi. Semoga saya bisa lebih baik lagi ke depan. 2017-2018 saya pernah meminta maaf tentang hal-hal ini. Saya banyak belajar.
Saya tidak membela diri atau berusaha membenarkan. Itu memang saya yang dulu, saya yang kurang bijak.
Semua orang pernah protes, tapi proseslah yang akan membuatnya sukses. Katanya masa lalu tidak akan mengubah masa depan, tapi sebaliknya.
Maafkan aku yang dulu. Mari kita move on.
Ridwan Kamil
@BACOTINAPAAJA@biolahitam@newsplatter Tetep edukasi ya mas. Soalnya semakin org Indo ga percaya, semakin lemah kekuatan negatif nya 🙏🏻 Semakin menguntungkan buat orang2 yg emang peka sm energi2 begini.
@galadrielcons77 @DeniAgah I’m thankful uda dibantu sama temen2 yg peduli. Thankful masih bs sadar. Masih dicintai Tuhan dan para Dewa (dan para Leluhur tentunya).
2013, I mentioned about building a web studio built by designers not developers.
2020, when it happened.
It took me 7 years, to start building. And in that 7 years, where all the foundation work being laid.
Not by me, but by the Universe.