Senyapnya bicara melalui sorot matanya, seolah menyimpan ribuan diksi yang tak terucap. Sosoknya semacam nyanyian bisu di sela denting meja biliar dan cahaya kuning usang.
Hadir dari kabut tipis antara mimpi dan lupa, seraya membawa aroma rahasia yang tak bisa kau buka. Ia tak meminta dikenang, hanya hadir seperti syair yang tak purna—meluruh perlahan dalam lengang, menyisakan desir di dada yang enggan reda.
Untuk bahagia, tak perlu mantra:
❶ Abaikan yang gemanya tak bermakna,
❷ Teguk hening, kunyah cukup.
❸ Lalu, senyumlah! Langit pasti luluh karenanya.
Siap menghamparkan langkahmu hari ini? 🍀
Ia melintas dalam bayang, bukan untuk singgah, tapi sekadar menyibak batas antara wujud dan ilusi. Ia bagai kutukan manis—lembut nan membius. Matanya teduh, namun mengandung gema yang tak tahu jalan pulang.
Diselubung cahya kota yang muram, ia membatu dalam hening yang nyaring. Tatapnya menelisik celah realitas, seolah menyimpan sabda purba. Bukan hadir, melainkan menjelma: tenang, namun tak tersentuh.