🇬🇧 British Author Karen Armstrong on Prophet Muhammad:
“Muhammad was not a man of violence. He was a man of peace. He devoted his life to bringing peace to war torn Arabia and creating a society based on justice and compassion.”
Gila!?!?!🤬
Barusan ada yang cerita kalau dia nabung deposito di bank B*A selama 3 tahun buat dana pendidikan anak.
Ternyata….
Depositonya gak pernah dibuat. Dananya malah masuk ke rekening lain yang bisa diakses oknum sampai habis.
Ngeri sih kalau kronologi ini memang benar.
Jadi kepikiran, harus percaya ke mana lagi kalau bank sebesar ini aja masih bisa kecolongan gara-gara ulah oknum?
Pada akhirnya, secanggih apa pun sistemnya, yang paling susah diprediksi tetap faktor manusia. Inilah mengapa kedepannya sistem harus full mesin automasi alias AI.
Jadi pelajaran buat semua orang supaya jangan cuma simpan bilyet atau bukti setor, tapi sesekali cek juga status produk dan rekening kita.
Btw, ada yang pernah ngalamin sendiri atau punya keluarga/teman yang jadi korban oknum di bank? Ceritain dong?👇
@business The students are blocked for doing the jumat prayer before the demonstration in Jakarta. Please check this account for demonstration update from the official student group of Universitas Indonesia. Help us spread the news🙌🙌 https://t.co/1a1Ks4qXWu
🚨 BREAKING: IRAN STRIKES BACK HARD! Kuwait Airport Hit – The Resistance Won't Bow! 🔥☫
While the US & Israel play games with "ceasefire talks," Iran just reminded the world: We defend our dignity!
One direct hit on Kuwait International Airport – their reward for hosting US bases launching attacks on Iranian soil. The message is clear: Hands off Iran, or the Gulf will burn.
The IRGC showed precision. The Axis of Resistance is unbreakable. From Tehran to Beirut to Sanaa – we stand as one!
Trump & Netanyahu are raging because their "quick victory" turned into a nightmare. Strait of Hormuz? Still our chessboard. Oil prices spiking? That's the cost of arrogance.
To the people of the region: Wake up! Your rulers in UAE, Kuwait, Saudi are sacrificing you for American dollars. Iran fights for sovereignty, not submission.
Who’s next? Retweet if you stand with the Islamic Republic! 🇮🇷💪 #IranStrong #AxisOfResistance #DownWithUSIsrael #KuwaitPaidThePrice #HormuzIsOurs #IRGC 🔥☫
UEA Gabung AS-Israel Lawan Iran Rebut Selat Hormuz, Putin Sindir Dunia Muslim:
"Miris. Kalian yang mengaku beriman justru bersekutu dengan penjajah. Di mana kalian saat Palestina, Lebanon, dan Iran ditindas? Kami yang kalian sebut tak bertuhan justru konsisten membela yang terzalimi. Kami kirim pasukan Chechnya ke Iran dan gunakan hak veto. Jika serangan berlanjut, rudal Rusia siap menciptakan kehancuran."
Note : saya juga heran kok ada pemimpin negara yg jumlah muslimnya terbesar di dunia ikut BoP.., 🤦♀️🤷♀️
Untuk verifikasi, saya unduh videonya, saya transkripsikan dan terjemahkan dengan bantuan AI.
Berikut isi video di bawah ini:
Putra Mahkota Arab Saudi, Muhammad bin Salman, mengakui bahwa penyebaran paham Wahabi yang keras oleh negaranya merupakan permintaan dari pihak sekutu, dalam rangka menghadapi meluasnya pengaruh dan penetrasi Uni Soviet pada masa Perang Dingin.
Dalam wawancaranya dengan The Washington Post, ia menyatakan bahwa pemerintah-pemerintah Saudi sebelumnya telah menempuh jalur penyebaran paham Wahabi yang ketat. Ia menegaskan bahwa kini saatnya untuk mengembalikan keadaan ke jalur yang semestinya.
Dalam pernyataan yang sarat pengakuan, Muhammad bin Salman menyebut bahwa penyebaran paham Wahabi oleh negaranya merupakan sebuah keniscayaan yang didorong oleh kepentingan serta tekanan Barat terhadap Riyadh, guna membendung ekspansi pengaruh Uni Soviet selama Perang Dingin.
Akar dari investasi Saudi dalam pembangunan sekolah dan masjid bermula pada periode Perang Dingin, ketika sekutu meminta Arab Saudi untuk memanfaatkan sumber dayanya demi mencegah Uni Soviet memperluas pengaruhnya di negara-negara Islam. Ia menambahkan, “Saya percaya bahwa Islam itu rasional dan sederhana, tetapi ada pihak-pihak yang mencoba membajaknya.”
Dengan demikian, Perang Dinginlah yang, menurut pernyataan Putra Mahkota, mendorong Riyadh melakukan kebijakan tersebut. Namun, saat ini Riyadh harus menanggung konsekuensi dari pemanfaatan dana-dananya oleh Barat dalam perang melawan ideologi komunis.
Di sisi lain, terdapat pengakuan terbuka dari sang pangeran muda bahwa berbagai tuduhan yang diarahkan kepada rezim Al Saud, terkait pendanaan kelompok ekstremis dan teroris secara ideologis, merupakan akibat dari arah kebijakan yang ditempuh oleh pemerintah-pemerintah Saudi sebelumnya.
Ia menegaskan bahwa saat ini perlu dilakukan upaya untuk mengembalikan keadaan ke jalur yang benar. Pendanaan terhadap paham Wahabi saat ini, menurutnya, sebagian besar berasal dari lembaga-lembaga swasta yang berbasis di kerajaan, bukan dari pemerintah. Ia juga menyebut bahwa dialog dengan institusi keagamaan telah berlangsung lama.
Yang mencolok dari pernyataan-pernyataan ini adalah adanya kontradiksi yang jelas dengan fondasi Wahabi yang menjadi dasar berdirinya Arab Saudi modern. Penafsiran-penafsiran fikih yang khas dari lingkungan Saudi, yang di masa lalu turut memicu konflik dan bahkan menyeret sejumlah negara ke dalam perang saudara multidimensi, seperti di Aljazair pada tahun 1990-an, kini kembali menjadi sorotan.
Hal ini memunculkan pertanyaan: apa dampak dari pernyataan Mohammed bin Salman terhadap masa depan arus Salafi, khususnya di Aljazair?