Rintik hujan yang terdengar jatuh di atap disambut Tari dengan seulas senyum manis. Pasalnya, setelah sekian lama, ternyata ia bisa merasakan hujan pertamanya.
Tapi apalah cara menikmati hujan yang lebih baik daripada duduk di teras kosan sambil memetik gitar.
⁀➷ Menyusul setelahnya adalah selembar tisu yang dengan lembut menepuk-nepuk area bibir dan dagu dari pemuda berambut panjang itu, sebuah usaha untuk menyingkirkan sisa-sisa air dari wajahnya.
"Lu minum sama siapa?" @aeternaes
⁀➷ setelah Tari menyaksikan sahabatnya itu menghidrasi diri sendiri dengan penuh semangat. Tak ayal tangannya menepuk-nepuk pelan bahu sang pemuda sebagai tanda apresiasi.
"Bikin anak gue mah," canda sang puan. Botol air yang sudah kosong dijauhkan dari mulut Azza. ⁀➷
⁀➷ Azza, dari yang semula membungkuk dengan kepala tertanam di atas meja jadi bersandar di senderan sofa yang empuk. Tari juga merapihkan pakaian Azza, setidaknya jangan ada bagian yang tersingkap yang mengekspos kulit di baliknya.
"Bisa minum, gak?" kemudian, layaknya ⁀➷
⁀➷ menyamarkan mabuknya si Gentari muda.
"Dih. Beneran mabok nih anak. Nabrak orang ga lu tadi?" tanya Tari yang matanya tak berhenti menatap Azza, hendak memastikan bahwa yang bersangkutan baik-baik saja. Rasa kesal dan khawatir tersirat kental dalam suaranya. @aeternaes
@aeternaes "...Azza!"
Tari memanggil si pirang, masih dalam posisi duduknya. Jarak beberapa meter yang memisahkan meja dan daun pintu yang membuka—lonceng kecil yang digantung di atasnya berdenting ketika Azza masuk, dari sana lah sang gadis bisa tahu—ternyata belum cukup untuk ⁀➷