Agar penduduk Borneo bisa menyentuh 100 juta, lahan pertaniannya juga harus massif. Udah itu full irigasi dengan produktivitas tinggi.
Supaya bisa memberi makan rakyatnya.
Masalahnya, Borneo itu kurang subur untuk pertanian.
Lahannya kebanyakan gambut dan penuh asam, ga cocok buat bikin sawah dari padi.
Medannya juga berat karena berisi rawa-rawa dan hutan hujan lebat.
Untuk bisa diisi oleh 100 juta penduduk, bisa jadi ada deforestasi dan pengeringan rawa secara sistemik.
Auto hancur itu ekosistem Borneo. Ga ada lagi orang utan, ga ada lagi burung rangkong. Isi pulau kalau ga kebakaran lahan ya banjir bandang.
Serius deh, daripada mendorong banyak anak (yang tidak berarti mendorong kualitas).
Mending bagusin SDM Borneo, khususnya penduduk asli seperti Banjar, Melayu, Dayak, Kutai, Tidung dsb.
Buat mereka jadi pengusaha kaya, profesional terkemuka dan politisi berpengaruh sehingga Borneo tidak dianggap remeh lagi.
Source gambar : https://t.co/Sh3h5fZXQZ
kutbah jumat ini menyinggung fenomena suic1de beruntun di malang. ada satu kutipan khatibnya membekas.
“kita sudah gagal sebagai sebuah masyarakat saat lebih peka terhadap issue sosmed,
alih-alih pada tetangga yang mulai merasa dinginnya, tingginya besi jembatan menenangkan.”
@Dessy_Sebastian@angga_fzn Kadang denger orang ada yg kepengen punya anak kek keren banget kamu bisa ada keinginan punya anak dengan segala ketidakpastian ini
Tidak ada pekerjaan yg mudah, tapi menjadi pengangguran pun tidak enak.
Menikah itu rumit, tapi melajang pun tidak selamanya menyenangkan.
Merantau itu berat, tapi diam di rumah pun juga tidak mudah.
Belajar itu melelahkan, tapi kegagalan pun sama sekali tidak indah.
Mempertahankan hubungan itu sulit, tapi memutuskannya pun bukan berarti lega.
Bahkan proses memantaskan diri menjadi lebih baik itu jalannya terjal, namun diam stagnan di tempat pun bukan pilihan yang tepat.
Pada akhirnya, setiap jalan itu melelahkan. Namun, jiwa cerdas yang sesungguhnya adalah keberanianmu untuk memilih lelah yang memang pantas diperjuangkan.
Dear Gen Z,
Buat kamu yang sudah mati-matian nyelesain pendidikan, pontang-panting cari kerja, sampai rela ikut bootcamp dan magang gratisan buat nambah pengalaman, bahkan harus keluarin uang lagi cuma buat memoles CV supaya dilirik perusahaan.
Kamu yang berbulan-bulan berjuang, akhirnya diterima kerja.
Tapi ternyata tempat kerjanya toxic dan punya atasan yang bikin mental breakdown.
Setiap hari harus desak-desakan di transportasi umum, berangkat subuh, pulang malam, kamu tetap bertahan. Karena kamu tahu, cari kerja sekarang susahnya bukan main.
Semua dijalani demi gaji yang sebenarnya nggak seberapa, mengingat harga-harga sekarang semua serba mahal.
Kamu lalui hari-harimu sambil pura-pura kuat, meski kadang duduk di pojokan buat nenangin kepala yang rasanya mau pecah.
Saat terima gaji, kamu merasa senang tapi sedikit mengelus dada, karena nominalnya berkurang agak lumayan akibat potongan pajak.
Kamu coba ikhlas sambil berdoa, semoga pajakmu benar-benar terpakai untuk pembangunan. Kamu sedikit bangga karena ikut berkontribusi.
Sampai di bulan Januari 2026, kamu baca berita:
Indonesia memutuskan bergabung dengan Board of Peace, dan Indonesia ikut iuran Rp17,9 triliun, uang dari sebagian besar APBN untuk disetor ke Trump.
Ya, sebagian yang disetor itu adalah uang kamu.
Gimana perasaan kamu?